
Lisa menghela napas berat saat lagi-lagi Papa mertuanya meyakinkan ia kalau ia tidak mandul, ia memang belum pernah ke dokter untuk mengecek mandul atau tidak, tapi sudah 2 tahun menikah, ia memang masih belum bisa memiliki anak.
"Pa, Lisa sudah ikhlas kalau Lisa memang tidak bisa memiliki anak, selama Lisa bisa bersama lelaki yang Lisa cintai, Lisa sudah cukup bahagia, jadi Papa tidak perlu untuk meyakinkan Lisa kalau Lisa tidak mandul."
Bagas langsung melepaskan pelukannya, ia mengecup kening menantunya sekilas.
"Percaya sama Papa, kalau kamu akan bisa hamil."
Lisa hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Kamu tidak keberatan kalau namamu tetap menjadi Lisa Ayunda Wijaya bukan lagi Kalisa Ayunda Putri Atmaja?"
"Lisa tidak keberatan Pa, Lisa tau kalau Papa mengubah identitas Lisa untuk kebaikan Lisa."
Bagas menganggukan kepalanya, ia langsung mengajak menantunya ke kamarnya, lalu langsung mengambil sertifikat hotel dan perusahaan.
"Sini duduk nak."
Lisa menganggukan kepalanya, ia langsung duduk di samping Papa mertuanya.
"Ini adalah sertifikat yang di tinggalkan almarhum ke dua orang tua kamu, hotel dan perusahaan Atmaja Grup, sedangkan perusahaan milik Liana Tasya Papa jual sesuai permintaan mereka untuk di sumbangkangkan ke yayasan."
"Sekarang kamu tanda tangan sebagai pemilik sahnya, nanti Papa akan mengumumkan kamu sebagai pemiliknya, karena yang orang-orang tau kalau perusahaan Atmaja Grup dan Kalisa Atmaja hotel milik Papa."
"Pa, Lisa tidak berhak atas semua ini, ini memang milik Papa, selama ini Papa yang mengurus semuanya termasuk mengurus Lisa, jadi Lisa tidak menginginkan semua ini."
"Kamu berhak atas semua ini Sayang, ini semua milik kamu."
"Lisa tidak bisa mengurus semuanya Pa, apa boleh tetap Papa yang memegang semuanya?"
"Tentu saja boleh sayang, kalau kamu memang belum siap belajar dan tidak ingin belajar kamu boleh meminta Papa masih memegang semuanya, tapi kamu tetap harus menandatanganinya, karena suatu saat Papa juga menginginkan hubungan kita di ungkap di publik."
"Papa mau mengungkap perselingkuhan kita?"
Lisa bertanya dengan wajah terkejut yang langsung mendapatkan sentilan di kening oleh Papa mertuanya.
Pltek!
"Aw sakit Pa."
"Kamu itu gila sayang? Mana mungkin Papa akan mengungkap perselingkuhan kita, kamu jangan berpikir gila, maksud Papa kalau kita sudah sama-sama resmi bercerai, baru hubungan kita di unggah di publik."
__ADS_1
Lisa hanya tersenyum meringis saat mendengar jawaban dari Papa mertuanya, ia pikir perselingkuhannya akan di unggah di publik.
"Kalau tentang ingatanmu, Papa ingin kamu mengingatnya dengan perlahan, Papa tidak mau kamu menemui piskolog, kamu paham?"
"Iya Pa, Lisa paham."
Lisa langsung menandatangani sambil tersenyum, ia sangat lega karena ternyata Kalisa itu ia sendiri.
"Nak, walau pun mereka bukan orang tua kandungmu, tapi Papa minta kamu tetap menganggap mereka seperti orang tua kamu sendiri, mereka berdua sudah 16 tahun mengurus kamu, apa lagi Maya tidak bisa memiliki anak karena kecelakaan saat menjalankan tugas yang Papa berikan saat masih Gadis, rahimnya harus di angkat."
"Tentu saja Lisa akan menganggap mereka berdua orang tua kandung Lisa Pa, Lisa tau kalau Mama dan Papa sangat tulus menyayangi Lisa bukan karena Lisa adalah orang yang Papa cintai."
"Besok Papa akan ajak kamu ke makam orang tua kamu."
"Iya Pa, terima kasih banyak karena sudah menjaga Lisa selama ini, terima kasih karena Lisa menjadi orang teristimewa di hati Papa."
"Kamu adalah wanita yang sangat Papa cintai, jadi kamu tidak perlu berterima kasih pada Papa, Papa hanya ingin apa pun yang terjadi nanti kamu tetap bersama Papa."
Memang masalah Kalisa sudah terselsaikan, tapi masalah ia menikahi Lusi dan masalah tentang obat penunda kehamilan Bagas belum jujur, walau pun dulu sudah tau kalau alasan ia menikahi Lusi karena permintaan sahabatnya, tapi ia tetap takut kalau menantunya membencinya lagi jika ingatannya kembali.
Walau pun sekarang sudah menjelaskannya, dan belum lagi tentang ingatan menantunya yang sengaja ia hapus.
Lalu alasan ke dua Bagas masih menyimpan rahasia tentang penunda kehamilan untuk menantunya, jelas masih ada tiga rahasia yang belum ia jelaskan pada menantunya.
Lisa langsung duduk di pangkuan Papa mertuanya, ia langsung memberi banyak ciuman pada wajah Papa mertua layaknya seperti seorang dewasa gemas pada anak kecil.
Bagas yang mendapat ciuman bertubi-tubi ia hanya memejamkan mata sambil tersenyum, ia tidak menyangka kalau pada akhirnya akan bisa mendapatkan wanita yang di cintainya lagi.
"Lisa sangat mencintai Papa."
Lisa berbicara sambil menggesekan hidungnya pada hidung Papa mertuanya.
"Papa juga sangat mencintai kamu sayang."
Bagas berbicara sambil membuka matanya, senyumannya tidak pudar dari tadi setelah menyelsaikan kesalah pahaman yang terjadi tadi.
"Kenapa Papa sampai sekarang tidak memiliki anak dari Mama?"
"Sudah Papa bilang kalau Papa tidak menginginkan anak dari Mama, selama kita menikah Papa selalu menggunakan pengaman jika Lusi meminta, kita berdua tidak pernah tidur di ranjang yang sama, setelah making love, alasannya karena Papa mencintai kamu, Papa tidak ingin semakin membuatmu kecewa, Papa juga sudah menghianati kepercayaan dari Sanjaya untuk menikahimu, jadi Papa tidak ingin terus membuat kesalahan, apa lagi Papa juga hanya mencintai kamu Kalisa."
Untuk pertama kalinya Bagas memanggil menantunya dengan nama Kalisa, nama panggilan yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Papa bilang katanya Lisa harus tetap memakai nama Lisa, kenapa Papa memanggil Lisa dengan panggilan Kalisa?"
"Papa sangat merindukan panggilan itu."
Setelah mengatakan itu Bagas langsung mengecup leher menantunya, saat menantunya masih kecil, ia selalu menciumi leher menantunya sambil bercanda.
Lisa yang terus di ciumi lehernya oleh Papa mertuanya membuat ia melihat bayang-bayang seorang Gadis kecil yang rebahan di atas ranjang Papa mertuanya, sedangkan Papa mertuanya menciumi leher Gadis kecil yang terus berteriak geli dan sambil tertawa membuat kepalanya sakit.
"Ah, sakit Pa!!"
Bagas langsung menghentikan ciumannya, ia langsung melihat wajah menantunya yang terlihat pucat.
"Sayang kamu kenapa nak?!"
"Kepala Lisa sakit Pa."
Lisa langsung memeluk Papa mertuanya dengan kepala yang ia sandarkan di dada bidang milik Papanya.
"Apa kamu perlu obat penenang nak?"
Bagas bertanya sambil menunduk untuk melihat menantunya.
"Tidak Pa, Lisa ingin ingat semua tentang kita."
"Tapi Papa tidak bisa melihat kamu tersiksa seperti ini nak."
"Pa, biarkan Lisa mengingat semuanya, tapi Lisa tidak menyangka kalau dulu ternyata Papa menang sangat mesum!"
Setelah mengatakan itu Lisa langsung tertawa terbahak-bahak, ia tidak mempedulikan Papa mertuanya yang sedang menghuatirkannya.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tawa dari menantunya, ia sudah lama menantikan masa-masa seperti sekarang yang ingin selalu memanjakan wanita yang sangat ia cintai.
"Papa bisa mesum sama Lisa yang baru saja berusia 7 tahun?"
"Papa bukan mesum, Papa hanya becanda sama kamu sayang."
"Becanda Papa itu keterlaluan, itu termasuk pelecehan Pa."
"Iya maafkan Papa kalau kamu merasa Papa sangat keterlaluan, tapi jujur saja saat itu Papa tidak berpikir mesum, Papa hanya ingin membuat kamu tertawa lepas tanpa memikirkan almarum orang tuamu."
Lisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lisa percaya kalau Papa tidak berpikir seperti itu, kalau ke dua orang tua Lisa sangat percaya sama Papa, kenapa Lisa harus meragukan Papa, Lisa sangat percaya sama Papa."