
Satu minggu telah berlalu, dan hari ini adalah hari dimana pernikahan Anaya dan Abian akan segera dilaksanakan.
Tidak banyak tamu undangan yang menghadiri pesta pernikahan mereka berdua. Semua karena permintaan Abian. Pria itu kurang suka dengan keramaian.
“Cie akhirnya ada yang mau melepas masa dudanya,” sindir Mike yang langsung mendapat lirikan tajam dari Abian. “Padahal aku hanya bercanda kenapa kamu terlihat marah?” Mike duduk di sofa tak jauh dari sana.
“Bercanda mu itu tidak lucu!” jawab Abian singkat.
Jujur saja Abian sedang menahan rasa gugupnya. Meski pernah menikah sebelumnya, Abian masih trauma dengan pernikahannya yang pertama.
Penghianatan yang dilakukan mantan istrinya masih membekas di hatinya sampai sekarang. Bahkan ia tidak pernah berpikir akan menikah lagi secepat ini.
“Tenang saja Tuan, semua pasti baik-baik saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” ucap Theo, mencoba meyakinkan Abian jika kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi.
“Aku harap juga begitu Theo.” Abian melihat arloji di tangan kirinya, dimana waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
“Apa anda sudah siap, Tuan?” Theo menghampiri kursi roda Abian. “Mempelai wanita sudah menunggu anda.” Abian hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Meski sedang duduk di kursi roda, Abian masih terlihat tampan dan gagah dengan balutan tuxedo berwarna putih tulang yang serasi dengan warna kulitnya. Hanya saja satu kekurangannya, pria itu tidak memperlihatkan senyumannya sama sekali.
Sedangkan di sebuah aula bernuansa hitam dihiasi tirai-tirai putih dan lilin-lilin kecil, Anaya sudah berdiri menunggu kedatangan calon suaminya, Abian. Gadis itu memakai gaun yang berwarna sama dengan mempelai pria.
“Kenapa Papa mengundang banyak orang? Abian sudah bilang ‘kan, cukup keluarga kedua belah pihak saja!” kesal Abian. Padahal ia sudah meminta jauh-jauh hari pada Kedua orangtuanya. Tapi ternyata mereka mengingkarinya.
“Mama mu yang mengatur ini semua, Bian. Jadi Papa hanya menurut saja,” jawab Darrel.
“Kok jadi Mama yang salah? ‘Kan mereka kolega dan bisnis Papa!” sentak Luna, tak terima jika suaminya menyalahkan dirinya. “Cuma beberapa orang, ga banyak!” Meski sebenarnya semua memang rencananya.
Luna ingin pernikahan Abian tersebar luas dan sampai ke telinga Sandra mantan istrinya. Agar wanita itu tahu, kalau Abian sudah bisa melupakannya.
“Cukup! Kenapa kalian berdua malah bertengkar?” Abian mengabaikan kedua orang tuanya begitu saja, lalu meminta Theo untuk membawanya ke hadapan pemuka agama.
Abian sudah berada di samping Anaya. Mendengarkan wejangan-wejangan yang di berikan oleh pemuka agama sebelum mengucapkan janji suci pernikahan.
Keduanya sama-sama diam. Abian menatap lurus ke depan, sedangkan Anaya terus menundukkan kepalanya seraya meremas ujung gaunnya.
__ADS_1
Hingga keduanya kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama.
Namun, tak dipungkiri ada banyak tamu undangan yang membicarakan sepasang pengantin itu. Tidak ada tukar cincin juga ciuman. Bahkan mempelai pria langsung pergi begitu saja setelah semuanya selesai.
“Maafkan Abian, sayang.” Luna menghampiri Anaya lalu memeluknya erat. “Mungkin saja Abian masih trauma dengan masa lalunya.”
“Iya Ma, Naya tahu kok,” jawab Anaya dengan tersenyum. Mencoba meyakinkan diri nya sendiri kalau semuanya baik-baik saja.
Berbeda dengan Vania yang terlihat sangat bahagia melihat keadaan Anaya. Karena sepertinya, Abian sama sekali tidak menyukai gadis itu meski setuju untuk menikah dengannya.
“Sebentar lagi penderitaan yang sebenarnya akan segera dimulai,” batinnya, memperhatikan sosok Anaya dari kejauhan. Setelah memberikan ucapan selamat pada Anaya, Vania dan Mario langsung pamit pulang.
“Biar Papa sama Mama yang antar kamu pulang.” Darrel memberi kode pada Luna agar segera mengajak Anaya pergi dari sana.
Andai saja saat ini bukan acara penting, mungkin Darrel sudah memberikan bertubi-tubi pada Abian. Seorang suami yang meninggalkan istrinya sendirian di aula pernikahan.
Abian sudah benar-benar membuat keluarga Alfredo malu!
*******
*******
“Apa aku memang ga pantas bahagia?” lirih Anaya, merenungi nasib buruk yang selalu menimpanya.
“Anda pantas bahagia, Nona.” sahut Theo yang baru saja keluar dari kamar Abian. Lalu menghampiri Anaya yang sedang berdiri di depan pintu masuk. “Selamat malam dan selamat datang.” Theo memperlihatkan senyum paling manisnya pada gadis itu.
Anaya cepat-cepat menghapus air matanya dan menoleh. “O-om, sejak kapan ada di sini?” tanyanya.
“Sejak Nona menangis,” jawab Theo, mempersilahkan Anaya untuk masuk ke dalam, karena diluar sangat dingin.
“Aku ga nangis!” elak Anaya. Padahal Theo dengan jelas melihat kalau Anaya sedang menangis.
“Terus itu air apa Nona? Tidak mungkin ‘kan air hujan?” Theo menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang terus terukir dari sudut bibirnya. Entah kenapa saat bersama Anaya, ia tidak bisa berhenti tersenyum.
“Ga usah bercanda Om, ga lucu!” Anaya menaiki satu persatu anak tangga, mengikuti langkah kaki Theo yang entah akan membawanya kemana.
__ADS_1
“Tapi jujur saja, Nona terlihat cantik saat sedang tersenyum.” Theo mencoba untuk merayu Anaya. Agar gadis itu mau memaafkan kesalahannya juga berniat menghiburnya.
Karena sebenarnya Theo tahu kalau Anaya tidak bahagia dengan pernikahan ini, sama seperti Abian. Tapi, disisi lain Theo yakin kalau Anaya bisa membuat sosok Abian berubah.
“Gombalan Om garing tau ga!” ucap Anaya. Ia menahan senyumnya melihat raut kecewa dari wajah tampan Theo.
“Theo Nona, Theo. Saya belum setua itu, jadi jangan panggil Om,” protesnya yang risih dengan panggilan Anaya.
“Iya Theo, iya. Aku akan–”
Prang!
Belum selesai Anaya bicara, terdengar suara benda terjatuh dari kamar milik Abian. Dengan cepat, Theo langsung berlari dan melihat apa yang terjadi.
“Astaga, Tuan! Apa yang terjadi?!” Theo menganga tak percaya melihat gelas milik Abian terjatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. “Kalau anda ingin minum, anda bisa memanggil dan–”
“Darimana saja kamu? Kenapa lama sekali? Aku menyuruhmu untuk mengambil handuk basah kan?!” tatapan dingin dan datar yang berbeda dari biasanya terlihat di mata Abian.
Entah apa yang sedang terjadi pada pria itu.
“I-iya Tuan, tadi saya ingin mengambilnya. Kebetulan saya melihat nona Anaya dan–”
“Dan menggodanya begitu?” potong Abian. “Apa kamu tertarik pada istriku?” tanyanya, membuat Theo terpojok dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.
“M-maksud anda apa, Tuan? Mana mungkin saya tertarik pada istri anda,” jawab Theo. Tidak mungkin ’kan kalau Abian mendengar semua pembicaraannya dengan Anaya tadi.
Theo mendekati Abian, lalu membersihkan pecahan gelas tersebut. “A-apa anda cemburu, Tuan?”
“Cari mati kamu, hah?! Untuk apa aku cemburu?! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap gadis itu istriku!” Abian berteriak dengan wajah merah padam, menahan emosi. Lalu berbalik dan menjalankan kursi rodanya menuju ke kamar mandi.
“Dasar keras kepala,” umpat Theo.
Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Anaya berdiri di depan pintu tanpa berani masuk ke dalam.
Mendengar apa yang Abian ucapkan dengan menahan rasa sesak di dadanya. “Jadi seperti ini rasanya tidak pernah di inginkan oleh siapapun...”
__ADS_1
Bersambung....