
Setelah sampai rumah Bagas langsung membaringkan tubuh menantunya yang di ikuti oleh seorang wanita yang tidak lain adik angkat darinya, berprofesi sebagai dokter.
"Kak, bukan'kah dia Kalisa?"
Wanita yang bernama Olivia Samudra itu sangat terkejut saat melihat wajah Lisa, ia memang tau kalau Kalisa sudah di ganti identitasnya menjadi Lisa, walau pun ia tinggal di luar negri, dan baru kembali 5 hari yang lalu.
Nama Samudra adalah nama pemberian dari Bagas, sedangkan dulu namanya adalah Olivia Septiani.
"Iya, dia Kalisa, dia pingsan karena mengingat masa lalunya."
Bagas berbicara sambil menyelimuti menantunya, lalu ia mengecup kening menantunya sekilas.
"Kak, apa Kakak bertindak gila? Bukan'kah dia istri Rafa putra tiri Kakak sendiri?"
"Kakak tidak gila, Kakak hanya mengambil kembali milik Kakak, sampai kapan pun Kalisa hanya milik Kakak Liv."
Olivia menghela napas berat, rasanya ia ingin sekali menampar Kakak angkatnya sendiri yang sudah gila karena cinta.
"Kak, tolong jangan hancurkan kebahagian mereka."
"Rafa sendiri yang menghianati pernikahan mereka, lalu Kakak salah ingin menjadi sandarannya di saat Kalisa menangis? Lalu apa Kakak harus diam di saat wanita yang Kakak cintai tersakiti?! Oliv, Kakak tidak akan pernah melepaskan Kalisa, walau pun Kakak harus berkali-kali terluka karena Kalisa masih tidak mengenali Kakak, tapi Kakak lebih baik Kalisa tidak mengingat apa pun dari pada Kalisa harus membenci Kakak."
Olivia menghela napas berat, ia bisa melihat di mata Kakak angkatnya banyak kesedihan membuat ia hanya bisa mengakhiri percakapannya, ia tidak ingin memperpanjang perkara, apa lagi ia sangat ingat kalau ia hanya adik angkat dari Bagas.
"Iya sudah Oliv keluar dulu, kalau Kakak butuh bantuan Oliv, Kakak panggil Oliv."
"Iya."
Setelah adik angkatnya keluar Bagas langsung duduk di samping menantunya, ia menghela napas berkali-kali, ia tau apa yang ia lakukan sangat salah, tapi perkara masalah ini di mulai oleh putra tirinya sendiri hingga ia memiliki kesempatan kembali untuk mendekati wanita yang di cintainya.
"Papa memang salah Kalisa, tapi Rafa sendiri yang membiarkan Papa masuk di tengah-tengah hubungan kalian, apa Papa salah menginginkan kamu kembali?" batin Bagas
Cukup lama Bagas duduk hingga sekitar 30 menit menantunya sadar. Lisa membuka matanya perlahan, ia melihat Papa mertuanya yang sedang memegang tangannya dengan ke dua tangan Papa mertuanya membuat ia tersenyum lebar.
"Papa."
"Kamu sudah sadar nak?"
Bagas langsung berdiri ia langsung memeluk menantunya yang masih berbaring.
__ADS_1
"Maafkan Papa."
Lisa membalas pelukan dari Papa mertuanya sambil menggelengkan kepalanya, mana mungkin ia bisa menyalahkan Papa mertuanya saat melihat Papa mertuanya begitu kuatir dan sedih melihatnya. Bagas langsung melepaskan pelukannya, ia membantu menantunya untuk duduk.
"Lisa hanya pingsan Pa, bukan sakit, jadi jangan lebay."
"Papa bukan lebay, Papa sangat kuatir sama kamu nak, malam ini kita menginap di rumah ini iya?"
"Ini rumah siapa Pa?"
Lisa bertanya sambil melihat ke sekeliling kamar yang ada foto besar milik Papa mertuanya bersama seorang Gadis kecil, ia yakin kalau Gadis itu adalah Kalisa.
"Ini kamar kita."
Lisa mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Papa mertuanya.
"Pa, ini Lisa, bukan Kalisa."
"Iya Papa sangat ingat kalau kamu Lisa."
"Apa ini rumah Papa?"
"Jangan-jangan kalau Papa tidak pulang hingga 1 bulan lamanya Papa tinggal di sini?"
"Iya Papa tinggal di rumah ini."
"Lalu kenapa Papa memberi tahu pada Lisa? Apa Papa tidak takut kalau Lisa bilang Papa memeliki selingkuhan dan memiliki rumah lain?"
"Kamu akan menjadi istri Papa di masa depan, mana mungkin Papa tidak mengatakan apa pun padamu nak, sudah Papa bilang kalau Papa sangat mencintaimu, mungkin usia Papa sudah tidak pantas mengatakan cinta, apa lagi kamu pantasnya menjadi putri Papa, tapi ucapan Papa memang dari hati."
Lisa langsung tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari Papa mertuanya, ia sangat bahagia saat Papa mertuanya mengatakan ia akan menjadi istri Papa mertuanya di masa depan.
Bahkan Lisa Lupa kalau beberapa hari ini ia sedih dan menangis oleh suaminya semenjak ia tidur bersama Papa mertuanya.
"Senyum-senyum bikin Papa gemes sama kamu sayang!"
Bagas langsung mencum bibir menantunya, bukan ciuman sekilas melainkan ciuman yang semakin menuntut hingga lama-kelamaan menantunya juga membalas ciumannya.
Setelah 4 menit Bagas mengakhiri ciumannya dengan mencium kening menantunya cukup lama.
__ADS_1
"Maafkan Papa, seharusnya Papa bertanya tentang kepalamu bukan menciummu nak."
Bagas minta maaf sambil menghela napas berat, ia malu dengan pikirannya yang sangat mesum dan seolah-olah ia hanya mengharapkan kepuasan dari menantunya.
"Tidak apa-apa Pa, Lisa suka."
Setelah mengatakan itu Lisa langsung duduk di pangkuan Papa mertuanya sambil mengalungkan ke dua tangannya pada leher Papa mertuanya, ia langsung mencium Papa mertuanya lagi, ciuman yang awalnya biasa saja menjadi ciuman yang semakin menuntut membuat Papa mertuanya tidak bisa mengimbangi ciumannya.
Bagas yang memang tidak pernah berciuman membuat napasnya memburu hingga membuat menantunya tertawa saat melihat ia yang tidak bisa mengimbangi ciuman dari menantunya.
"Papa seperti tidak pernah berciuman saja!"
"Kamu adalah orang pertama yang Papa cium selain kecupan singkat."
Bagas berbicara sambil merapihkan rambut menantunya, memang benar menantunya adalah orang pertama yang ia cium selain kecupan singkat, selama menikah dengan Lusi 16 tahun, ia tidak pernah mencium istrinya seperti mencium menantunya.
Bagas hanya akan mengecup singkat istrinya, begitu pun istrinya yang hanya mengecup singkat bibirnya karena ia selalu menolak saat istrinya mengajak ciuman yang lebih.
"Papa bohong! Memangnya Papa tidak pernah mencium Mama?"
"Kalau hanya kecupan singkat memang pernah, begitu pun dengan Lusi yang akan mengecup singkat bibir Papa, karena Papa selalu menolak setiap kali Lusi mengajak ciuman yang lebih."
"Kenapa Pa?"
"Bibir Papa hanya milikmu sampai kapan pun juga."
Lisa mengerutkan keningnya, jujur saja ucapan dari Papa mertuanya membuat ia tidak mengerti, tapi ia yakin kalau Papa mertuanya memang sudah mengenal ia dari kecil.
Namun pemikiran Lisa yang menganggap Papa mertuanya mengenalnya dari kecil ia tepis, masih ada nama Kalisa di hati Papa mertuanya, mungkin juga Papa mertuanya tidak ingin melakukan itu karena ciumannya untuk Kalisa, tapi kenapa Papa mertuanya menciumnya membuat ia pusing dengan jalan pikiran Papa mertuanya.
"Lisa tidak tau, ciuman Papa hanya untuk Lisa atau dulu berpikir hanya untuk Kalisa, Lisa bingung sendiri memikirkan hal ini."
"Tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting."
Bagas langsung menarik menantunya dalam pelukannya yang masih dalam pangkuannya, ia mengecup kening menantunya berkali-kali.
"Nak, Papa minta jangan mencoba memaksa mengingat apa pun, biarlah waktu yang membuatmu ingat segalanya, jangan bertanya tentang Kalisa jika Papa tidak menceritakannya, biarlah waktu yang membuka semua kebenaran kita di masa lalu, Papa tidak ingin melihatmu sampai pingsan lagi, tapi Papa juga tidak ingin kamu tidak mengingat apa pun tentang kita, intinya tolong cintai Papa apa pun yang terjadi nanti."
Lisa hanya bisa menghela napas berat sambil mengangguk, ia membiarkan waktu yang menjawab semua tentangnya bersama Papa mertuanya.
__ADS_1