
"Fokuslah jangan sampai kesadaranmu hilang." ujar Mingyue.
Mereka pun menyusuri hutan dengan hati-hati dan perasaan waspada. Semakin mereka masuk ke dalam hutan, kabut putih yang menghalangi pandangan mereka pun semakin tebal.
"Nona, sebenarnya apa yang sedang anda cari?." tanya Hua.
"Sebentar lagi kita akan sampai." ujar Mingyue, namun bukan jawaban itu yang Hua inginkan.
"Situasi ini terlalu aman..." ujar Mingyue.
"Bukankah itu lebih bagus? lebih baik seperti ini." ujar Hua.
"Justru suasana seperti ini yang akan membahayakan kita, merasa terlalu aman yang membuat kita lengah." ujar Mingyue.
Sekitar 1 jam mereka telah berjalan, namun Mingyue belum menemukan sesuatu.
"Nona...apakah anda tidak lelah? kita sudah lama berjalan...kondisi tubuh anda juga kurang baik." khawatir Hua.
"Kita istirahat disini saja." ujar Mingyue lalu duduk bersama Hua dibawah pohon yang sangat besar, mungkin sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun, siapa yang tahu.
"Nona, minumlah dulu." ujar Hua lalu memberikan air minum untuk Minyue.
Mingyue pun hendak meminumnya namun tidak jadi.
"Kenapa nona tidak minum?." heran Hua.
__ADS_1
"Air nya sudah tercampur dengan racun." ujar Mingyue lalu membuang air itu yang seketika berubah warna yang awalnya bening menjadi berwarna hitam pekat.
"Ma..maafkan hamba nona.....Hua pantas mati, karena tidak teliti dan hampir membuat nona dalam bahaya." ujar Hua dengan bersujud dihadapan Mingyue.
"Sudahlah ini bukan salahmu, racun ini berasal dari kabut ini. Tapi tenang saja karena racun ini tak akan bisa membuat kita sakit selagi tak ada perantara yang memasukkan mereka ke dalam tubuh." ujar Mingyue.
"Baik nona." ujar Hua.
Setelah merasa cukup beristirahat, mereka kembali menyusuri hutan tersebut.
Langit yang semakin gelap serta suara yang aneh kembali terdengar.
'Balaskan!!...aahhggrrgg!!...balaskan dendamku!!...balas!...balas!....semua orang itu munafik!!...balaskan!!..munafik!! dasar orang-orang munafik!!!....'.
Suara itu membuat kepala Mingyue sakit, mungkin lebih sakit dari sakit kepala biasa. Ia memegang kepalanya dengan erat dan mencoba menutup telinganya. Namun suara tersebut tidak berkurang 1 persen pun.
"Nona...nona...ada apa dengan anda....?" khawatir Hua melihat kondisi Mingyue.
"*Diatas, dibawah, disamping, duduk, berdiri, berbaring, b*ersujud. " ujar Mingyue tiba-tiba dengan tatapan linglung.
"Apa yang anda katakan? saya tidak mengerti...nona sadarlah." ujar Hua bertambah khawatir.
'Sebenarnya apa yang terjadi padaku?.' batin Mingyue.
"Nona, lebih baik kita istirahat saja disini." ujar Hua.
__ADS_1
"Tidak bisa kita harus melanjutkan perjalanan, kita tidak punya banyak waktu lagi." ujar Minyue.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Mingyue yang dipapah Hua karena kepalanya yang masih terasa sakit.
Dari kejauhan Mingyue melihat sebuah bangunan yang mungkin bangunan kuno yang sudah lama ditinggal. Meskipun terhalangi oleh kabut yang tebal namun bangunan tersebut cukup besar dan masih bisa terlihat dari jangkauan Mingyue.
'Apakah tempat itu.....'
"Cepat, kita harus pergi kesana." ujar Mingyue kepada Hua.
Mereka pun menuju bangunan itu dengan hati-hati dan selalu dengan perasaan waspada.
Swiingg....
Sebuah pedang datang dari arah bangunan tersebut dan hendak melukai Mingyue. Dengan sigap Hua mengeluarkan cambuk miliknya dan menghalangi pedang tersebut.
"Nona...anda tidak apa-apa?." tanya Hua.
"Saya tidak apa-apa, terimakasih...tetap hati-hati karena perangkap ini hanya permulaan saja." ujar Mingyue.
Disisi lain.....
"Sudah sampai mana gadis itu berjalan?." tanya seorang laki-laki.
"Menjawab Tuan, gadis itu sudah sampai didepan 'Makam Kegelapan'." ujar seseorang yang mungkin bawahannya.
__ADS_1
"Ternyata memang benar, gadis itu masih hidup. Kau awasi dia jangan sampai ada yang curiga. Jaga dia dengan nyawamu sendiri!." ujar orang tersebut.
"Baik tuan." ujar bawahannya lalu pergi meninggalkan tuannya.