
Cukup lama Lisa dan Papa mertuanya berpelukan, lagi-lagi ia merasa terlindungi setelah dua kali mendapat pelukan dari Papa mertuanya, tapi ia sendiri masih saja tidak menyadari perasaan apa, namun yang jelas ia sangat nyaman dalam pelukan Papa mertuanya.
"Kenapa tadi kamu menangis begitu menghayat nak?"
Lisa langsung melepaskan pelukan dari Papa mertuanya saat mendapatkan pertanyaan dari Papa mertuanya.
"Kalung Lisa putus oleh Mama Pa."
Lisa berbicara sambil menujukan kalung yang putus oleh Mama mertuanya tadi. Bagas langsung mengambil kalung yang di perlihatkan oleh menantunya sambil menghela napas berat.
"Bagai mana kalung ini bisa putus?"
Bagas bertanya dengan raut wajah sedikit marah, karena kalung itu adalah kalung buatannya yang di rancang khusus untuk menantunya, sedangkan milik ia sendiri memiliki bandul kunci untuk membuka bandul kalung milik menantunya.
"Mama menarik kerah baju Lisa Pa, jadi kalung itu tertarik oleh Mama. Pa, Lisa tidak tau kenapa saat melihat kalung itu putus hati Lisa merasakan sakit yang sangat dalam?"
Bagas langsung menarik menantunya lagi dalam pelukannya, ia juga mengecup kening menantunya, ia merasa senang saat tau kalau menantunya merasakan sakit saat tau melihat kalung buatannya putus.
Beberapa detik Lisa merasa sangat terkejut saat mendapatkan kecupan singkat di keningnya oleh Papa mertuanya, selama ini ia hanya tau kalau Papa mertuanya sangat membencinya, tapi kali ini ia berkali-kali mendapatkan perlakuan manis dari Papa mertuanya.
"Ada apa dengan Papa? Kenapa Papa seolah-olah seperti menyayangiku dari dulu? Bukan'kah Papa dulu sangat membenciku?" batin Lisa
Lisa juga langsung membalas pelukan dari Papa mertuanya lagi, saat ini ia memang membutuhkan sandaran, apa lagi ia tidak memiliki siapa pun untuk ia bersandar, tapi saat ia terus memeluk Papa mertuanya, ia merasakan aroma parfum dari Papa mertuanya yang sangat tidak asing.
Namun Lisa tau kalau produk yang Papa mertuanya kenakan itu tidak di jual di pasaran, karena yang ia tau kalau Papa mertuanya membuat sendiri khusus untuk dirinya sendiri, tapi ia merasa aroma parfum tersebut seperti sudah pernah mencium aroma parfum yang di pakai Papa mertuanya.
"Sebenarnya ada apa dengan hatiku dari pelukan yang Papa berikan begitu nyaman dan merasa terlindungi, dan sekarang aroma parfum Papa aku merasa tidak asing." batin Lisa
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, nanti Papa akan menyambung kalung ini kembali nak."
"Pa, Lisa merasa kalung itu sangat berarti untuk Lisa, walau pun Lisa tidak mengingat tentang kalung itu, tapi entah kenapa Lisa selalu mimpi buruk, ada pasangan suami istri paru baya yang di tembak di depan Gadis kecil, lalu Lisa juga melihat ada seorang lelaki yang menolong Gadis kecil itu, setiap mimpi itu muncul keesokan harinya Lisa bermimpi ada seorang lelaki yang memberikan dua kalung pada Gadis kecil, walau pun Lisa tidak tau siapa Gadis itu, tapi Lisa yakin kalau Gadis itu Lisa Pa, karena Lisa memiliki dua kalung yang ada di mimpi Lisa, tapi Lisa tidak bisa melihat jelas lelakinya."
"Kalisa, Maafkan Papa yang sudah membuat kamu menderita selama ini, tapi Papa tidak akan membawa kamu ke dokter atau ke piskolog untuk mengingat masa lalumu, karena Papa ingin kamu mengingat masa lalu kita dengan sendirinya." batin Bagas
"Sudah kamu jangan berpikir macam-macam nak, kalau kamu mau tidur, kamu bisa tidur di kamar Papa."
Bagas berbicara sambil melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata menantunya dengan ke dua ibu jarinya masih sambil menggenggam kalung tadi.
Lisa hanya menganggukan kepala sambil memaksakan senyum, ia masih tidak menyangka kalau Papa mertuanya yang sangat membencinya itu akan menjadi sandaran untuknya.
"Kalung ini biar Papa yang pegang, nanti Papa menyuruh orang untuk membetulkan kalung ini."
Sebenarnya Bagas tidak akan menyuruh orang untuk membetulkan kalung milik menantunya, ia akan membetulkan kalung menantunya sendiri.
Lisa memang tau kalau Papa mertuanya tidak pernah tidur satu kamar dengan Mama mertuanya, ia juga tidak tau kenapa ke dua mertuanya tidur dengan kamar terpisah, hanya saja alasan yang ia tau kalau Papa mertuanya tidak mau di ganggu karena harus menyelsaikan pekerjaan, tapi menurut ia alasan itu tidak masuk akal, kalau tidak mau di ganggu seharusnya setelah selsai kerja Papa mertuanya pindah ke kamar Mama mertuanya, bukan tidur di kamar terpisah.
"Sama-sama nak, di kamar Papa ada dua ranjang nak, nanti Papa tidur di ranjang tempat untuk menton tv, kamu biar tidur di ranjang Papa."
"Iya sudah iya, terima kasih Pa."
"Sama-sama nak, ayo kita masuk."
"Iya Pa."
Lisa langsung mengambil ponsel dan dompetnya, sedangkan kalung yang memiliki bandul batu permata merah, ia masukan di dalam dompetnya.
__ADS_1
Setelah di kamar Papa mertuanya, Lisa langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya agar lebih segar.
Sedangkan Bagas sudah duduk di atas ranjang tv dan langsung di sibukan dengan laptop dan berkas yang ada di meja lipat di atas ranjangnya, ia memang harus menyelsaikan pekerjaan, tapi ia tidak yakin bisa menyesaikan pekerjaannya setelah melihat wanita yang di cintainya menangis.
Namun Bagas juga tidak mungkin hanya diam saja, ia tidak mau kalau menantunya merasa canggung karena satu kamar dengannya.
Sebenarnya kamar Bagas bukan hanya sebuah kamar, di kamar itu memiliki ruang rahasia, di ruang rahasia juga memiliki ranjang, dan di ruang rahasia itu semua catatan buku alasan ke dua orang tua menantunya meninggal dan siapa pembunuhnya sudah tertulis dengan detail.
Bahkan Bagas juga sudah membunuh orang-orang yang sudah membunuh ke dua orang tua menantunya dengan sadis, bagai mana pun juga dulu ia adalah ketua mafia tersembunyi, ia tidak pernah menujukan siapa dirinya, ia selalu bermain licik dan bersih untuk membasmi semua musuhnya.
Namun di rumah itu tidak ada yang tau kalau Bagas dulu adalah lelaki kejam, karena dendamnya di masa lalu sudah terbalaskan, untuk itu ia ingin menjalani hidup seperti layaknya orang pada umumnya.
Dulu saat Bagas menjadi ketua mafia karena ia ingin membalaskan dendam ke dua orang tuanya yang meninggal di bunuh oleh pesaing bisnisnya, untuk itu ia membalas dendam pada mereka dan keluarganya.
Lisa keluar dari kamar dengan perasaan lebih tenang setelah mencuci muka, ia melihat ke arah Papa mertuanya yang sedang membaca berkas kerjanya, ia lsngsung duduk di ranjang, lalu langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada ke dua sahabatnya untuk nongkrong besok.
Lisa sudah lama sekali tidak nongkrong dan shopping-shopping dengan mereka karena selalu sibuk mengurus suami dan perusahaan milik suaminya.
Lisa memiliki tiga sahabat yang memiliki nama geng LALI, terdiri dari Lisa, Amanda, Luna dan Intan, yang akan ia temui besok adalah Amanda dan Intan
Lisa juga besok akan pergi shopping karena ia tidak memiliki apa pun, ia harus membeli banyak barang karena ulah Luna.
"Tidurlah nak sudah malam."
Bagas berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia baca, tapi ia tau kalau menantunya sibuk bermain ponsel.
"Iya Pa."
__ADS_1
Setelah mengirim pesan pada mereka Lisa langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.