
Setelah bertemu dengan ke 3 sahabatnya, sekitaran jam 7 malam Lisa memutuskan untuk menemui Papanya di hotel, karena biasanya Papanya baru pulang dari hotel sekitar pukul 21.40WIB, untuk itu ia yakin kalau Papanya masih di hotel.
Sepanjang perjalanan Lisa dan Raka hanya diam, mereka berdua tidak berbicara apa pun, Lisa yang hanya fokus menatap sisi jalan dengan membuka sedikit kaca mobil dan Raka yang hanya fokus menatap jalanan.
Lisa sampai di hotel, ia langsung lari ke arah ruangan Papanya di ikuti oleh Raka, saat melihat Papanya yang sedang berdiri dan melihatnya, ia langsung lari dan bersujud di kaki Papanya.
"Pa, Lisa minta maaf karena telah mengecewakan Papa dan Mama, Lisa minta maaf karena sudah menentang Papa dan Mama, Lisa sadar kalau pilihan Lisa salah Pa, tolong maafkan Lisa Pa."
Ardi langsung berjongkok, ia mencoba membangunkan putri angkatnya yang sedang berlutut.
"Bangun nak, apa yang kamu lakukan di depan Papa?"
Ardi bertanya dengan raut wajah kuatir, lelaki yang sudah berusia 47 tahun itu memang sudah menganggap Lisa seperti putri kandungnya sendiri.
Bahkan Ardi juga sudah tau perkara rumah tangga putri angkatnya, walau pun ia tidak setuju kalau putri angkatnya menikah dengan Rafa, tapi itu semua atas perintah dari Bagas, karena ia hanya asisten pribadi Bagas saat itu, begitu pun dengan istrinya.
Walau pun Ardi ingin menggagalkan pernikahan Rafa dan Luna, tapi ia tidak bisa melawan apa yang Bagas katakan, bagai mana pun juga ia tidak berhak atas Lisa, yang berhak atas Lisa hanya Bagas.
Bahkan almarhum ke dua orang tua Lisa juga sudah mempercayakan Lisa pada Bagas, jadi ia hanya meneruti apa kata Bagas.
"Maafkan Lisa Pa, Lisa sadar kalau keputusan Lisa memang salah, Lisa memang anak durhaka, Lisa seharusnya tidak pantas menemui Papa."
Lisa berbicara dengan menolak tangan Papanya yang akan membangunkannya, ia masih tetap berlutut dengan air mata yang mengalir deras, sebenarnya ia malu untuk minta maaf pada Papanya, tapi ia sadar kalau apa yang ia lakukan sangat salah.
"Bangun nak, kamu tidak salah apa-apa pada Papa."
"Tapi Lisa menentang Papa dan Mama, Lisa mentang kalian hanya untuk bersama Rafa, jelas tindakan Lisa itu salah Pa, tolong maafkan Lisa. Hiks... Hiks..."
Ardi langsung menarik putri angkatnya dalam pelukannya sambil menghela napas berat, hatinya sangat sakit saat melihat putri angkatnya menangis di hadapannya.
"Jangan menangis lagi sayang, Papa tidak pernah suka melihatmu menangis, Papa sayang kamu, bahkan Papa sangat senang saat melihat kamu menemui Papa, jadi jangan pernah minta maaf pada Papa."
"Tetap saja Lisa salah Pa, tolong maafkan Lisa Pa."
__ADS_1
"Iya nak, Papa sudah memaafkanmu, jadi berhenti menangis."
Lisa juga langsung membalas pelukannya dan memeluk erat Papanya yang sangat ia rindukan selama ini, dulu ia malu untuk datang ke rumah ke dua orang tuanya, apa lagi sekarang ia lebih malu lagi karena memiliki masalah dalam rumah tangganya.
"Apa yang terjadi nak?"
Ardi bertanya sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putri angkatnya, walau pun ia sudah tau permasalahan apa yang menimpa rumah tangga putri angkatnya, tapi ia tetap pura-pura tidak tau, ia ingin putri angkatnya yang menceritakan sendiri.
"Rafa, menghianati pernikahan kita, Rafa menikahi Luna Pa, dan sekarang Luna sedang mengandung anak dari Rafa. Hiks... Hiks... Ternyata yang Papa katakan memeng benar, jarang seorang lelaki akan menerima wanita mandul seperti Lisa. Lisa pikir tidak akan menyedihkan seperti sekarang karena Lisa bisa menikah dengan lelaki yang Lisa cintai, tapi ternyata tetap saja pada akhirnya Rafa menginginkan keturunan."
"Kamu yang sabar nak, Papa percaya setiap ujian pasti akan ada kebahagiaan, jadi sekarang mau kamu gimana nak? Apa pun keputusan kamu Papa akan selalu mendukungmu, dan ingat, rumah Papa dan Mama selalu terbuka untuk kamu pulang."
"Kenapa Papa masih baik sama Lisa? Hiks... Hiks... Jelas-jelas Lisa sudah mengecewakan Papa dan Mama."
"Papa memang sangat kecewa atas keputusanmu yang kekeh ingin menikah dengan Rafa, tapi bukan berarti Papa membencimu, Papa sangat menyayangi kamu mau pun dulu dan sekarang kamu juga tetap putri Papa. Nak, ingat tidak ada orang tua yang ingin membuang putrinya sendiri sekali pun putrinya sudah mengecewakan."
Lisa langsung memeluk Papanya lagi sambil menghela napas berat, ia memang sangat merindukan pelukan hangat dari Papanya, namun tidak bisa ia pungkiri, pelukan terhangat dari sesaorang hanya lah dari Papa mertuanya.
Lisa merasa terlindungi saat di peluk oleh Papa mertuanya, berbeda dengan Papanya, walau pun pelukannya sangat hangat, tapi tidak sehangat dan senyaman dari Papa mertuanya.
Raka berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum lebar saat melihat Lisa memeluk Ardi. Cukup lama Lisa memeluk Papanya, lalu Papanya mengajak Lisa duduk di safa.
"Jangan menangis lagi nak."
"Pa, Lisa ingin berpisah dengan Rafa, Lisa tidak bisa terus begini saja Pa, hati Lisa sangat sakit, dari awal Lisa sudah bilang sama Rafa, kalau Rafa ingin menikah lagi, lebih baik Lisa di ceraikan oleh Rafa dari pada harus di madu."
"Lalu bagai mana dengan Rafa? Apa Rafa menyetujui permintaan kamu nak?"
"Tidak Pa, untuk itu Lisa menyebarkan semua data perusahaan, Lisa ingin perusahaan Rafa bangkrut, lagi pula saat Lisa memegang perusahaan Rafa, perusahaan itu sedang di ambang kebangkrutan, jadi tidak salah kalau Lisa membuat perusahaan itu bangkrut."
"Itu terserah kamu saja nak, jalan apa pun yang akan kamu ambil, Papa akan mendukungmu."
Lisa hanya menganggukan kepalanya. Setelah saling ngobrol hampir 3 jam, Lisa memutuskan untuk pulang, apa lagi sekarang Papanya juga sudah mau pulang.
__ADS_1
"Nak, pulang ke rumah Papa atau kamu mau pulang ke rumah suamimu?"
"Lisa pulang ke rumah Rafa Saja Pa, tapi nanti Lisa pasti pulang ke rumah untuk minta maaf pada Mama."
"Iya Papa tunggu nak, kamu mau pulang di antar Papa atah pulang bersama Raka?"
"Lisa pulang sama Raka saja Pa."
"Baiklah kalau begitu, ayo kita keluar."
Lisa mengangguk pelan, ia merangkul Papanya dan berjalan ke arah parkiran di ikuti oleh Raka. Setelah di parkiran Ardi langsung memeluk putri angkatnya dan mencium kening putri angkatnya.
"Jangan memikirkan hal apa pun, dan kalau ada apa-apa kamu kabari Papa, jangan pernah memendam perasaanmu seorang diri."
Lisa juga membalas pelukan dari Papanya cukup erat.
"Iya Pa, Lisa tau, sekali lagi Lisa ucapkan terima kasih karena Papa masih memaafkan Lisa dan masih menyayangi Lisa."
"Tidak perlu berterima kasih nak, kamu adalah putri Papa satu-satunya, tentu saja Papa akan selalu mengistimewakan kamu."
Lisa menganggukan kepalanya sambil melepaskan pelukannya.
"Nak Raka, tolong titip Lisa."
"Pasti Om, Om hati-hati di jalan."
"Iya nak Raka."
Ardi langsung membuka pintu mobil penumpang untuk putri angkatnya, begitu pun dengan Raka yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati Pa."
"Tentu kamu juga."
__ADS_1
"Iya Pa."