
Sekarang Bagas dan menantunya sudah duduk di bangku taman sambil merangkul pinggang menantunya, dan membiarkan menantunya mengingat sedikit-sedikit.
Lisa yang sedang bersandar di bahu Papa mertuanya, ia hanya melihat ke mana arah pandangan Papa mertuanya, terlebih ia juga tidak tau apa alasan Papa mertuanya yang mengajak ia pergi ke taman.
"Ada apa Papa mengajakku ke sini, jelas-jelas kita berdua bukan anak remaja lagi." batin Lisa
"Nak, Papa sudah lama sekali tidak kesini, terakir kali Papa ke sini saat Papa belum memiliki perjanjian menikahi Lusi, Papa merindukan tempat ini sudah lama, merindukan awal pertemuan Papa dengan seorang Gadis kecil."
Lisa hanya diam, membiarkan Papa mertuanya mencurahkan semua isi hatinya yang mungkin saja belum ada orang yang mendengar keluh kesah dari Papa mertuanya.
Lisa tau kalau Papa mertuanya mungkin merindukan masa-masa bersama Kalisa, tapi ia mencoba untuk tidak cemburu, ia ingat ucapan Papa mertuanya kalau ia ada kaitannya bersama Kalisa dan ia berharap mimpi yang selalu menghantuinya segera berakhir.
"Di sana Papa bertemu seorang Gadis kecil yang berusia 5 tahun."
Bagas berbicara sambil menujuk ke arah jalan awal pertemuannya bersama menantunya dulu. Lisa masih diam ia melihat ke arah jalan yang di tunjuk Papa mertuanya.
"Saat itu ban mobil Papa kempes, Papa terpaksa jalan kaki sambil menunggu jemputan, lalu tiba-tiba saja seorang Gadis kecil itu berlari sambil membawa dua es krim di tangannya, Gadis kecil itu menabrak Papa dan menumpahkan ke dua es krim itu ke jas Papa."
Bagas berbicara dengan mata yang memerah, Lisa memang satu-satu kelemahannya dalam hidupnya, setiap kali ia mengingat masa lalunya bersama wanita yang ia cintai ia akan merasa sedih dan kadang juga menangis.
"Gadis kecil itu memberanikan diri untuk menatap wajah Papa, saat menatap Papa dia langsung menunduk lagi karena melihat wajah Papa yang terlihat galak. Lalu dia bilang Om, Kalisa minta maaf, Kalisa tidak sengaja, dia minta maaf dengan wajah yang memerah akan menangis, lalu Papa langsung berjongkok di depannya, Papa bilang, tidak apa-apa nak, kamu jangan takut sama Om, Om tidak marah, setelah itu Papa mencium ke dua pipi Gadis kecil itu, dia adalah orang pertama yang mendapat ciuman Papa walau pun hanya ciuman pipi."
Lisa masih diam, tapi hatinya mengatakan betapa beruntungnya Gadis kecil itu bisa mendapatkan ciumanpertama dari Papa mertuanya.
"Gadis itu hanya menganggukan kepala, lalu Papa bertanya lagi, siapa nama lengkapmu nak? Dia bilang namanya Kalisa Ayunda Putri Atmaja, putri dari Sanjaya Atmaja, jujur Papa tidak menyangka akan bertmu dengan putri dari sahabat Papa sendiri yaitu Liana Tasya, sedangkan Sanjaya Atmaja dulu kakak kelas Papa, Papa tidak mengenal dekat Sanjaya selain memiliki kontrak kerja sama di Ausi."
Sudah Lisa duga kalau Papa mertuanya sedang menceritakan tentang Kalisa, ingin sekali ia marah saat mendengar semua cerita dari Papa mertuanya, tapi ia tidak bisa marah, ia masih mengingat kalau ia ada kaitannya dengan Kalisa.
__ADS_1
"Dia bertanya pada Papa, nama Om siapa? Papa bilang nama Om Bagas Samudra Atmaja, lalu dia bilang lagi Kalisa suka melihat Om di televisi loh, Kalisa suka gaya bicara Om yang selalu pormal dan tegas, Kalisa tidak menyangka bisa bertemu Om secara langsung, Papa bilang kamu bisa bertemu Om lagi kalau kamu mau. Papa melihat dia lompat-lompat kegirangan hingga asisten pribadinya datang yaitu bernama Kenny, di situ lah Papa berpisah dengannya, tapi semenjak kejadian itu Papa selalu bertemu dengannya, terkadang Papa yang menemuinya di rumahnya, dan terkadang dia sendiri yang datang ke kantor pusat untuk menemui Papa."
Lisa bisa melihat kesedihan dari Papa mertuanya dengan air mata menetes, tapi ia juga bisa melihat senyuman terluka dari Papa mertuanya membuat hatinya sangat sakit, sekarang bukan rasa cemburu yang membuat ia sakit, tapi ia merasa cerita dari Papa mertuanya ada kaitannya dengannya, ia merasa kalau ia pernah merasakan itu.
Lisa terus menatap ke arah jalan itu dengan pikiran yang ia kosongkan hingga ia bisa melihat Gadis kecil dan seorang lelaki dewasa yang di ceritakan Papa mertuanya tadi membuat ia berteriak sambil menutup telinganya karena mendengar suara mereka dan membuat kepalanya sakit.
"Ah!! Tidak!!"
Bagas sangat terkejut ia langsung melihat ke samping dengan perasaan kuatir.
"Kenapa nak?"
"Kepala Lisa pusing Pa, Lisa melihat mereka di penglihatan Lisa Pa."
Bagas langsung menarik menantunya dalam pelukannya.
Lisa menganggukan kepalanya sambil membalas pelukan dari Papa mertuanya, tapi bayang-bayang mereka dan suara mereka masih terdengar jelas di telinganya.
Apa lagi Papa mertuanya mengatakan jangan mencoba mengingat apa pun, itu artinya Lisa yakin kalau ia memang hilang ingatan.
"Jadi Lisa memang hilang ingatan itu kenapa Lisa tidak bisa mengingat masa kecil Lisa? Kenapa Papa dan Mama menyembunyikan rahasia sebesar ini Pa? Lalu apa Lisa memang Kalisa atau Lisa memang hanya kembaran Kalisa? Ah! Kepala Lisa sakit Pa!!"
"Maaf, seharusnya Papa tidak mengatakan ini semua padamu nak."
Bagas memeluk menantunya sambil merogoh saku celananya, ia langsung mengambil obat dari saku celananya, lalu langsung melepaskan pelukannya.
"Nak, kamu minum dulu."
__ADS_1
Bagas memang sengaja membawa obat penenang dan air minum, ia takut sewaktu-waktu menantunya membutuhkan obat itu.
"Obat apa Pa? Apa Papa mencoba untuk membuat Lisa untuk menghilangkan ingatan Lisa dengan mereka?"
"Papa tidak bisa melihatmu menahan sakit, kamu minum sekarang, ini hanya obat penanang biasa, tidak akan membuatmu melupakan apa pun nak."
Lisa menggelengkan kepalanya dengan kepala yang semakin pusing.
"Lisa tanya apa Lisa kembaran Kalisa atau Lisa adalah Kalisa Pa?!"
Bagas hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.
"Maafkan Papa, Papa belum bisa menjawabnya sekarang, Papa belum siap di benci untuk yang ke dua kalinya."
Lisa menghela napas berat saat mendengar jawaban dari Papa mertuanya dengan wajah yang sudah pucat karena menahan sakit di kepalanya.
"Apa aku pernah membenci Papa sebelumnya, tapi apa alasan aku membencinya?" batin Lisa
Lisa yang merasakan sakit hingga ia tidak sadarkan diri, bersyukur Bagas dengan sigap membuang obat dan air minum yang ada di tangannya dan langsung menahan tubuh menantunya sambil menghela napas berat.
"Maafkan Papa, Papa yang sudah membuat kamu tersiksa Kalisa, Papa pikir menghapus ingatanmu adalah cara satu-satunya untuk membuat kamu hidup bahagia bersama Papa, tapi Papa salah, jika Papa harus menghapus ingatanmu untuk yang ke dua kalinya, Papa tidak bisa, Papa sudah cukup tersiksa selama 16 tahun ini."
Bagas berbicara sambil memeluk menantunya, hatinya sangat sakit saat melihat wanita yang sangat di cintainya tersakiti olehnya sendiri.
Cukup lama Bagas diam hingga ia mengangkat tubuh menantunya untuk di bawa ke mobilnya, ia akan membawa menantunya ke rumah yang dulu ia dan menantunya tempati, ia tidak mungkin membawa menantunya pulang ke rumah yang mereka tempati karena sangat jauh.
Setelah di mobil ia langsung melajukan mobilnya ke arah rumahnya sambil sesekali melihat ke arah menantunya yang ia baringkan di bangku penumpang belakang.
__ADS_1
"Maafkan Papa karena lagi-lagi membuatmu tersiksa." batin Bagas