Hasrat Terlarang Untuk Menantuku

Hasrat Terlarang Untuk Menantuku
BAB. 14 Lisa sadar


__ADS_3

Rafa sangat terkejut setelah di periksa oleh dokter keluarganya kalau istri pertamanya ternyata memiliki darah rendah dan sudah 2 bulan istri pertamanya sering pingsan.


Bahkan Rafa juga sudah menanyakan apa karena istri pertamanya kelelahan melakukan layaknya hubungan suami istri hingga membuat istri pertamanya memiliki darah rendah.


Namun dokter Rina menjelaskan kalau istri pertamanya tidak pernah melakukan layaknya suami istri sudah satu bulan lamanya, itu artinya istri pertamanya memang tidak selingkuh.


"Kenapa harus menyembunyikan ini dariku sayang? Kenapa kamu menahan sakitmu seorang diri? Maafkan aku karena tidak bisa menjadi suamimu yang baik, maafkan aku karena nyatanya kamu terus saja menderita bersamaku." batin Rafa


Rafa langsung menghapus air matanya, ia melihat ke arah bi Asih yang sedang berdiri di sampingnya setelah mengantar dokter Rina.


"Kenapa bibi tidak bilang kalau Lisa memiliki darah rendah dan sering pingsan?!"


"Maafkan saya Tuan muda, karena Nyonya muda memang tidak ingin Tuan muda kuatir, Nyonya muda tidak mau mengganggu pekerjaan Tuan muda, untuk itu Nyonya muda menyuruh saya untuk merahasiakannya."


Andaikan saja dirinya bukan asiaten rumah tangga, bi Asih sudah menampar Rafa habis-habisan karena melihat Rafa seolah-olah menyedihkan, apa lagi mengingat Rafa yang sudah menghianati Lisa.


Bi Asih benci pada Rafa yang tidak tau terima kasih, selama hampir 2 tahun Lisa membantu keperluan Rafa karena Rafa lumpuh, lalu selama hampir 2 tahun Lisa mengurus perusahaan Rafa, tapi apa yang Lisa dapatkan dari Rafa hanya penghianatan.


"Nyonya muda, bibi berharap kamu baik-baik saja, bibi harap kamu melawan orang-orang yang tidak tau terima kasih seperti mereka." batin bi Asih


"Seharusnya bibi bilang saja! Mulai dari sekarang apa pun yang Lisa sembunyikan dariku bibi harus bilang, jangan sampai kejadian ini terulang lagi, darah rendah itu bukan main-main, saya tidak mau kalau istri saya kenapa-kenapa!"


"Iya Tuan muda, saya minta maaf karena telah menyembunyikan ini dari Tuan muda."


"Baiklah, bibi boleh lanjutkan membereskan barang-barangnya lagi."


"Baik tuan muda."


Setelah bi Asih pergi ke arah lemari, Rafa langsung duduk di atas ranjang, ia menatap mata istri pertamanya yang masih terpejam sambil menghela napas berat.


Namun tiba-tiba saja istri ke duanya masuk ke dalam kamar dan itu membuat Rafa menghela napas berat saat melihat ke arah istri ke duanya karena mendengar langkah kaki sesaorang.


"Kenapa kamu di sini Rafa? Wow, Lisa belanja begitu banyak sekali, Raf, aku mau semua yang di beli oleh Lisa."

__ADS_1


"Jangan gila Luna! Kamu sudah mengambil semua barang milik istriku di kamarnya, dan kamu sekarang menginginkan barang yang di beli istriku lagi, kamu masih waras atau kamu memang sudah gila Luna?!"


"Jangan lupa kalau aku juga istrimu Rafa, tapi kamu selalu saja memanggil istri pada Lisa!"


Rafa langsung berdiri sambil menatap tajam istri ke duanya.


"Sampai kapan pun hanya Lisa yang akan menjadi istriku, kamu tidak lebih dari wanita murahan! Kalau kamu tidak murahan kamu akan menolak pernikahan yang di minta oleh Mama karena bagai mana pun juga Lisa itu sahabatmu, tapi kamu tega menyakiti Lisa hanya untuk memenuhi ambisimu, kamu egois Luna!"


"Kamu bilang egois?! Bukan'kah yang merebut kamu dariku itu adalah Lisa? Kenapa seolah-olah aku yang salah Raf?! Kenapa?!!"


"Kamu bilang Lisa yang merebut aku dari kamu? Sejak kapan aku mencintai kamu Luna?! Dari dulu aku hanya menganggap kamu sebagai sahabatku, sedangkan Lisa dari pertama kenal aku sudah menganggap Lisa adalah orang istimewa dalam hidupku, tapi sekarang aku tidak menganggapmu sebagai sahabatmu dan tidak juga menganggapmu sebagai seorang istri, kamu hanya wanita murahan!"


Bi Asih yang mendengarkan perdebatan ke dua majikannya hanya menghela napas berat, ia tidak tau kenapa seolah-olah Rafa sangat membenci istri ke duanya, apa lagi istri ke duanya sedang hamil, ia marasa heran dengan mereka berdua.


"Gila apa iya Tuan muda? Masa bisa menghamili nenek lampir, tapi bilang nenek lampir wanita murahan, terus Tuan muda di panggil apa dong? Apa Tuan muda di panggil barang rongsokan?" batin bi Asih


Pada akhirnya bi Asih memilih tidak memikirkan dua majikan yang sedang berdebat, ia tetap melanjutkan aktifitasnya menyusun barang-barang.


Bruk...!!


"Bodoh! Kamu keluar dari sini! Sebelum aku semakin marah karena ucapan-ucapan gilamu! Satu hal yang harus kamu ingat kalau Lisa itu bukan merebut aku dari kamu, tapi kamu yang mencobo merebut aku dari Lisa!"


Lisa langsung duduk sambil menghela napas berat saat melihat ke dua orang yang sedang berdebat, ia sudah pusing karena darah rendahnya, sekarang ia tambah pusing karena melihat mereka berdebat.


"Keluar kalian dari kamarku!!!"


Lisa berteriak sambil menatap tajam pada mereka, bahkan bukan hanya Rafa dan Luna yang terkejut, bi Asih saja yang sedang menyusun tas hingga tasnya jatuh ke lantai karena teriakan dari Lisa.


"Ya ampun Nyonya muda, baru juga sadar sudah teriak-teriak." batin bi Asih


"Sayang kamu sudah sadar!"


Rafa langsung berlari ke arah istri pertamanya lalu langsung memeluk istri pertamanya.

__ADS_1


Luna yang melihat adegan itu ia langsung mengepalkan ke dua tangannya, ia sangat cemburu saat melihat suaminya yang hanya mengistimewakan Lisa.


"Lepas Rafa!"


Lisa berbicara sambil mendorong tubuh suaminya yang sedang memeluknya.


"Keluar dari kamarku dan bawa istrimu itu keluar!"


Rafa langsung melihat ke arah istri ke duanya.


"Keluar kamu Luna!! Sebelum aku mengucapkan kata pisah untukmu!"


Tanpa berbicara Luna langsung keluar dari kamar dengan perasaan marah dan kecewa, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti ucapan dari suaminya.


"Kenapa kamu menyembunyikan pakta ini semua dariku sayang?"


Rafa bertanya dengan raut wajah kuatir, saat mengingat ucapan dokter Rina kalau darah rendah istri pertamanya sangat berisiko untuk nyawa istrinya.


"Kenapa aku harus bilang padamu? Kamu ingin mentertawakanku karena nasibku sangat menderita begitu?!"


"Aku tidak berbipikir seperti itu sayang, aku kuatir padamu."


"Kamu bilang kuatir? Bukan'kah rasa kuatirmu itu hanya lelucon? Bagai mana bisa seorang lelaki yang sudah tidak mencintaiku lagi tiba-tiba bilang kuatir padaku?"


"Aku masih mencintaimu sayang, mana mungkin aku tidak mencintaimu, kalau bukan demi kamu untuk apa aku menikahi Luna?"


"Tentu saja untuk memenuhi hasratmu, bukan untuk aku, Rafa, lebih baik kita berpisah sebelum aku semakin membuat ulah padamu."


"Buat ulah bagai mana lagi sayang? Apa kamu belum puas membuat aku bingung saat melihat tagihan kartu kreditmu hingga 3,5 triliun?"


"Rafa, 3,5 triliun itu tidak sebanding dengan pengorbanan yang aku berikan untuk kamu selama 2 tahun ini, kamu lumpuh, aku yang merawat kamu, perusahaanmu sedang di ambang kebangkeutan aku yang menghendel perusahaanmu hingga perusahaanmu memasuki perusahaan terbaik selama 2 tahun ini, belum lagi aku selalu di aniyaya dan memasak untuk kalian, jadi uang segitu tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan selama ini."


"Aku tau sayang, memang tidak sebanding dengan pengorbananmu."

__ADS_1


__ADS_2