
Bagas berkali-kali menghela napas berat saat menantunya mencoba melepaskan pelukan dari tadi sambil menangis, hatinya terasa sakit, dari dulu semenjak ke dua orang tuanya meninggal, hanya menantunya adalah satu-satunya kelemahannya.
Bagas bisa kecewa, sedih, marah dan bahagia, bahkan sampai menangis karena menantunya, dulu yang ia tau hanya kemarahan saja semenjak orang tuanya meninggal, tapi semenjak mengen Lisa, ia bisa merasakan semua hal.
"Kalisa hanya masa lalu Papa nak, dan kamu masa depan Papa, tolong jangan menangis seperti ini, hati Papa merasakan sakit, Papa sungguh-sungguh mencintai kamu."
"Papa mencintai Lisa? Lalu Papa tau tentang Lisa?"
"Tentang apa yang ingin kamu tau? Tentang makanan kesukaanmu? Alergi makanan atau kamu takut dengan kegelapan? Papa tau kalau kamu takut gelap, Papa tau setiap mati lampu kamu akan melihat ke dua orang tua paru baya dan wanita paru baya yang di tembak. Papa tau kalau kamu takut dengan darah yang mengalir dari kepala, karena kamu akan melihat wanita paru baya yang tertembak. Apa pun yang ada dalam diri kamu Papa tau, kamu mau tanya yang mana?"
Saat di tanya oleh Papa mertuanya Lisa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak percaya kalau Papa mertuanya ternyata tau banyak, bahkan lebih tau bayak dari suaminya, suaminya tau kalau ia takut gelap, tapi suaminya tidak tau alasannya, lalu suaminya juga tidak tau kalau ia takut darah yang mengalir dari kepala, sedangkan Papa mertuanya tau.
"Sebenarnya Papa siapa? Apa Papa lebih mengenal aku dari pada aku sendiri? Kenapa Papa tau banyak tentangku?" batin Lisa
"Kamu mau tau apa kelemahan Papa?"
Lisa menganggukan kepalanya sambil mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Papa mertuanya.
"Kelemahan Papa hanya kamu nak, kamu tatap mata Papa, Papa bisa menangis karena kamu, Papa bisa merasa sedih dan kecewa, termasuk bahagia. Apa kamu pernah melihat Papa bisa tertawa lepas selama 2 tahun ini selain bukan bersamamu?"
Lisa hanya menggelengkan kepalanya, ia memang tidak pernah melihat Papa mertuanya tertawa, bahkan saat tersenyum saja ia bisa melihat kalau senyuman Papa mertuanya hanya lah palsu, tapi saat bersamanya ia juga melihat Papa mertuanya berkali-kali tersenyum dan tertawa, ia bisa melihat wajah bahagia dari Papa mertuanya.
"Papa tau kamu belum sepenuhnya mencintai Papa, tapi Papa berharap kamu belajar mencintai Papa seperti kamu mencintai suami kamu di masa lalu, dan jangan perah kamu berpikir yang tidak-tidak tentang Kalisa, suatu saat kamu akan tau siapa Kalisa sebenarnya, tapi tidak sekarang, Papa belum siap untuk menceritakan tentang Kalisa padamu."
Lisa menghela napas berat, itu artinya Papa mertuanya masih banyak menyimpan rahasia tentang Kalisa.
"Apa Mamamu tidak mengatakan sesuatu padamu nak?"
"Mama tidak mengatakan apa pun, Mama hanya bertanya apa Papa mertuamu mengatakan sesuatu? Tentu saja Lisa menjawab tidak, karena Papa memang tidak mengatakan apa pun."
Lisa semakin yakin kalau Mamanya dan Papa mertuanya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Iya sudah lebih baik kamu ganti baju dulu, Papa akan membuat nasi goreng kesukanmu."
Bagas langsung melepaskan pelukannya saat melihat menantunya jauh lebih tenang, ia mengecup kening menantunya sekilas, lalu langsung menghapus sisa air mata menantunya.
__ADS_1
"Memangnya Papa bisa masak?"
Lisa bertanya sambil mengerutkan keningnya, jangankan melihat Papa mertuanya memasak, melihat Papa mertuanya membuat kopi sendiri saja tidak pernah.
"Kamu itu, meremehkan masakan Papa!"
Bagas berbicara sambil tersenyum dan mengusap bebepa tetes air mata yang ada di pipinya sendiri.
"Nak, kalau suatu saat Papa mengajak kamu jalan-jalan dan pelan-pelan mengatakan tentang Kalisa, apa kamu tidak keberatan?"
Bagas memang ingin mengatakan tentang Kalisa secara pelan-pelan agar menantunya bisa mengingat masa lalu bersamanya, tapi ia membiarkan menantunya mencintai ia terlebih dahulu, setidaknya jika ingatan menantunya sudah pulih, menantunya tidak terlalu membencinya, walau pun ia sendiri berharap kalau menantunya tidak akan membencinya.
"Tentu saja boleh Pa."
"Mingkin Papa bisa memecahkan teka-teki dalam mimpiku yang terus saja menghantui tidurku, buktinya Papa bisa tau tentang ketakutanku, pasti Papa jauh lebih mengenalku dari pada aku mengenal diriku sendiri." batin Lisa
"Iya sudah kamu ganti baju, jangan lupa jangan memakai pakaian terbuka, ada banyak tanda kepemilikan di bawah lehermu, Papa takut ada asisten pribadi Papa datang."
Setelah mengatakan itu Bagas langsung mengecup sekilas bibir menantunya, lalu membantu menantunya untuk berdiri.
Lisa juga membalas kecupan singkat dari Papa mertuanya dengan mengecup ke dua pipi Papa mertuanya, ia sama sekali tidak menyesal apa yang telah terjadi dengan Papa mertuanya, melainkan ia sangat bahagia.
Setelah Papa mertuanya keluar dari kamar mandi Lisa langsung memegang dadanya karena jantungnya berdetak lebih cepat.
"Ini semua karena ke tiga sahabat laknatku, aku dan Papa jadi selingkuh, tapi aku tidak bisa perselingkuhanku di katakan sebagai balas dendam untuk membalas mereka, aku mencintai Papa." batin Lisa
Lisa langsung keluar dari kamar mandi, ia langsung mengganti baju kaos dan celana jenas panjang, lalu mengoleskan make up untuk menutupi beberapa tanda ke pemilikan pada bawah lehernya.
"Perasaan Papa tidak sampai seperti ini bersama Mama, selama aku menjadi menantu di rumah ini, aku tidak pernah melihat tanda kepemilikan di leher Mama." batin Lisa
Lisa bingung sendiri, kalau di lihat selama 2 tahun Papa mertuanya tidak seperti serigala kelaparan saat bersama Mama mertuanya, tapi saat bersamanya, ia bisa melihat kalau Papa mertuanya seperti serigala kelaparan.
"Apa jangan-jangan karena aku belum memiliki anak, untuk itu napsu Papa sangat tinggi? Sudah lah terserah, kalau terus berpikir aku bisa gila sendiri, lagi pula Papa tau banyak tentangku, sedangkan aku sendiri tidak mengenal kepribadian Papa." batin Lisa
Setelah selsai Lisa langsung keluar dari kamar, ia menatap sekeliling yang terlihat sepi, tidak ada satu asisten rumah tangga di rumah.
__ADS_1
Lisa langsung berjalan mendekati Papa mertuanya yang masih sibuk membuat nasi goreng, ia tersenyum sekilas saat melihat punggung Papa mertuanya.
"Kamu sedang apa berdiri di situ nak?!"
Bagas bertanya tanpa membalikan badan, ia masih sibuk dengan membolak-balikan nasi goreng.
"Papa bisa tau ada Lisa di sini bagai mana? Bukan'kah sandal Lisa tidak berisik?"
"Bagai mana Papa tidak tau ada kamu kalau dulu Papa pernah menjadi ketua mafia, Papa harus selalu waspada dalam hal apa pun." batin Bagas
"Papa tau karena harum tubuhmu itu adalah aroma vanilla!"
Lisa langaung berjalan mendekati Papa mertuanya, ia berdiri di samping Papa mertuanya.
"Pa, semua bibi ada di mana?"
"Papa menyuruh mereka semua pulang, mereka akan datang lagi sebelum suamimu pulang."
"Jadi Papa sudah merencanakan segalanya dengan sangat matang?"
Lisa bertanya sambil mengerutkan keningnya tidak percaya, kalau Papa mertuanya memang sudah merencanakan segalanya.
Bagas langsung mematikan kompornya, ia langsung melihat ke arah menantunya lalu langsung menarik tubuh menantunya agar merapat padanya.
"Tapi kamu menyukai permainan Papa tadi? Buktinya kita bermain sampai 4 jam lamanya."
"Papa gila!"
Lisa berbicara sambil memukul dada Papa mertuanya, ada rasa malu di hatinya, tapi ada juga rasa bahagia.
"Ingat, mulai sekarang kamu hanya milik Papa."
"Tapi Papa masih milik Mama, enak sekali jadi lelaki."
"Papa hanya milikmu sayang."
__ADS_1