Hasrat Terlarang Untuk Menantuku

Hasrat Terlarang Untuk Menantuku
BAB. 30 Masak


__ADS_3

Lisa masih terus dalam pangkuan Papa mertuanya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Papa mertuanya.


Sesekali juga ia menghirup aroma tubuh Papa mertuanya yang membuat ia sangat nyaman.


"Aku tidak tau bagai mana hubunganku nanti bersama Papa, tapi aku berharap aku tidak berpisah dengan Papa walau pun mungkin akan ada masalah yang menerjang, terutama Kalisa, aku yakin kalau Kalisa akan menjadi penghalang kebahagianku, karena Kalisa wanita yang sangat Papa cintai." batin Lisa


Lisa yang terus saja memeluk Papa mertuanya tiba-tiba saja ia mendengar percakapan suara dari Papa mertuanya dan Kalisa.


"Sayang, kita tidur di sini mulai sekarang ini Kamar kita, agar saat kamu mimpi buruk Papa ada bersamamu."


"Iya Pa, Kalisa mau tidur bersama Papa, Kalisa sayang Papa!"


"Papa juga sayang kamu."


Seketika Lisa langsung menutup telinganya sambil berteriak.


"Tidak!! Aku bukan Kalisa! Kenapa aku selalu mendengar suara Kalisa dan Papa?!"


Sontak saja Bagas terkejut saat mendengar teriakan dari menantunya, ia langsung menurunkan ke dua tangan menantunya yang ada di telinganya sendiri dengan perasaan kuatir.


"Apa tidak apa-apa sayang?"


"Pa, Lisa tersika kalau seperti ini terus."


Lisa menjawab pertanyaan Papa mertuanya dengan mata yang memerah, ia merasa dadanya sakit saat mendengar percakapan mereka, ia merasa ia pernah mengalami di posisi Kalisa yang sangat menyedihkan karena dari suara seperti bekas menangis dan serak.


"Maafkan Papa nak, harusnya Papa tidak melakukan itu."


Bagas minta maaf dengan wajah memerah saat melihat mata menantunya yang akan menangis.


Bagas merasa sangat bersalah menghapus ingatan menantunya hanya akan membuat menantunya tersiksa.


Bagas langsung memeluk menantunya dengan sangat erat, tiba-tiba saja adik angkatnya langsung masuk saat mendengar suara teriakan dari Lisa.


"Dia kenapa Kak?!"


Olivia bertanya dengan raut wajah kuatir sambil berjalan ke arah mereka.


"Tidak apa-apa, dia hanya mendengar suara percakapan Kakak dan Kalisa."


Lisa langsung melepaskan pelukan dari Papa mertuanya ia langsung melihat ke arah wanita yang menurut ia wajahnya sangat akrab.


"Pa siapa dia?"


"Adik angkat Papa, namanya Olivia Samudra."


"Lisa merasa tidak asing dengan wajah Kakak ini?"

__ADS_1


"Kamu biasa memanggil saya Tante Oliv dan kamu biasanya."


Belum sempat Olivia menyelsaikan ucapannya, ia mendapat kode dari Kakak angkatnya dengan gelengan kepala membuat ia langsung diam.


"Tante? Apa kita sebelumnya pernah bertemu?"


"Oh tidak, saya lupa kalau kamu bukan Kalisa, maafkan saya Lisa, tapi kamu lebih baik memanggil saya Tante Oliv, jangan Kak Oliv, saya lebih suka di panggil Tante."


Lisa menganggukan kepalanya sambil tersenyum, ia langsung turun dari pangkuan Papa mertuanya.


"Pa, Lisa lapar."


"Kamu mau pesan atau mau masak masakan Papa?"


"Tentu saja mau makan masakan Papa kalau tidak keberatan."


"Tentu saja tidak asalkan nanti malam dapat jatah."


Bagas berbicara tepat di telinga menantunya hingga menantunya langsung memukul dada bidang miliknya.


"Papa kurang ajar! Papa me!"


Belum sempat Lisa melanjutkan ucapannya, ia sudah mendapatkan ciuman singkat dari Papa mertuanya membuat ia mematung di tempat, karena malu pada Olivia yang masih berdiri di kamar Papa mertuanya.


Bagas yang melihat reaksi menantunya, ia langsung berdiri sambil mengelus kepala menantunya.


"Hah?!"


Lisa sangat terkejut saat mendengar jawaban dari Papa mertuanya, ia tidak tau kenapa Papa mertuanya menceritakan hubungan terlarangnya, apa lagi ia dan Papa mertuanya masih memiliki status pernikahan.


"Iya sayang, Papa sudah menceritakannya kalau kamu adalah calon istri Papa pada Tante Oliv, iya sudah kalian lebih baik ngobrol saja dulu, Papa mau masak dulu."


"Lisa tidak mau ngobrol bersama Tante Oliv Pa, Lisa mau ikut Papa."


Bagas menganggukan kepalanya, ia langsung menggendong menantunya dengan ke dua tangan menantunya ia kalungkan ke lehernya.


"Liv, Kakak mau masak dulu."


"Iya Kak."


"Hanya Kalisa satu-satunya orang yang bisa membuat Kak Bagas menjadi orang bodoh, hanya Kalisa yang membuat Kak Bagas menjadi seperti budak, Kak, aku harap Kakak bisa selalu bahagia bersama Kalisa, aku tau penantian Kakak sudah cukup lama untuk menunggu hari ini yang ingin memanjakan Kalisa." batin Olivia


Hingga tidak terasa beberapa tetes air mata Olivia jatuh, ia ingat betul bagai mana perjuangan Kaka angkatnya ingin mendapat restu dari Sanjaya untuk menikahi Lisa, lalu Sanjaya menyetujuinya sebelum Sanjaya melakukan bunuh diri.


Olivia sangat ingat masa lalu Kakaknya yang harus melatih emosinya agar terbiasa di depan Lisa selalu berbicara lemah lembut walau pun pada orang lain.


Bagi mana pun juga Sanjaya sudah sangat kenal siapa Bagas, tentu saja saat itu Sanjaya tidak ingin putrinya jatuh ke tangan yang salah, sedangkan Olivia tau kalau Bagas adalah orang yang sulit untuk mengatur emosinya di masa lalu hingga Bagas berhasil.

__ADS_1


Namun nyatanya tidak semudah itu untuk Bagas menikahi Lisa setelah dewasa karena Bagas menghapus ingatan Lisa.


Olivia berkali-kali menghela napas sambil menatap Kakak angkatnya yang mulai menghilang menuruni tangga.


Bagas sampai di dapur, ia langsung menurunkan menantunya di meja samping kompor. Bi Ratna yang sebagai koki di sana langsung mendekati mereka.


"Mau di buatkan apa Tuan?"


"Tidak perlu, saya akan masak sendiri."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi Tuan, Nona."


Bagas dan menantunya hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Mau masak apa sayang?"


"Ikan goreng pedas manis."


"Sayurnya?"


"Lisa tidak mau sayur, Lisa sudah banyak makan buah bit jadi bosan."


Lisa memang tidak menyukai sayur, bahkan ia memakan sayur buah bit saja itu atas perintah dari Papa mertuanya, jadi ia mau tidak mau memakannya karena Papa mertuanya mengatakan ia tidak boleh kalah sebelum berperang melawan suami dan sahabatnya.


"Iya sudah Papa buatkan tumis bayam daging cincang kalau begitu, agar kamu tidak bosan, Papa tidak mau kalau kondisi tubuhmu menurun karena kurang darah."


"Papa dari tadi panggil Lisa sayang terus, nanti ketahuan sama Mama Lisa bisa di buat sate Pa."


Bagas langsung tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari menantunya tanpa menjawab ucapan dari menantunya.


"Iya sudah Papa masak dulu."


Setelah mengatakan itu Bagas langsung mencium bibir menantunya sekilas lalu langsung pergi ke arah kulkas untuk mengambil ikan, sedangkan bayam, ia mengambil di tempat sayuran yang baru di petik tadi dari belakang rumahnya.


Bagas memang sangat menyukai sayur-sayuran asli dari tanaman sendiri, jadi ada 4 orang yang kuhusus untuk fokus ke perkebunan miliknya.


Lisa menatap gerak-gerik Papa mertuanya sambil tersenyum lebar, dari Papa mertuanya menggoreng ikan sambil membuat bumbunya.


"Aku tidak pernah percaya kalau Papa ternyata jago memasak, lebih tidak percaya lagi yang di manjakan oleh Papa aku sendiri, apa lagi kalau mengingat masa lalu Papa tidak pernah berbicara setiap aku sapa, tapi sekarang aku bisa mendapatkan semua yang ada di diri Papa termasuk pusakanya." batin Lisa


Setelah berbicara di dalam hatinya Lisa langsung tertawa terbahak-bahak saat memikirkan hal yang mesum milik Papa mertuanya.


Bagas melihat ke arah menantunya sambil mengerutkan keningnya saat menantunya tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa sayang?"


Bagas bertanya sambil mendekati menantunya yang masih duduk di atas meja.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Lisa hanya tidak menyangka bisa di manjakan oleh Papa."


__ADS_2