
'Pertunjukkan ini lumayan menyenangkan....'. batin Mingyue lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"Nonaaa....!!!" teriak Hua histeris.
Salah seorang tamu paruh baya mendekati Mingyue dan berkata pada Hua agar tubuh Mingyue dibawa kembali ke kamar. Orang tua tersebut membawa tubuh Mingyue dan pergi bersama Hua.
'Apa aku masih ada kesempatan untuk mendapatkan maaf dari putriku...?' . batin tuan Xinghu yang sedih mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Mingyue.
Acara pun dihentikan dan para tamu mulai pergi dari kediaman perdana menteri.
Didalam kamar Mingyue....
"Nona...hiks..sadarlah...jangan membuat Hua takut..." tangis Hua.
"Tenang lah, aku akan membantunya..." ujar orang yang membawa Mingyue.
"Anda siapa?..." tanya Hua.
"Kau akan tahu nanti..." ujar orang tersebut.
'*Kau sudah memasuki tahap pertama...tapi ini terlalu cepat hingga tubuhmu tak bisa menahan kekuatan tersebut*'. batin orang paruh baya itu.
Orang itu pun meletakan telapak tangan kanannya ke kepala Mingyue. Muncul cahaya berwarna putih dari telapak tersebut dan membuat Hua terkejut.
"Anda..adalah..." ujar Hua namun terhenti.
__ADS_1
"Tenanglah jangan sampai dia mengetahuinya..." ujar orang itu.
Dialam bawah sadar Mingyue, seperti yang dirasakan sebelumnya. Hanya ada tempat yang gelap gulita dan Mingyue berdiri seorang diri.
"Sebenarnya ada apa denganku....kejadian ini seperti dejavu!...dimana aku sebenarnya!." Ujar Mingyue.
Entah apa yang terjadi, seketika tubuh Mingyue terasa begitu panas lalu berubah menjadi begitu dingin. Rasa yang tidak pernah dirasakan oleh Mingyue sendiri.
"Ahhhhggkrr...sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku!." ujar Mingyue merasa kesakitan.
Rasa tersebut berlangsung lama dan membuat Mingyue jatuh sambil memeluk dirinya sendiri.
"Sudah...cu..cukup...apa..ya..yang sebenar..nya terjadi..pa..padaku.." ujar Mingyue lemas.
"Tetua...apa yang sebenarnya yang terjadi pada nona?." tanya Hua.
"Ssstth jangan panggil aku tetua disini...panggil saja aku tabib Li." ujar orang tersebut.
"Ba..baiklah..jadi bagaimana keadaan nona?." tanya Hua sekali lagi.
"Dia sudah tidak apa-apa...aku sarankan agar ia menjaga perasaannya. Jika dia merasa marah kau harus mengembalikan suasana hatinya." ujar tabib Li.
__ADS_1
"Baik te...tabib Li." jawab Hua.
"Aku akan kembali terlebih dahulu...jika dia bertanya katakan saja agar ia pergi untuk menemuiku 1 bulan lagi di kediaman keluarga Feng." ujar tabib Li.
"Baik tabib..terimakasih anda sudah menyelamatkan nona." ujar Hua.
Secara tiba-tiba tabib Li menghilang dari kamar Mingyue dan kejadian itu tidak membuat Hua terkejut.
"Nona...cepatlah sadar.." ujar Hua.
~...~...~...~...~...~...~...~...~...~...~...~
Ditempat selir Canren dan nona pertama Ran Wei berada.
"Sialan! gadis licik itu merusak semua rencanaku dan bahkan mencuci otak ayah!." ujar Ran Wei marah.
"Kita tak boleh lengah...kita harus segera menyingkirkan gadis itu sebelum semua terlambat!." ujar selir Canren.
"Ibu..kau harus membuatnya mati menderita...dengan begitu aku akan merasa tenang! aku tak mau dia mati dengan mudah!." ujar Ran Wei.
"Tenang saja putriku...ibumu mempunyai berbagai cara agar dia merasakan penderitaan yang akan membuatnya berpikir lebih baik mati!." ujar selir Canren dan diselingi tawa licik keduanya.
~...~...~...~...~...~...~...~...~...~
Ditempat kediaman tuan Xinghu.
__ADS_1
"Maafkan aku istriku....aku bukan seorang ayah yang baik....aku menelantarkan anak itu dan bahkan berpikir untuk membunuhnya....maafkan aku....Youhua..."ujar sedih tuan Xinghu dikamarnya sambil memandang lukisan yang diberikan oleh Mingyue tadi yang didalamnya bermakna bahwa Nyonya Youhua, tuan Xinghu dan Mingyue bahagia dengan senyuman ceria. Namun sayang itu hanyalah bayangan semu dibenak mereka.