Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 17 Cemburu?


__ADS_3

“Sayang gimana keadaan Naya? Dia baik-baik saja ‘kan? Gak sakit parah ‘kan? Awas kalau sampai menantu Mama kenapa-napa! Mama gak akan–” kalimat Luna terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Gavian, putranya.


Sekaligus dokter yang menangani keadaan Anaya.


Padahal ada Darrel, namun pria itu sudah menyerahkan semuanya pada putra keduanya itu dan memilih pensiun dini.


Saat tahu Anaya sakit, Gavian langsung datang kesana. Padahal Ia sendiri sedang bertugas di rumah sakit lain, menggantikan sementara sahabatnya yang sedang cuti.


“Mama tenang dulu ya,” ucap Gavian.


Gavian baru beberapa hari ada di Jakarta. Ia memutuskan untuk kembali ke negara asalnya setelah Darrel memintanya menggantikan posisinya sebagai pemilik rumah sakit.


“Mama bisa gak nanya itu satu-satu. Gak nerocos seperti petasan. Lihat Gavian jadi bingung jawabnya,” sahut Darrel. “Menantu kita cuma demam biasa Ma,” tegasnya. Istrinya memang selalu panik hanya untuk hal-hal kecil yang bahkan tidak perlu dibesar-besarkan.


“Siapa yang nerocos sih Pa. Mama ini sedang khawatir sama menantu Mama, apa salah?” Luna melirik tajam suaminya. “Ini semua pasti karena ulah Abian! Dasar anak nakal itu. Bisa-bisanya nyiksa istri sendiri sampai sakit. Mana sekarang gak keliatan lagi batang hidungnya!”


Bagaimana tidak marah, saat istrinya sedang sakit seperti ini Abian malah tidak ada. Bahkan tidak pulang ke rumah semalam dengan alasan lembur.


Luna hanya takut terjadi sesuatu pada menantunya, jika sakitnya parah bukankah keluarga mereka yang akan disalahkan oleh keluarga Anderson?


Yang dilirik hanya bisa menghela nafas. Sampai kapanpun berdebat dengan istrinya tidak akan pernah menang. “Papa tahu Mama sedang khawatir. Seenggaknya kasih ruang buat Gavian untuk memeriksa keadaan Naya dulu.”


Pria itu menarik lengan Luna dengan perlahan, tak mau menyakiti sang istri, namun langsung ditepis oleh istrinya. “Papa gak usah ngomong dulu sama Mama. Males!” ketus Luna. Mengabaikan Darrel begitu saja.


“Loh kok malah ngambek?”


“Bodo amat!”


Seketika ruangan yang tadinya hening tersebut menjadi nampak ramai dengan pertengkaran kecil mereka berdua. Jika sedang bersama seperti ini, selalu saja ada sesuatu yang membuat sepasang suami-istri itu bertengkar.


“Naya baik-baik saja Ma. Dia hanya butuh istirahat.” Gavian Mengusap punggung wanita paruh baya itu, bermaksud untuk menenangkannya. “Lain kali jangan suruh Naya kerja berat. Dia sepertinya kecapean dan juga mengalami tekanan batin.”


Tatapan Gavian tertuju pada Anaya. Gadis yang tengah terlelap dengan kedua mata terpejam erat. Namun, keringat dingin terus keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


“Apa dia gak bahagia menikah sama mas Abian?” tanya Gavian, menatap kedua orang tuanya bergantian seakan meminta penjelasan. “Atau Mama sama Papa yang ada di balik pernikahan mereka?”


Pertanyaan Gavian benar-benar menusuk tepat sampai ke jantung Luna dan Darrel. Keduanya saling menatap dan menelan saliva nya dengan susah payah, lalu memalingkan wajah masing-masing dengan gelagat yang mencurigakan di mata Gavian.


“Ngawur kamu kalau ngomong! Mana mungkin Mama sama Papa jodoh-jodohin mereka. Iya ’kan Pa?” jawab Luna terbata seraya menyenggol lengan suaminya.


Berharap kalau pria itu bisa diajak kerja sama.


Darrel berdehem pelan lalu menganggukkan kepala. “I-iya, apa yang dikatakan Mama kamu itu benar.”


Bukannya percaya, Gavian malah bertambah curiga. “Ma sebenarnya–”


“Pa, keluar bentar yuk. Mama mau ngomong.” Luna memotong ucapan Gavian. Ia tahu kalau pasti putra keduanya itu memiliki segudang pertanyaan untuknya.


“Mama mau ngomong apa? Kenapa gak disini aja?” Darrel terlihat bingung saat Luna mengedipkan mata, memberi kode padanya.


“Udah cepetan Pa!” Luna langsung menarik tangan suaminya, mengajak pria paruh baya itu pergi dari sana dan menitipkan Anaya sebentar pada Gavian.


Bahkan Gavian rela pergi ke luar negeri dan meninggalkan gadisnya hanya untuk memenuhi keinginan sang ibu saat itu. Luna mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Gavian tidak menurut padanya.


Melihat kedua orang tuanya keluar. Gavian merapikan selimut Anaya. Dipandangnya lekat wajah pucat gadis yang tengah terbaring lemah di atas ranjang. “Sudah lama ya sejak saat itu…” Gavian tersenyum miris. Disisi lain ia kecewa, namun tidak tega melihat keadaan Anaya.


Gavian mengulurkan tangannya untuk mengusap keringat gadis itu. Namun, langsung terhenti saat mendengar suara seseorang yang amat ia kenali.


“Jangan sentuh istriku!” teriak Abian.


Gavian langsung memutar tubuhnya. “Kamu disini Mas?” tanya Gavian, menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Padahal ia memang tahu kalau Abian sedang di sini. Saat memarkirkan mobilnya di basement, Gavian sempat melihat Theo. Tapi kenapa sekarang pria itu merasa seperti maling yang sedang kepergok, karena ingin memeriksa keadaan pasiennya sendiri.


“Mata kamu gak rabun ’kan? Jelas-jelas aku ada di sini!” ketus Abian. Lalu meminta Theo mendorong kursi rodanya, mendekat ke ranjang sang istri. “Ngapain kamu kesini?” tanyanya dengan raut wajah tak bersahabat.


Entah kenapa Gavian tiba-tiba mengambil kesimpulan kalau abangnya sedang cemburu.

__ADS_1


“Mas masih suka bercanda ya.” Gavian terkekeh. Mencoba mencairkan suasana. Dimana sejak masuk tadi, Abian menatapnya dengan tatapan permusuhan.


“Bercanda gundulmu! Memangnya aku kelihatan bercanda, hm?!” Gavian dia membisu. Sedangkan Abian, langsung meraih tangan Anaya lalu menggenggamnya erat. “Sayang, kamu kenapa bisa sakit gini? Kamu pasti kecapean karena semalam kita lembur sampe pagi.”


Uhuk!


Bukan Gavian yang tersedak. Melainkan Theo. Pria itu menganga tak percaya melihat perubahan sikap dingin Abian berubah menjadi lembut seperti ini. Dan jangan lupa di garis bawahi kata sayang yang dia ucapkan.


“Kamu kenapa Theo? Butuh minum?” merasa kasihan, Gavian memberikan segelas air pada Theo agar pria itu meminumnya.


“T-terima kasih Tuan.” Theo langsung meneguknya perlahan dengan kedua bola mata tak lepas dari Abian.


“Cepet sembuh ya sayang, terus kita pulang. Lanjutin bikin dede bayi nya.” Abian bangkit dari kursi rodanya, mengusap kepala Anaya lalu mengecup sekilas bibirnya.


Byur!


Saking shock nya, air yang belum sampai tertelan oleh Theo muncrat dan tepat mengenai wajah Abian. Sontak, membuat pria itu langsung mengusap wajahnya dan melirik tajam ke arah Theo.


“Bosan hidup kamu, Theodore Rafael?” geram Abian, menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Sedangkan Gavian, senyuman di wajahnya luntur seketika mendengar kalimat yang Abian lontarkan untuk Anaya. Tangannya terkepal erat. Namun, karena tak ingin terlihat sedang marah. Gavian menahannya dan berpura-pura santai.


“Pakai ini Mas.” Gavian merogoh sakunya, lalu memberikan sapu tangannya pada Abian.


“Gak perlu! Simpan saja kembali!” tolak Abian. “Setelah istriku sadar, bawa dia pulang Theo! Aku yang akan merawatnya di rumah.”


Lagi-lagi ucapan Abian berhasil membuat Theo membulatkan kedua matanya.


“Dan tanpa penolakan!” imbuhnya.


**Bersambung...


Abian kenapa? Kepanasan?🤣🤭**

__ADS_1


__ADS_2