
“Mau kemana?” tanya Abian. Pria itu menatap Anaya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Sedangkan Anaya, jantungnya berdegup sangat kencang mendapat tatapan seperti itu dari Abian. Apalagi suaminya terlihat semakin tampan dan juga seksi saat tidak mengenakan apapun.
Anaya memalingkan wajahnya. “Aku lapar. Kamu ‘kan kalau sekarang sudah waktunya jam makan siang,” lirihnya seraya menyingkirkan kedua tangan kekar Abian yang sejak. Tadi melingkar di perutnya. Seakan tidak ada niatan untuk melepaskannya sama sekali.
Selesai sarapan pagi sampai sekarang, Abian mengurung Anaya di dalam kamar. Mereka melakukannya sampai jam makan siang tiba.
Padahal, Anaya sudah meminta pada Abian untuk segera menyelesaikannya. Karena sejak tadi terdengar ketukan pintu dari luar, meminta mereka berdua untuk makan siang bersama.
“Aku udah ngasih banyak sama kamu, emang masih kurang, hem?" Abian merengkuh pinggang Anaya lalu mengecup bibirnya sekilas.
Anaya mengernyit bingung. “Kapan ngasihnya? Yang ada kamu malah buat seluruh tubuh aku pegal-pegal dan capek, Bian!”
“Sayang!” tegas Abian tak mau dibantah.
“Iya, iya sayang. Puas!”
Abian terkekeh gemas, lalu menarik Anaya dan membawa wanita itu kembali berada di bawah kungkungannya. “Boleh ya, nambah satu lagi. Biar cepat jadi dedek bayinya. Kasihan ayah udah tua, belum punya cucu dari aku dan kamu!”
“Iya tapi aku--” belum selesai Anaya bicara pria itu sudah memasukkan kembali miliknya. Menggempur Anaya sampai lemas tak berdaya.
Meski sudah berusaha memberontak dan menolaknya, tetap saja sentuhan-sentuhan memabukkan yang Abian lakukan membuat Anaya hanya bisa pasrah. Bahakan berulang kali menyebut nama Abian di sela-sela kegiatan panas mereka.
__ADS_1
“Astaga! Bisa gak pelan-pelan, sakit tau!” Anaya mendorong pelan dada Abian.
Namun, api gairah sudah menguasai Abian. Ia menuli dan tidak mendengarkan apa yang Anaya ucapkan.
Untuk apa tadi Abian meminta izin padanya, jika akhirnya pria itu melakukannya lagi sebelum mendapat jawaban darinya.
“Maaf Nay, udah gak tahan. Habisnya punya kamu enak sih. Menggigit banget.” Abian mempercepat gerakannya, membuat tubuh Anaya terkoyak.
“Apanya yang gigit? Memangnya dibawah sana ada giginya?!” kesal Anaya. Bisa-bisanya Abian bercanda di saat seperti ini.
“Ah, Nay!” lenguhan panjang yang keluar dari bibir Abian, menandakan kalau pria itu sudah mencapai puncak kenikmatan yang hakiki.
Abian mengeluarkan semua benihnya ke dalam sana. Dengan nafas terengah-engah ia ambruk di atas tubuh Anaya. Lalu mengecup kedua mata, hidung dan bibir mungil istrinya berulang kali.
“Terima kasih, sayang.”
Anaya mengangguk. Sepertinya ia juga mulai ketagihan dengan rudal perkasa milik Abian, yang terus membuatnya men de sah tak karuan.
“Aku mandi dulu. Terus siapin makan siang buat kamu. Nanti langsung turun aja ya. Gak perlu nunggu aku panggil kamu.”
“Hmm.” Abian hanya menjawab dengan deheman. Membiarkan Anaya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan ia masih berada di posisi sama dengan bibir cemberut.
Padahal, Abian masih ingin bersama dengan wanita yang sudah membuatnya candu dengan tubuhnya itu. “Awas aja nanti saat kita kembali ke mansion utama. Aku gak akan membiarkan kamu keluar dari kamar sedetikpun!” seringai tipis terukir dari bibir Abian.
__ADS_1
*****
*****
Di kamar yang berbeda, Dion sedang merayu Sandra dan menjelaskan semuanya pada wanita itu apa yang terjadi sebenarnya. Namun, sandra sama sekali tidak mau mendengarnya.
“Aku bilang keluar, Dion! Biarkan aku sendiri!” pekik Sandra, berharap jika suaminya itu segera pergi. Karena dirinya butuh waktu untuk memikirkan semuanya.
“Aku gak akan keluar sebelum kamu memaafkan ku!” Dion meraih tangan Sandra. “Ayo kita kembali ke rumah. Mama dan Papa khawatir sama kamu. Mereka bilang udah gak perlu membahas tentang cucu. Kita bisa--”
“Bohong kalau mereka sama sekali gak menginginkan seorang cucu dan penerus, Dion! Aku takut kalau Mama sama Papa tahu Amara hamil dan mengaku semua karena perbuatan kamu, mereka pasti akan--”
“Kamu mikir apa sih! Amara gak akan berani sayang. Aku jamin!”
Ponsel Dion tiba-tiba saja bergetar, dimana terlihat nama tuan Wijaya di sana.
“Papa?” lirihnya menatap ke arah Sandra dengan perasaan tidak tenang.
“See? Semua ucapan aku bener ‘kan?” Sandra masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Dion sendirian tanpa mempedulikan teriakan pria itu.
“Shits!” Dion mengacak-acak rambut frustasi, lalu mengangkat panggilan dari Papa nya.
Bersambung....
__ADS_1