
Sudah 10 hari di mana suami Lisa membawa istri ke duanya ke rumah, hati ia sudah mulai baik-baik saja, walau pun hatinya masih sakit, tapi Papa mertuanya selalu menghiburnya hingga rasa sakit di hatinya itu mulai mereda di gantikan rasa baper dengan Papa mertuanya.
Permasalahan dengan Mama mertuanya tidak pernah ada habisnya, Mama mertuanya selalu saja mencari perkara membuat Lisa selalu menghadapi semuanya dengan ekstra sabar, tapi senjata utama yang ia gunakan untuk melawan Mama mertuanya adalah perselingkuhan Mama mertuanya.
Besok suami Lisa dan istri ke duanya termasuk Mama mertuanya akan pergi liburan, sedangkan Papa mertuanya sudah berangkat satu hari yang lalu ada perjalanan bisnis.
"Lisa, kamu akhirnya kalah olehku, sekarang Rafa mau pergi liburan bersama keluargaku, dan kamu selamat menikmati kesedihanmu."
Lisa yang sedang memasak untuk membuat sarapan untuk ia sendiri menghela napas pelan, ia melihat ke arah Luna sambil tersenyum.
Memang perkara liburan itu sudah di bahas 4 hari yang lalu, dan awalnya suaminya menolak, tapi pada akhirnya suaminya mau liburan juga atas paksaan Mama mertuanya.
"Aku tidak peduli, lagi pula sampah memang cocok dengan sampah, lagi pula perusahaan Setiawan Grup tinggal menghitung hari lagi akan bangkrut. Luna, sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menandingiku, ingat status kita sangat berbeda, kamu hanya istri ke sayangan Mama mertua, sedangkan aku istri kesayangan suamimu, buktinya saat kamu meminta di belikan baju, suamimu tidak membelikannya dan meminta uang pada Mamanya, sedangkan aku hingga menghabiskan 3,5 triliun."
Lisa menjawab ucapan dari Luna sambil tersenyum lebar.
"Oh iya, kamu harus ingat status utamamu yang hanya istri siri, dan bisa jadi keluarga suamimu itu hanya menginginkan bayi dalam kandunganmu, tapi tidak menginginkanmu, seharusnya kamu tau kalau otak Mama sangat berbisa dari pada ular."
Setelah mengatakan itu Lisa langsung menuangkan nasi gorengnya ke piring, lalu langsung pergi ke arah meja makan, ia tidak peduli pada Luna yang sudah sangat emosi.
Menurut Lisa sekarang ia harus mengisi perutnya terlebih dahulu agar bisa melawan orang-orang jahat seperti Luna dan Mama mertuanya.
"Kamu semakin hari semakin kurang ajar! Masak saja hanya untuk sendiri, lalu Mama suruh makan apa?!"
Lusi yang baru datang ke meja makan ia langsung bertanya pada menantunya yang sedang makan sudah dua suapan.
"Mama bisa membuat sarapan sendiri, atau Mama menyuruh menantu kesayangan Mama untuk membuat sarapan?"
"Dasar gila kamu, lagi pula kenapa kamu berani mengancam Mama kalau Mama menyuruh asisten rumah tangga kamu akan mengirim video itu pada suami Mama?!"
"Masih bersyukur Lisa masih memiliki hati nurani, kalau tidak memiliki hati nurani, bisa saja Lisa langsung mengirim video perselingkuhan Mama pada Papa."
Perkara Lisa menujukan video pada Mama mertuanya itu kemarin pagi setelah Papa mertuanya pergi untuk perjalanan bisnis, karena kemarin ia di tampar hingga 4 kali oleh Mama mertuanya hingga membuat ia mengancam Mama mertuanya dengan video yang di kirim oleh Raka.
"Dasar menantu kurang ajar!!"
__ADS_1
"Lisa tidak kurang ajar, lagi pula sejak kapan Mama menganggap Lisa sebagai menantu Mama? Bukan'kah Lisa hanya di anggap benalu di rumah ini?"
Lisa bertanya sambil menyuapi mulutnya sendiri, walau pun perutnya sudah tidak napsu makan karena di ganggu oleh Mama mertuanya, tapi ia tetap melanjutkan makan, ia tidak mau sampai sakit, apa lagi ia tidak memiliki siapa pun untuk sandaran di rumah ini karena Papa mertuanya pergi untuk perjalanan bisnis.
"Dasar wanita mandul!"
Lusi berbicara sambil mengangkat tangannya akan menampar menantunya, tapi tangannya terhenti saat menantunya mengancamnya.
"Mama menampar Lisa akan Lisa pastikan video Mama dan Pak Rangga akan sampai di tangan Papa."
"Ah!!"
Lusi berteriak sambil menurunkan tangannya lalu langsung pergi dari meja makan. Setelah kepergian Mama mertuanya Lisa hanya tertawa terbahak-bahak, kalau saja ia tau perselingkuhan Mama mertuanya dari dulu, mungkin Mama mertuanya tidak akan semena-mena.
"Raka memang sahabat terbaik, bisa membuat Mama tidak bisa semena-mena." batin Lisa
Lisa menghela napas berat sambil mengusap wajahnya dengan sangat kasar saat mengingat tidurnya semalam yang tidak nyenyak, ia tidak mengerti kenapa Papa mertuanya bisa membuat tidurnya tenang dan nyaman, walau pun hanya memegang tangan Papa mertuanya.
"Sebenarnya Papa siapa? Kenapa Papa bisa membuat tidurku lebih nyaman? Aku harus menemui Mama setelah ini, apa jangan-jangan aku memang ada kaitannya dengan Kalisa atau aku kembaran Kalisa, tapi Mama tidak pernah mengatakan kalau aku memiliki sodara kembar." batin Lisa
Lisa langsung menyudahi makannya, ia langsung mengambil tas dan kunci mobil milik Papa mertuanya karena sebelum berangkat Papa mertuanya sudah berpesan kalau ia boleh memakai mobil milik Papa mertuanya.
Bruk...!!
"Ah!!"
Lisa berteriak sambil menghentikan mobilnya dan kepalanya mengenai setir hingga keningnya lecet.
"Huh, gara-gara lagu sialan, tapi sebenarnya siapa yang menyayi lagu ini, kenapa suranya sangat akrab?" batin Lisa
Tiba-tiba saja pintu mobilnya di ketuk oleh seorang polisi lalulintas.
Tok-tok.
Lisa langsung turun dari mobil sambil memegang keningnya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?"
Saat bertanya sambil menatapnya dengan seksama ia sangat terkejut karena mengenali Lisa, bukan karena Lisa pernah menjadi model dan sekaligus artis terkenal, tapi ia mengenali kalung yang di pakai Lisa.
"Nona Kalisa."
Walau pun polisi yang bernama Kenny itu sangat pelan memanggil nama Kalisa, tapi Lisa masih bisa mendengar panggilan itu.
"Saya Lisa, bukan Kalisa."
Kenny menganggukan kepalanya, ia yakin kalau identitas Kalisa di ganti oleh Bagas di masa lalu, karena ia dulu adalah asisten pribadi Kalisa sebelum orang tua Kalisa meninggal, jelas walau pun tidak dekat hingga 16 tahun yang lalu, ia masih bisa mengenali Kalisa dengan baik.
"Ternyata Tuan Bagas memalsukan kematian Nona Kalisa, tidak heran kenapa Tuan Bagas tidak begitu sedih saat melihat tubuh Nona Kalisa yang terbakar." batin Kenny
Namun Kenny bisa bernapas lega saat melihat Lisa baik-baik saja.
"Maaf, saya salah mengenali orang, wajah Nona memang sangat mirip dengan Nona Kalisa."
"Apa wajahku dan wajah Kalisa sangat mirip hingga Papa juga menciumku karena wajahnya sangat mirip dan sekarang Pak polisi ini juga memanggilku Kalisa." batin Lisa
"Iya tidak apa-apa."
"Apa adek tidak apa-apa?"
"Iya tidak apa-apa Pak."
"Apa adek bisa menyetir sendiri? Kalau tidak bisa biar Bapak antar kamu sampai alamat tujuan."
"Saya baik-baik saja, saya masih bisa menyetir, terima kasih banyak Pak."
"Iya sama-sama dek."
Kenny langsung membuka pintu mobil milik Lisa, lalu Lisa langsung masuk ke dalam mobil, tapi saat Lisa akan mengucapkan terima kasih untuk ke dua kalinya ia melihat Gadis kecil dari pandangan mata Kenny dan suara juga.
"Ayo Om Kenny kejar Kalisa! Ayo cepat!!"
__ADS_1
Suara itu sangat jelas di telinga Lisa hingga Lisa berteriak.
"Tidak!!!"