HEART THE DEVIL

HEART THE DEVIL
Episode 10


__ADS_3

'Kau yang memberikan izin 'kakak', terimakasih atas hadiah yang kau berikan.' batin Mingyue tak kalah licik.


Mingyue pun kembali ke kamarnya untuk menjalankan rencana selanjutnya.


"Hua, ambilkan saya perlengkapan menjahit sekarang." perintah Mingyue.


"Baik nona." jawab Hua.


Setelah mendapatkan perlengkapan menjahit, Mingyue pun memodifikasi baju pemberian Ran Wei. Namun indra penciuman Mingyue tajam, ia mencium bau yang tidak asing dari baju tersebut.


'Ini....aroma obat levitra? bukankah ini sama saja akan membuat saya kehilangan kendali?, sepertinya dia sudah tidak sabaran untuk membuatku pergi dari sini!.' batin Mingyue.


"Sudah tidak bisa dipakai lagi!, Hua...ambilkan saya baju paling bagus." ujar Mingyue.


Hua pun mengambilkan baju terbagus milik Mingyue.


"Ini nona." ujar Hua lalu memberikan baju itu kepada Mingyue.


"Hua, baju ini sangat bagus, siapa yang memberikan baju ini?." tanya Mingyue.


"Itu pemberian dari mendiang nyonya Youhua, sebelum beliau melahirkan nona...nyonya Youhua mengatakan akan memberikan gaun ini saat anda sudah dewasa...namun sayangnya beliau sudah tidak ada." ujar Hua.


'Bukankah Hua melayaniku baru 7 tahun terakhir? dan nyonya Youhua meninggal saat melahirkanku? dan pastinya Hua tidak tahu apa-apa tentang kehidupan nyonya Youhua karena sekarang aku umur 13 tahun, dan seingatku tidak ada yang boleh mengungkit nama nyonya Youhua atas perintah orang tua itu....sepertinya ada rahasia yang harus saya selidiki dari Hua.' batin Mingyue.


'Kenapa nona Mingyue melihatku seperti itu? apa aku mengatakan sesuatu yang salah?.' batin Hua.


"Baiklah, saya akan memakai gaun ini dan tolong ambilkan hadiah yang aku siapkan." ujar Mingyue.


'Mari buat orang-orang itu bungkam!.' batin Mingyue.


••••••••••••


Acara pun dimulai, para bangsawan dan para pejabat lainnya mengucapkan selamat kepada perdana menteri.


Dan kini saatnya penyerahan hadiah untuk tuan Xinghu.


"Selamat ulang tahun ayah....putrimu selalu mendoakan yang terbaik untuk ayah." ucap Ran Wei sambil menyerahkan hadiah.


"Terimakasih anaku....kau memang putri kebanggaan ayah hahaha." ujar tuan Xinghu.


"Tentu saja, dia adalah putriku." ujar selir Canren bangga.

__ADS_1


"Hahaha, benar sekali...putrimu memiliki paras yang cantik dan juga bakat yang mengagumkan." ujar seorang pejabat lain.


Merasa senang karena selalu dipuji dan dibanggakan oleh ayahnya, Ran Wei berpikir untuk membuat tuan Xinghu lebih membenci Mingyue.


"Wah siapa dia?...aku tidak pernah melihatnya." ujar seseorang yang membuat perhatian semua orang teralihkan.


'Siapa dia? tapi wajahnya sedikit familiar.' batin tuan Xinghu.


'Sial! dia tidak mengikuti rencanaku! tapi aku tak bisa melakukan apa-apa sekarang!.' batin Ran Wei semakin membenci Mingyue.


"Mingyue memberi salam kepada ayah, semoga ayah panjang umur dan diberkati oleh Tuhan. Maaf karena keterlambatan saya." ujar Mingyue.


"Apa?! bernarkah itu Mingyue yang dulu?! benar-benar berubah.." ujar orang-orang mulai membicarakan perubahan Mingyue, sedangkan tuan Xinghu diam mematung.


'Dia benar-benar mirip denganmu, namun karena dia juga kau meninggalkan ku!.' batin tuan Xinghu yang masih keras hati.


"Sepertinya ayah tak menginginkan saya berada disini jadi, saya akan pergi kalau begitu...oh ya saya ada hadiah untuk ayah....harap anda tidak 'membuang' pemberian yang saya berikan ini." ujar Mingyue lalu memanggil Hua.


"Ada apa dengannya...bicara begitu formal?." ujar orang-orang.


Mingyue pun memberikan hadiah yang ia siapkan.


"Apa maksud ayah? itu hanya kain biasa...kenapa anda mengatakan hal yang bahkan tidak terpikirkan oleh saya? lebih baik ayah membukanya lebih dahulu baru mengucapkan sepatah kata." ujar Mingyue acuh.


'Tunggu! itu bukan hadiah yang aku berikan padanya! dia bengubah semua rencanaku! aku tidak sanggup lagi!.' batin Ran Wei.


"Putriku, bukankah kau bilang akan memberikan pelajaran pada gadis itu? kenapa tidak terjadi apapun? dan sepertinya tidak sesuai rencana yang kau buat.." ujar selir Canren.


"Ibu benar...dia mengubah semua rencana yang aku buat!." ujar Ran Wei menahan amarah.


Disisi lain tuan Xinghu perlahan membuka hadiah dari Mingyue.


'3....2.....1...GO....!'. batin Mingyue.


"Kau..." henti tuan Xinghu dan menjatuh kain putih dan memegang erat barang yang tadi dibungkus kain putih.


"Jika ayah sudah melihatnya, saya akan kembali terlebih dahulu." ujar Mingyue.


"Tunggu..." tahan tuan Xinghu yang membuat semua orang penasaran.


"Ada apa 'ayah'?." ujar Mingyue.

__ADS_1


"Apa maksud mu membuat ini? dan dari mana kau tahu dia...." ujar tuan Xinghu dengan nada bergetar.


"Entahlah, hanya saja....gambaran itu selalu terpikir dipikiran saya, jadi saya hanya melukisnya saja...berharap bisa terkabul namun takdir berkata lain." ujar Mingyue yang membuat semua orang diam penasaran namun tak bisa berkata.


"Heh...takdir? bukankah kau yang membuat takdirnya seperti itu!!!!." bentak tuan Xinghu yang membuat orang-orang memulai memahami sesuatu.


"Saya? itu bukan salah saya....saya tak meminta dilahirkan....seharusnya anda yang menjaganya dengan baik!! anda seharusnya berpikir untuk tidak menyakiti dia! anda sudah menyakitinya dengan membawa wanita lain disisi anda..benar bukan?!." sarkas Mingyue membuat semua orang diam membisu tanpa terkecuali tuan Xinghu yang merasa semua omongan yang dilontarkan Mingyue adalah kebenaran.


"Namun aku selalu adil terhadap semuanya! bahkan aku lebih menyayangi nya dari pada yang lain!." ujar tuan Xinghu menyangkal.


"Itulah sebabnya istri tercintamu itu bisa mati...apakah anda tidak berpikir bahwa yang anda lakukan salah? yah... memang anda lebih menyayangi ibuku....namun apakah anda tak pernah berpikir sekalipun bahwa wanita lain yang anda bawa ke kesini tak cemburu?...tentu saja dia cemburu dan akan melakukan sesuatu yang akan membuat perhatian seorang perdana menteri hanya tertuju pada nya." ujar Mingyue yang memandang sinis selir Canren.


Merasa dibicarakan, selir Canren menahan amarah dan benci terhadap Mingyue.


'Kau seorang ja**n* kecil namun sudah terlalu banyak yang kau tahu....seharusnya saat lahir kau ikut dengan ibumu itu!.' batin selir Canren.


Sebenarnya Mingyue hanya membuat hipotesis saja, karena secara logika jika pria lain memiliki hubungan lebih dari satu wanita, maka wanita yang mendapat lebih banyak perhatian sebenarnya akan kalah dengan wanita licik lainnya. Itulah yang diketahui Mingyue.


"Namun tetap saja kau yang telah membuat dia pergi dari ku! karena kau lahir dia sudah tidak ada! seharusnya kau yang mati!!!." ujar tuan Xingu terus saja menyangkal.


Perkataan itu membuat hati Mingyue merasa panas dan entah apa yang terjadi, pupil mata Mingyue yang tadinya berwarna berwarna coklat ke abu-abuan menjadi berwarna merah darah.


"Saya sudah mengatakan! SAYA TAK MEMINTA UNTUK DILAHIRKAN! bukankah anda juga yang membuat saya datang ke dunia ini? saat saya lahir hingga sebesar sekarang...SAYA TAK PERNAH MERASAKAN KASIH SAYANG! SAYA SELALU TERBELAKANG! SAYA HARUS MEMBERSIHKAN DIRI SAYA DIDALAM HUTAN YANG GELAP! SAYA HANYA MAKAN SAYUR HAMBAR BAHKAN BASI! SAYA SELALU DISIKSA DAN HAMPIR MATI BAHKAN ANDA TIDAK BERSEDIA MEMANGGILKAN TABIB UNTUK SAYA!! DAN SAYA SELALU DIPERMALUKAN OLEH KELUARGA ANDA!!...apakah itu belum cukup? apakah selama saya hidup maka saya harus mendapatkan perlakuan seperti itu sepanjang kehidupan saya?....saya bertanya pada anda 'AYAH'!!!." ujar Mingyue yang tanpa terasa air matanya mengucur deras. Ucapan yang membuat semua orang yang pernah menghinanya diam membisu tanpa ada yang menyela saat gadis itu berbicara.


'Aku menangis? namun sepertinya ini perasaan pemilik tubuh asli yang sudah lama ingin ia ucapkan, namun...kenapa hatiku panas dan sakit .' batin Mingyue sambil memegangi dadanya.


Setelah mengucapkan kata-kata yang begitu dalam dari lubuk hati, membuat tuan Xinghu jatuh tersimpuh dan menangis.


'Dia benar....seharusnya aku mendengarkan perkataanmu untuk menjaga anak kita...tapi aku malah membiarkannya menerima hinaan yang besar hingga aku saja tidak bisa menahannya.' batin tuan Xinghu.


"Uhuk!!.." suara tersebut mengejutkan semua yang tadinya diam.


'Darah?.' batin Mingyue.


Hua yang melihatnya pun meminta agar rencana nonanya tidak diteruskan. Namun Mingyue ingin menyelesaikan langsung tanpa harus menunda lagi.


"Putriku kau baik-baik saja?." ujar tuan Xinghu spontan.


"Putriku? apa anda memanggil saya dengan sebutan itu karena rasa bersalahmu selama ini? hahahaha lucu sekali...dulu saat saya disiksa apakah anda pernah menanyakan keadaanku dengan nada yang begitu lembut itu? tidak kan...? sekarang pun sudah terlambat anda mengatakan.....uhuk!!." darah yang dikeluarkan Mingyue semakin banyak yang membuat semua orang khawatir terlebih lagi Hua.


'Anda tidak boleh mati!'. batin Hua.

__ADS_1


__ADS_2