Hasrat Terlarang Untuk Menantuku

Hasrat Terlarang Untuk Menantuku
BAB. 32 Menceritakan masa lalu


__ADS_3

Sekarang Bagas mengajak menantunya ke kamar menantunya, kamar itu masih sama seperti sebelum ia membawa menantunya ke singapure karena harus di oprasi.


Lisa melihat ke semua arah kamar itu dengan dinding yang di desain dengan bunga lavender, lantai dan sprei juga sama begitu pun menja juga sama bergambar bunga lavender, lalu di meja samping ranjang ada pas bunga terisi bunga lavender yang masih segar dan harum.


"Nak, Papa hanya mau bilang kalau kamar ini masih tetap sama, Papa juga masih selalu mengisi bunga lavendir di pas itu, kalau pun Papa tidak ada, maka asisten rumah tangga yang di percaya untuk membereskan kamar ini untuk mengganti bunga lavender."


Lisa tidak tau kenapa Papa mertuanya mengatakan itu, tapi ia tidak di ambil pusing, mungkin Papa mertuanya memang sangat merindukan Kalisa.


"Kalisa, betapa beruntungnya kamu yang selalu di istimewakan oleh lelaki tulus seperti Papa." batin Lisa


"Papa hanya ingin saat kamu kembali kamu tau kalau semuanya tidak ada yang berubah, Papa hanya ingin kamu tau, kalau Papa tidak pernah melupakanmu sedikit pun, Papa masih sangat ingat masa-masa bersamamu, dan Papa ingat setiap kali Papa membangunkanmu, kamu sulit untuk di bangunkan, tapi saat harum lavender kamu langsung bangun untuk mencium bunga kesukaanmu."


Lisa masih diam hingga ia melihat foto yang ada di meja panjang, ia langsung berjalan ke arah foto tersebut, ia melihat foto ke dua orang tua dalam mimpinya dan Gadis kecil dalam mimpinya, sedangkan sebelah Gadis kecil ia sudah bisa menebak kalau foto itu adalah Papa mertuanya.


"Pa, wanita ini yang ada dalam mimpi Lisa, wanita ini yang di tembak tepat di kepalanya dengan ruangan sangat gelap, lalu Gadis kecil itu di suruh berlari, setelah mendengar suara tembakan ke dua Lisa sudah bangun, jadi mimpi itu tidak pernah selsai, Pa, sebenarnya siapa wanita ini?"


"Dia adalah Liana Tasya, dan sebelahnya Sanjaya Atmaja, sedangkan Gadis kecil itu putrinya, sebelahnya adalah Papa, mereka bertiga ada kaitanya dengan kamu Lisa."


Lisa menghela napas berat sambil memegang dadanya sendiri saat tiba-tiba ia merasa sakit di dadanya.


Ada apa dengan hatiku, kenapa hatiku begitu sakit?" batin Lisa


Lisa langsung memegang pipinya karena merasa basah.

__ADS_1


"Kenapa aku menangis?" batin Lisa


Lisa tidak mengerti kenapa dadanya terasa sakit dan air matanya tiba-tiba mengalir deras.


"Pa, siapa mereka? Kenapa hati Lisa sangat sakit, dan kenapa air mata Lisa tiba-tiba menetes?"


Lisa bertanya sambil melihat air mata yang ada di tanganya, ia merasa sedih, tapi ia tidak tau kenapa.


"Kamu sudah mendengar dari internet kalau mereka berdua meninggal karena apa nak?"


"Iya Pa, Lisa sudah membacanya, tapi Lisa masih bingung hingga sekarang, di internet beredar kalau putri mereka meninggal di kamar dengan keadaan terbakar, tapi kata Papa Kalisa masih hidup, jadi sebenarnya yang meninggal siapa?"


"Yang meninggal adalah Naina, putri dari asiaten pribadi Papa, Naina memang sudah meninggal 4 jam sebelum kejadian di mana Mama dari Kalisa di bunuh, dan Papa yang meminta pada ibu Naina untuk menyelamatan Kalisa dengan mengganti jasad Naina, apa lagi dia sama sekali tidak keberatan asal jasadnya di gunakan untuk menyelamatan orang lain, itu kenapa Papa memalsukan kematiannya untuk mengungkap siapa dalang dari rencana pembunuhan itu.


"Sedangkan Sanjaya sendiri, dia bukan meninggal karena di bunuh, melainkan bunuh diri, saat itu kejadiannya Papa juga ada di sana, hanya saja Papa terlambat datang, Papa datang setelah Liana di tembak, Sanjaya memilih untuk bunuh diri dari pada dia memberikan semua asetnya pada orang yang salah, sebelum meninggal dia juga mengatakan pada Papa untuk menjaga Kalisa dan meminta untuk menikahi Kalisa."


Lisa menghela napas berat dengan air mata yang semakin mengalir, ia tidak tau kenapa ia merasa semakin sedih.


"Sebelumnya mereka tidak setuju saat Papa menginginkan Kalisa untuk menjadi milik Papa, apa lagi Sanjaya, karena Sanjaya sudah tau siapa Papa, dulu Papa pernah bergabung dengan anggota mafia dari usia Papa 17 tahun dan hingga Papa menjadi ketua mafia, membunuh adalah kesenangan Papa di masa lalu, hanya Kalisa yang bisa membuat Papa meninggalkan masa kelam di masa lalu."


Kematian ke dua orang tuanya membuat Bagas harus berdiri sendiri tanpa percaya dengan siapa pun itu, apa lagi yang membunuhnya sahabat dari orang tuanya sendiri, jelas membuat ia selalu waspada, dan kematian orang tuanya membuat ia ikut menjadi anggota mafia untuk mengungkap siapa saja dalang yang merencanakan pembunuhan untuk ke dua orang tuanya.


Lisa menganga tidak percaya saat mendengar Papanya pernah membunuh orang, terlebih pernah menjadi ketua mafia, beberapa langkah ia mundur, takut itu lah hal pertama setelah mendengar penjelasan dari Papa mertuanya.

__ADS_1


"Papa membunuh orang bukan asal membunuh sayang, tapi Papa membunuh orang-orang yang telah membunuh orang tua Papa."


Bagas berbicara sambil maju beberapa langkah, ia tau kalau menantunya sudah mulai ketakutan.


"Saat pembunuhan terjadi usia Papa baru saja 17 tahun, bahkan kematian mereka saat merayakan ulang tahun Papa, hanya Papa yang selamat karena di dorong ke lautan oleh Mama saat itu hingga Papa sadar di rumah seorang nelayan."


Bagas lebih memilih menceritakan segalanya dari pada nanti menantunya tau dari para sahabatnya kalau ia pernah menjadi ketua mafia, ia tidak mau menantunya mendengar dari orang lain, lebih baik ia sendiri yang menjelaskan masa lalunya.


"Intinya, Papa tidak pernah membunuh orang tidak bersalah sayang, begitu pun keluarga Kalisa, Papa yang membunuh mereka setelah mengungkap siapa dalang yang ingin membuh orang tua Kalisa termasuk Kalisa, Papa tidak ingin nyawa Kalisa terancam, karena setelah Papa membalas dendam untuk orang tua Papa, Papa berpikir ingin mati saja, tapi Kalisa hadir untuk mengisi masa-masa kelam Papa, untuk itu Kalisa adalah wanita yang paling berharga untuk Papa, tanpa dia Papa tidak pernah ada artinya lagi untuk hidup di dunia ini."


Lisa yang awalnya ketakutan, rasa takut itu hilang seketika, sekarang berubah menjadi rasa cemburu, ia mencengkram kuat gaun yang ia gunakan.


Lisa tidak tau kenapa Papa mertuanya mengatakan cinta kalau hatinya masih untuk Kalisa, membuat napas ia memburu dan merasa sangat kecewa, ia merasa di dorong dari atas gunung ke dasaran jurang, ia merasa hatinya begitu remuk saat kata manis dari Papa mertuanya itu hanya sebuah rayuan.


"Kenapa aku menjadi wanita bodoh untuk yang ke dua kalinya karena cinta, hingga aku rela di tiduri oleh lelaki yang masih mencintai wanita lain? Lisa, seharusnya kamu sadar, kamu hanya wanita mandul yang tidak berguna, tidak akan ada lelaki yang mencintaimu dengan tulus." batin Lisa


"Kamu kenapa nak?"


Bagas bertanya sambil maju ke arah menantunya, ia baru saja akan mengusap air mata menantunya, tapi menantunya menepis tangan ia dengan kasar dan berjalan mundur ke arah pintu.


"Maafkan Papa nak, Papa jujur semuanya karena Papa tidak mau kalau kamu tau dari orang lain tentang Papa."


Lisa masih terus berjalan mundur sambil menghapus air matanya,dan ia berkali-kali memukul dadanya sendiri karena terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2