Hasrat Terlarang Untuk Menantuku

Hasrat Terlarang Untuk Menantuku
BAB. 27 Berangkat


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Bagas pada menantunya, ia akan membawa menantunya ke suatu tempat, tempat awal bertemu dengannya di jalan dekat taman, tapi ia akan membawa menantunya ke taman.


Sekarang Bagas dan menantunya sedang siap-siap, tapi tiba-tiba telpon Bagas bergetar membuat menantunya yang dekat poselnya langsung mengambil ponselnya.


Dret... Dret...


Lisa mengerutkan keningnya saat melihat nama dan nomer yang tertera di layar ponsel Papa mertuanya.


"Mama, ada apa Mama menghubungi Papa? Bukan'kah Mama hanya pernah menjadi asisten pribadinya?" batin Lisa


"Pa, ada yang telpon."


Bagas menganggukan kepalanya lalu langsung mengambil telpon dari menantunya, ia langsung pergi ke sofa untuk mengangkat telpon.


"Hallo, ada apa May?"


"Tuan, sampai kapan tidak mengatakan yang sebenarnya dan kapan saya memberikan surat yang di titipkan oleh Tuan Sanjaya?"


"Tunggu sebentar lagi sampai saya bisa mendapatkan cinta sepenuhnya, kamu jangan menelpon saya, saya sedang bersama Kalisa."


"Baik Tuan, kalau begitu sudah dulu."


Mereka berdua langsung mengakhiri sambungan telponnya, Bagas langsung berjalan ke arah menantunya yang sedang memakai make up, ia langsung mencium kening menantunya sekilas.


"Belum selsai nak?"


Lisa hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Pa, Mama telpon Papa ada apa? Kenapa Papa menjauh dari Lisa saat menerima telpon dari Mama?"


Lisa bertanya masih sambil memakai make up. Bagas langsung meletakan kuas yang di genggam menantunya, ia langsung memutar tubuh menantunya untuk melihat ke arahnya.


"Mamamu tadi telpon bertanya tentang kamu, Mamamu tau kalau kamu memiliki darah rendah, lagi pula Mamamu bertanya bukan sekali dua kali, dia sering bertanya, apa Mamamu tidak mengatakan apa pun tentang Papa?"


Lisa tidak percaya dengan ucapan Papa mertuanya, walau pun ia sendiri tidak mendengar percakapan dari mereka, tapi ia yakin kalau Papa mertuanya itu sedang menyenyembunyikan sesuatu, kalau masalah bertanya tentangnya, kenapa Papa mertuanya harus menjauh darinya.


"Papa yakin kalau Mama bertanya tentang itu?"


"Iya nak, untuk apa Papa membohongimu?"


"Tapi Lisa merasa Papa dan Mama memang menyembunyikan sesuatu dari Lisa."

__ADS_1


Bagas menghela napas pelan.


"Memang bukan hanya itu yang Papa dan Mama katakan, tadi Mamamu mengatakan tentang orang yang korupsi di Atmaja Grup, kamu tau sendiri kalau Mamamu bekerja di sana."


"Lalu urusannya dengan Papa apa? Bukan'kah nama Atmaja itu adalah Kalisa Ayunda Putri Atmaja? Tunggu kenapa namanya sama seperti Lisa?"


Lisa baru menyadari kalau namanya sama, ia yang memiliki nama lengkap Lisa Ayunda Wijaya, jelas namanya sama memiliki nama Ayunda.


"Selama 16 tahun Papa yang mengurus Atmaja Grup begitu pun dengan Kalisa Atmaja hotel, sebenarnya perusahaan dan hotel itu milik Kalisa, tapi Sanjaya mengatakan untuk menyerahkan pada Kalisa di usia 24 tahun, Papa masih memiliki tanggung jawab 1 tahun lagi atas perusahan itu. Lisa, Papa juga ingin kamu belajar tentang perusahaan."


Lisa mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan terakhir dari Papa mertuanya, terus apa urusannya ia untuk belajar perusahaan.


"Pa, Lisa tidak memiliki urusan tentang perusahaan, kenapa Papa tidak ajari saja Kalisa? Kenapa harus Lisa?"


"Kelak kamu juga akan memegang semua itu kalau sudah bersama Papa."


Lisa hanya bisa menghela napas berat, ia bingung sendiri dengan permintaan dari Papa mertuanya.


"Tapi Lisa tidak menginginkan itu Pa."


"Iya, tapi apa salahnya pelan-pelan belajar?"


Lisa hanya menganggukan kepalanya, tapi tiba-tiba saja ia mengingat tentang Cctv.


"Tidak tau nak."


"Di rumah ini ada Cctv Pa."


"Sebelum Papa pulang bi Asih sudah mematikan semua Cctv di rumah ini."


"Bi Asih? Jangan-jangan bi Asih itu asisten rumah tangga kepercayaan Papa itu kenapa bi Asih paling dekat dengan Lisa?"


"Iya nak, bi Asih yang selalu melaporkan tentang kamu pada Papa, maafkan Papa, bukan bermaksud Papa lancang tentang kamu nak, tapi Papa hanya ingin tau apa yang istri Papa lakukan terhadap kamu."


"Kenapa Papa lakuin ini?"


"Karena Papa sangat mencintaimu, mungkin Papa bajingan setelah kita selsai bercinta, Papa baru mengatakannya kalau Papa memang sangat mencintaimu."


"Papa bukan bajingan, Lisa juga tidak bisa menolak sentuhan dari Papa, bahkan Lisa menginginkan itu setiap hari Pa."


Bagas menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar, tentu saja ia senang kalau menantunya mau melakukan itu setiap hari, ia berharap benihnya segera jadi walau pun reaksi obat penunda kehamilan itu sisa setengah bulan lagi.

__ADS_1


"Iya sudah ayo berangkat sayang, nanti keburu sore."


"Iya Pa."


Lisa langsung berdiri, ia langsung memakai sepatu hak tinggi dan tasnya lalu langsung menggenggam tangan Papa mertuanya.


Sekarang mereka berdua sudah ada di dalam mobil, sepanjang perjalanan Bagas menggenggam tangan kanan menantunya.


"Andaikan saja waktu bisa berhenti, aku ingin selalu bersama Papa." batin Lisa


Sepanjang perjalanan Lisa hanya menatap wajah Papa mertuanya yang sangat enak di pandang menurutnya, ada rasa tidak menyangka kalau ia sekarang menjalin hubungan terlarang dengan Papa mertuanya sendiri.


Apa lagi Lisa ingat betul kalau Papa mertuanya lelaki yang sulit sekali di sentuh, mau wanita janda dan bersetatus memiliki suami, atau pun Gadis Papa mertuanya selalu saja menolak mereka, karena ia selalu tidak sengaja bertemu saat ada meeting, tapi sekarang bahkan ia bisa mendapatkan belaian dari Papa mertuanya.


Sedangkan masalah kata cinta, Lisa tidak terlalu yakin kalau Papa mertuanya sangat mencintaknya mengingat Papa mertuanya masih tetap berkaitan dengan Kalisa melalui Atmaja Grup dan Kalisa Atmaja hotel.


"Kamu menatap Papa seperti itu kenapa nak?"


"Lisa baru sadar kalau Papa itu ternyata sangat tampan."


Bagas yang mendapatkan pujian dari menantunya ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Memangnya kemarin-kemarin kamu tidak memperhatikan Papa hingga menyadari sekarang kalau Papa tampan? Lagi pula usia Papa itu sudah tidak muda lagi nak, sudah 45 tahun, hampir sama dengan Ardi, Papa kamu, hanya lebih tua Ardi 2 tahun."


"Usia Papa 45 tahun?"


Jujur saja Lisa tidak percaya kalau usia Papa mertuanya itu 45 tahun, terlihat masih terlalu muda dan seperti usia 35 tahunan, apa lagi saat Papa mertuanya melepaskan kacamatanya, ia bisa melihat Papa mertuanya lebih muda lagi.


"Iya, memangnya kamu melihat Papa lebih tua dari usia Papa begitu?"


"Bukan, tapi Papa terlihat lebih muda, bahkan Mama terlihat lebih tua dari Papa yang baru saja berusia 44 tahun."


"Iya Lusi dulu menikah masih usia 19 tahun, masih terlalu muda begitu pun sahabat Papa yang baru saja 20 tahun."


"Kenapa bisa sahabat Papa menyuruh Papa menikahi Mama sedangkan kalian tidak saling cinta?"


"Papa sudah bilang kalau kita menikah hanya semata-mata untuk memberikan kasih sayang lebih untuk Rafa."


"Tapi Mama sangat mencintai Papa."


"Papa jelas sangat tau, dari suaminya masih sehat Lusi selalu saja memberikan perhatian kecil pada Papa, tapi Papa hanya berpura-pura tidak tau walau pun Papa sangat peka."

__ADS_1


Memang Lusi mencintai Bagas dari suaminya belum sakit, tapi Bagas selalu tidak peduli, walau pun ia tau perhatian kecil Lusi sangat berbeda untuknya.


Lisa menghela napas berat, ia jadi bingung sendiri, apa ia benar-benar bisa mendapatkan cinta dari Papa mertuanya sedangkan Mama mertuanya yang sudah menikah 16 tahun saja masih belum bisa mendapatkan cinta dari Papa mertuanya.


__ADS_2