
Menurut Lisa foto-foto Kalisa memang sangat cantik, memang sangat mirip dengannya, tapi ia putri dari orang biasa, sedangkan Kalisa, putri dari almarhum seorang pengusaha dan menurut ia tidak heran kalau Papa mertuanya itu sangat mencintai Kalisa.
Namun entah ada apa setelah ke pergian Luna dan suaminya termasuk Mama mertuannya, tiba-tiba Papa mertuanya datang hingga ia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.
Lisa pikir semuanya hanya mimpi saat ia melakukan layaknya suami istri dengan Papa mertuanya, ia memang rindu sentuhan, tapi ia selalu memegang teguh pendiriannya yang tidak mau bercinta dengan lelaki yang sudah pernah tidur dengan wanita lain, nyatanya saat ia di beri sentuhan oleh Papa mertuanya tidak bisa menolak.
Namun ia juga tidak bisa mengeluarkan suara nikmatnya karena sentuhan tiba-tiba. Lisa yang sudah bangun lebih dulu, ia menatap Papa mertuanya yang sedang tidur satu ranjang dengannya dengan menggunakan selimut yang sama.
"Pa, Lisa tidak mengerti kenapa Papa bisa melakukan ini pada Lisa, jelas-jelas Papa hanya mencintai Kalisa, tapi Lisa tidak pernah menyesal, jujur Lisa menikmati permainan Papa yang kuat sampai 4 jam, permainan Papa sangat sempurna." batin Lisa
Lisa langsung memeluk Papa mertuanya dengan sangat erat hingga membuat Papa mertuanya terbangun.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Bagas bertanya sambil menunduk untuk melihat wajah menantunya yang ada di dada bidang miliknya.
"Iya Pa, Lisa sudah bangun."
Lisa menjawab pertanyaan dari Papa mertuanya masih menunduk, ia malu saat mengingat kejadian satu jam yang lalu saat belum tidur, ia juga tidak tau kenapa bisa menerima sentuhan dari Papa mertuanya.
"Maafkan Papa yang tidak bisa mengontrol napsu Papa saat kamu hanya memakai handuk, tapi yang jelas Papa ingin jujur sama kamu, kalau Papa sangat menyayangi kamu dari dulu hingga sekarang."
Lisa memberanikan diri untuk menatap mata Papa mertuanya saat mendengar ucapan dari Papa mertuanya.
"Maksud Papa?"
"Papa sangat menyayangi kamu dan sangat mencintai kamu sebelum kamu menjadi menantu Papa."
"Maksud Papa apa? Bukan'kah kita baru saling kenal saat Rafa mengajak bertemu Papa dan Mama?"
__ADS_1
Lisa bertanya dengan perasaan bingung pada Papa mertuanya karena mengakui perasaannya.
"Papa sangat mencintai kamu dan Papa sangat mengenal siapa kamu nak."
"Pa, Papa pasti melihat Lisa seperti Kalisa lagi? Lisa dan Kalisa bukan orang yang sama Pa, kita berdua sangat berbeda!"
Setelah mengatakan itu Lisa langsung duduk sambil mengambil handuknya di lantai, setelah melilitkan handuknya di tubuhnya ia langsung pergi ke kamar mandi dengan perasaan cemburu.
Lisa langsung mengunci kamar mandi dan langsung menyalakan shower, ia berdiri di bawa guyuran shower.
"Kenapa Papa samakan aku dengan Kalisa? Kenapa hatiku sangat sakit, apa aku sudah benar-benar mencintai Papa? Iya aku yakin aku sudah mencintai Papa, aku yakin dengan hatiku bukan karena Papa memperlakukanku dengan sangat baik." batin Lisa
Lisa terus saja di bawah guyuran shower, ia mencoba membenci Papa mertuanya, tapi nyatanya tidak bisa, bayang-bayang bercinta dengan Papa mertuanya terus saja berputar di otaknya.
Sedangkan Bagas sangat terkejut karena menantunya pergi begitu saja seperti marah, ia langsung duduk sambil menghela napas berat.
"Kalisa, sampai kapan kamu tidak mengenali Papa? Sampai Papa melakukan itu, kamu masih tetap tidak bisa mengingat Papa." batin Bagas
Bagas langsung melihat nama yang menelponnya, ia langsung merijek lalu langsung mengirim pesan pada asisten pribadinya kalau ia pulang lebih dulu, saat ia pulang asisten pribadinya memang sedang meeting, jadi asisten pribadinya tidak tau kalau ia pulang.
Bagas langsung mengambil celananya, ia langsung memakai celananya lalu langsung pergi ke arah kamar mandi dan langsung mengetuk pintu kamar mandi.
Tok-tok!!
"Nak, kamu sedang apa?! Kamu dengar penjelasan Papa terlebih dahulu nak!"
Bagas yakin kalau menantunya salah paham tentang Kalisa, tapi ia tidak mungkin untuk menceritakannya sekarang, kisah cintanya bersama menantunya baru saja di mulai, ia tidak mau di benci untuk ke dua kalinya oleh wanita yang sangat di cintainya.
Bagas menghela napas kasar saat tidak mendengar jawaban dari menantunya, ia langsung mengetuk pintu kamar mandi untuk yang ke dua kalinya.
__ADS_1
Tok-tok!!
"Nak! Buka pintunya atau Papa dobrak?!"
Bagas diam hingga tiga menit, tapi tetap tidak ada jawaban membuat ia terpaksa mengambil kunci kamar mandi di laci, memang kunci dari dalam kamar mandi adalah memakai kunci otomatis yang menempel di pintu, jadi ia bisa membuka kuncinya dari luar.
Bagas langsung membuka kunci pintu kamar mandi lalu langsung masuk ke dalam, ia sangat terkejut saat melihat menantunya yang sedang duduk di bawah guyuran air shower sambil menangis dan mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Bagas langsung memeluk menantunya dengan sangat erat sambil menghela napas berat.
"Kamu dengar penjelasan Papa terlebih dahulu nak."
"Lisa tidak mau mendengarkan penjelasan Papa! Lisa benci Papa! Hiks... Hiks... Lisa benci karena wajah Lisa mirip Kalisa, Lisa benci di saat semua orang terdekat Lisa menganggap Lisa adalah Kalisa! Terutama Papa, Lisa benci karena nyatanya Papa tidak pernah sedikit pun memiliki perasaan pada Lisa! Lisa pikir Papa juga memiliki perasaan seperti Lisa, tapi nyatanya tidak, lalu untuk apa Papa melakukan itu Pa?!"
Lisa bertanya sambil meronta mencoba melepaskan pelukan dari Papa mertuanya, tapi Papa mertuanya semakin erat memeluknya.
Bagas menghela napas berat, seharusnya tentang Kalisa tidak ia ceritakan, mungkin semuanya tidak akan seperti ini, karena ia sendiri belum siap untuk menceritakan masa lalunya bersama menantunya, ia takut perkara pernikahannya bersama Lusi menjadi akhir hubungannya yang baru saja di mulai.
"Maafkan Papa nak, Papa bukan menganggapmu Kalisa, tapi Papa mencintai kamu saat kamu baru masuk menjadi model, Rania yang selalu kamu panggil bos kamu adalah bawahan Papa, Papa yang sengaja menjadikan kamu model Papan atas, dan Papa yang menjadikan kamu sebagai artis, tapi Papa tidak berani sedikit pun untuk muncul di depanmu, sekali lagi Papa minta maaf!"
Jangan dari menjadi model dan artis, dari Lisa kecil Bagas selalu berdiri di belakang Lisa dan selalu mendukung Lisa, ia selalu berusaha mewujudkan apa pun keinginan Lisa, tapi tidak dengan Lisa yang menginginkan menikah dengan putra tirinya, jelas hatinya sangat sakit.
Namun Bagas tetap membiarkan pernikahan itu terjadi hanya semata-mata untuk menebus kesalahannya di masa lalu yang menikahi Lusi, setidaknya ia dan Lisa memiliki status yang sama nanti yaitu duda dan janda.
"Papa diam dan cuek saat kamu masih bahagia bersama Rafa bukan Papa tidak menyukaimu, tapi Papa cemburu saat melihat kamu bahagia dengan lelaki lain!"
Lisa menggelengkan kepalanya sambil memukul-mukul dada Papa mertuanya, bagai mana bisa Papa mertuanya mencintai ia dari masa SMA, sedangkan 12 hari yang lalu Papa mertuanya mengatakan mencintai Kalisa.
Lisa semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Papa mertuanya, ia tidak tau haruskah ia percaya dengan ucapan Papa mertuanya, atau ia tidak mempercayai Papa mertuanya sama sekali.
"Papa bohong! Papa mencintai Kalisa, Papa harus sadar kalau Lisa ini bukan Kalisa Pa! Hiks... Hiks...!"
__ADS_1
Bagas hanya bisa menghela napas berat.