HEART THE DEVIL

HEART THE DEVIL
Episode 16


__ADS_3

"Ada apa dengan mereka?." tanya tuan Xinghu pada para pelayan.


"Hamba tidak tahu tuan, saat sebelum ini terjadi kami para pelayan sedang berada diluar kediaman, jadi kami tidak tahu apa-apa selain menenangkan mereka. Namun sepertinya sia-sia melihat kondisi nona dan selir yang semakin memburuk." ujar salah satu pelayan.


"Lalu kenapa kalian masih disini!! apa kalian tak memanggil tabib hah!!!."kesal tuan Xinghu.


"Hamba sudah memanggil tabib namun hamba tidak tahu kapan datangnya tabib itu." ujar pelayan dengan bersujud takut.


Disaat yang lain menunggu kedatangan tabib, Mingyue tidak ingin kehilangan kesempatan. Ia pun merubah dirinya menjadi seorang tabib yang sudah lansia sama seperti Hua waktu berubah menjadi Liu.


"SAATNYA BERMAIN!..." ujar Mingyue dengan hati sadisnya.


'Tok..tok..tok..'


Pelayan pun membukakan pintu dan mendapati tabib yang sudah lansia. Pelayan itu sedikit ragu dengan Mingyue yang sedang menyamar menjadi tabib. Namun yang paling penting adalah kesembuhan bagi nona dan selir mereka. Pelayan itu pun mempersilahkan masuk tabib itu.


"Tabib...tolong selamatkan istri dan anakku...mereka adalah keluargaku satu-satunya...."pinta tuan Xinghu.


"Baik tuan, saya akan selamatkan 'satu-satunya keluarga anda'." ujar tabib itu (Mingyue).


'Sakit' itu yang dirasakan Mingyue ketika ia mengetahui bahwa ayahnya tidak mengakui dirinya sebagai keluarganya. Hal itu membuat Mingyue semakin marah.


"Harap kalian semua keluar dari ruangan, karena saya akan melakukan pengobatan sendirian dan tidak ada orang yang boleh menggangguku." ujar Tabib.

__ADS_1


"Tapi mengapa?...aku adalah ayah sekaligus suami dari istriku...mengapa aku tidak boleh melihatnya?." curiga tuan Xinghu.


"Jika ingin mereka sembuh...turuti perkataanku saja." ujar Tabib.


Tak ada pilihan lain, mereka pun pergi meninggalkan selir dan nona mereka bersama tabib itu.


"Akhirnya saya bisa mulai bermain tanpa terganggu oleh sekumpulan lalat itu." ujar Mingyue dengan seringai yang mengerikan.


Ia pun sengaja mengunci pintu dengan mantra yang diucapkannya.


Entah dari mana ia tahu tentang kekuatannya, namun sekarang ia lebih mementingkan urusannya terlebih dahulu.


Mingyue dengan sengaja menyadarkan Ran Wei dan selir Canren dari pingsannya.


"Tidak akan seru jika kalian tidak bisa merasakannya." ujar Mingyue.


Mingyue pun merubah dirinya seketika menjadi sosok asli Mingyue.


"Kau....kau...hantu...hantu...untuk ap..apa kau kesini!.."ujar selir Canren dengan sisa tenaganya.


"Tentu saja untuk bermain....bukan kah waktu kecil saya tidak pernah bermain? bukankah sewaktu kecil saya hanya bisa mengerjakan pekerjaan berat yang bahkan anak sekecil itu tidak bisa lakukan? bukankah sewaktu kecil saya hanya mendapat kesedihan dan kesakitan dari anda? apakah selir lupa?" tanya Mingyue secara berturut-turut.


"Dasar..kau...bocah licik!!..apa...yang ka..kau lakukan pa..pada kami!!!..." ujar selir Canren dengan tenaganya yang semakin lemah bahkan sampai tak bisa berdiri.

__ADS_1


SERKKKKK....


Mingyue mengeluarkan sebilah pisau yang runcing dari sarungnya dan menodongkan ke wajah selir Canren.


"Hey...anda belum menjawab saya...beraninya anda bertanya sebelum menjawab pertanyaan dari saya?" ujar Mingyue sambil memainkan pisaunya diwajah selir Canren.


"Heh!...memang pan..pantas menerimanya!...kau...sama se..seperti ibumu yang...busuk it... Ahhkkk!!!!" teriak selir Canren karena Mingyue merobek sisi kiri mulut nya.


"Hais....mulut kotormu ini apakah tidak pernah dibersihkan?...apa anda pantas menyebut ibu ku dengan mulutmu itu?." ujar Mingyue.


"Uuhhggg....." rintih Ran Wei sadar dari pingsannya.


"Ya? ternyata fisik ibumu lebih bagus..." ujar Mingyue dan tentu sambil mengangkat dagu Ran Wei dengan ujung pisaunya.


Sedangkan diluar kamar, tuan Xinghu dan para pelayan gelisah menunggu kabar dari tabib.


"Kapan tabib itu akan keluar? kenapa lama sekali?." ujar tuan Xinghu khawatir.


"Tuan mohon tenanglah, mungkin penyakit nona dan selir sedikit serius". ujar salah satu pelayan.


Tuan Xinghu hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut. Ia tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menunggu. Meskipun selir Canren sempat berteriak, namun tidak ada yang mendengar suara apapun.


Sedangkan Mingyue sedang asik berdebat dengan Ran Wei.

__ADS_1


"Kau!...sebenarnya ap..apa..yang..kau..ingin..inginkan!!". ujar Ran Wei.


"Saya hanya ingin bermain dengan kalian sebentar, ini tidak akan merugikan kalian bukan?". ujar Mingyue.


__ADS_2