
Sekarang Lisa sedang makan di suapi oleh Papa mertuanya menggunakan tangan seperti permintaannya tanpa sendok, jujur saja ia sangat bahagia saat melihat Papa mertuanya yang sangat memanjakannya.
"Ternyata Papa hebat bisa memasak apa pun yang Lisa mau, Lisa pikir Papa tidak bisa masak."
"Apa pun akan Papa lakukan hanya untukmu sayang."
Memang benar dulu Bagas sama sekali tidak tau cara memasak, tapi setelah mengenal Lisa ia mau belajar memasak hingga 1 tahun, lalu saat usia Lisa 6 tahun ia sering membawakan makanan buatannya untuk Lisa.
Bagas akan melakukan apa pun untuk wanita yang di cintainya sekali pun ia menjadi orang bodoh di depan Lisa, tapi ia tidak masalah asalkan bisa selalu bersama Lisa.
Lagi-lagi ucapan Papa mertuanya membuat Lisa bahagia, ia langsung mengecup singkat bibir Papa mertuanya, tidak peduli di sana ada asisten rumah tangga.
Sedangkan Olivia sudah pamit untuk bertemu kekasihnya dari saat Bagas baru masak ikan.
"Terima kasih Papa."
"Sama-sama sayang."
Bagas berbicara sambil mengelus pelan kepala menantunya menggunakan tangan kiri sambil tersenyum lebar.
Beberapa asisten rumah tangga yang ada di ruangan itu baru pertama kalinya melihat Bagas tersenyum lebar, biasanya Bagas hanya memasang wajah tegas, tapi kini mereka melihat senyuman Bagas karena seorang wanita muda.
Mereka memang mengenal Lisa dari televisi dan majalah yang selalu di lihat Bagas, tapi mereka tidak tau kalau Lisa adalah Kalisa, Gadis kecil yang pernah tinggal di rumah Bagas hingga 3 bulan lamanya di masa lalu.
Namun yang jelas mereka sangat bahagia saat melihat Bagas bisa tersenyum lagi, apa lagi ada juga yang tau perkara Bagas di masa lalu yang harus membawa Kalisa ke singapure untuk pengobatan karena kecelakaan dan mereka melihat Bagas pulang sendiri, dan semenjak itu mereka tidak pernah melihat Bagas tersenyum lagi, mereka hanya berpikir mungkin Kalisa meninggal karena melihat wajah Bagas yang selalu murung.
"Papa, Lisa sudah kenyang."
__ADS_1
"Iya Papa juga memang sudah kenyang dari tadi, tapi saat melihat makan kamu lahap jadi Papa masih ikut makan."
"Habis masakan Papa enak, tapi kalau seperti ini terus badan Lisa bisa gemuk."
"Tidak gemuk, tubuhmu akan lebih berisi sayang."
Setelah mengatakan itu Bagas langsung berjalan ke arah westapel ruang makan untuk mencuci tangan.
"Iya kalau tubuh Lisa tambah berisi jelek tau Pa."
"Kamu tetap cantik sayang, Papa tidak mau kamu terlalu menjaga pola makanmu, kamu sekarang bukan seorang model atau seorang artis lagi, jadi tidak perlu selalu menjaga pola makanmu."
Sebenarnya Bagas lebih menyukai menantunya sebelum menjadi model dengan tubuh yang berisi dan pipi yang sangat cabbi, namun sekarang menantunya terlalu kurus semenjak terjun sebagai model, tapi apa pun yang di lakukan Lisa ia tetap mendukungnya secara diam-diam.
Lisa langsung memeluk Papa mertuanya dari belakang saat Papa mertuanya masih berdiri di wastapel.
"Papa selalu saja merayu Lisa, kalau Lisa jadi terus baper bagai mana?"
Bagas langsung mengelap tangannya, lalu langsung membalikan tubuhnya, kini ia saling tatap dengan menantunya yang masih memeluk pinggangnya.
"Kalau Lisa ingin memiliki Papa seutuhnya bagai mana? Ingat Pa, biasanya pelakor itu tidak tau malu dan tidak tau diri."
Bagas hanya tertawa saat mendengar pertanyaan dan ucapan terakhir menantunya yang menurutnya lucu.
"Lalu bagai mana kalau Papa di posisi itu? Bagai mana kalau Papa yang ingin memilikimu seutuhnya?"
"Papa belum berpisah dengan Mama, Lisa tidak mau di madu lagi Pa, tapi Lisa juga ingin merasakan Mama di posisi Lisa."
__ADS_1
Bagas menghela napas berat saat mendengar ucapan dari menantunya yang menurutnya berbelit-belit, tapi ia bisa mengerti ucapan dari menantunya.
"Papa tidak bisa membiarkan kamu untuk di madu, walau pun kamu menginginkan Mama juga berada di posisimu, tapi pemikiran itu sama sekali tidak terbesit dalam pemikiran Papa. Lisa, Papa masih banyak ketakutan, Papa takut kalau suatu saat kamu membenci Papa, Papa takut kalau suatu saat kamu tidak ingin lagi bertemu Papa, tapi yang jelas kamu harus tau kalau kamu satu-satunya wanita yang membuat hati Papa tergerak dari Papa tau rasa bahagia, sedih, kecewa, marah dan sabar, kamu satu-satunya wanita yang membuat Papa merasakan itu setelah ke dua orang tua Papa meninggal."
Setelah mengatakan itu Bagas menghela napas berat sambil menunduk, ia memang tidak pernah ingin melakukan itu pada menantunya, walau pun semua itu untuk membalas dendam, tapi ia takut kalau suatu saat menantunya membencinya saat ingat masa lalunya karena ia menyetuji permintaan almarhum sahabatnya di masa lalu.
Apa lagi bayang-bayang masa lalu selalu menghantui Bagas, di mana saat menantunya kecelakaan saat mengatakan kalau menantunya hanya ingin mati.
"Kenapa Papa menyetujui permintaan Om Angga? Papa sudah janji akan menikahi Kalisa setelah Kalisa dewasa! Kalisa benci Papa! Kalisa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Papa dan Mama sudah meninggal, Om Kenny tidak di ketahui keberadaannya, keluarga orang tua Kalisa menghancurkan segalanya, Pa, dari pada Kalisa melihat Papa menikah lebih baik Kalisa mati!!"
Kata itu masih terdengar di telinga Bagas hingga sekarang, kata itu selalu saja membuatnya merasa bersalah, hingga tidak terasa air matanya langsung mengalir deras.
Lisa yang melihat Papa mertuanya menunduk sambil meneteskan air mata, ia langsung memeluk Papa mertuanya dengan sangat erat.
"Lisa tidak tau kenapa Papa menangis, Lisa tidak tau hati Papa sehancur apa, tapi yang jelas hati Lisa sangat sakit setiap kali melihat Papa menangis, bukan Lisa cemburu dengan Kalisa, tapi Lisa lihat beban yang ada di hati Papa sangat berat. Pa, Lisa siap mendengar semua keluh kesah Papa, tolong jangan seperti ini."
Bagas langsung menghapus air matanya, ia langsung membalas pelukan dari menantunta.
"Papa hanya takut kamu membenci Papa untuk ke dua kalinya, Papa hanya takut kehilanganmu untuk yang ke dua kalinya. Lisa, Papa harap kamu tidak akan pernah meninggalkan Papa apun yang terjadi kelak."
"Pasti Pa."
Lisa tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, tapi ia tidak berani bertanya karena mengingat ucapan dari Papa mertuanya yang mengatakan tidak boleh bertanya, biarlah waktu yang menjawab semuanya, membuat ia hanya bisa diam walau pun penasaran.
"Pa, jujur Lisa tidak tau kenapa di saat rumah tangga Lisa di terjang masalah, tapi di saat bersamaan Lisa mencintai Papa, bukan karena Lisa kesepian, tapi Lisa merasa kalau Lisa sebelumnya memang pernah mencintai Papa, perasaan cinta Lisa begitu besar, sebelumnya Lisa tidak pernah cemburu saat melihat Rafa dekat dengan wanita dari sebelum menikah mau pun sudah menikah, tapi saat Papa mengatakan Kalisa, jujur saja hati Lisa sangat sakit."
"Hatimu baik-baik saja saat mengatakan tentang Rafa?"
__ADS_1
"Hati Lisa sudah baik-baik saja Pa, mungkin memang perasaan ini sudah mati, saat ketulusan di balas dengan penghianatan, Lisa tau Lisa juga mungkin sama bejatnya seperti Rafa, tapi bagi Lisa lelaki yang sudah mengingkari janjinya tidak pantas untuk Lisa tangisi, apa lagi sekarang ada Papa yang selalu ada untuk Lisa."
"Iya Papa akan selalu ada untukmu sayang."