
"Baiklah, terimakasih kak." ujar Mingyue.
"Jadi, ada apa kakak mengundang saya ketaman?." tanya Mingyue.
"Ah, ini...aku hanya ingin meluangkan waktu bersamamu saja...sudah lama kita tak pernah meminum teh bersama bukan...." basa-basi Ran Wei.
"Tapi, sepertinya kakak ingin mengatakan sesuatu yang serius?.." tanya Mingyue yang membuat Ran Wei tercekat.
"A...ini, sebenarnya aku hanya ingin mengatakan beberapa kata saja.." ujar Ran Wei.
"Saya akan mendengarkan kakak." ujar Mingyue.
"Bukankah ulang tahun ayah akan di adakan 2 hari lagi, aku hanya ingin memberikan saran padamu berupa hadiah dan penampilan nanti saat diacara ulang tahun ayah...bagaimana? kau kan tahu ayah selalu membuang hadiah darimu..." ujar Ran Wei dengan raut wajah dibuat sedih.
'Sebab itu adalah hadiah yang kau saran kan, tidak heran semua hadiah yang diberikan Mingyue selalu dibuang...ternyata itu rencanamu dari awal....hm...permainanmu sepertinya menarik. Aku akan mengikutinya.' batin Mingyue.
"Jadi menurut kakak, apa yang sebaiknya saya lakukan...?"ujar Mingyue dengan raut wajah dibuat putus asa.
'Bagus...kau masuk perangkapku!' batin Ran Wei.
"Begini saja, dihari ulang tahun ayah kau datang ke tempatku saja, aku akan memberikan semua yang kau perlukan...bagaimana?." Ujar Ran Wei dengan wajah liciknya.
"Baiklah, saya akan mengikuti saran kakak....terimakasih sudah mengundang saya, saya akan kembali terlebih dahulu." ujar Mingyue lalu pergi dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.
"Hahahaha...rencanaku berjalan mulus, kali ini kau tidak akan selamat lagi...!" ujar Ran Wei.
Kembali ke tempat Mingyue.........
"Nona, kenapa anda selalu menyetujui apa yang nona pertama katakan?, bukankah itu sama saja akan membuat anda mengalami masalah?!." ujar Hua tidak mengerti.
"Kali ini akan berbeda, saya mempunyai rencana sendiri....kau tenanglah jangan membuat orang lain curiga." ujar Mingyue.
"Baik nona." ujar Hua.
__ADS_1
'*Sebenarnya apa yang telah terjadi pada nona? nona benar-benar sudah berubah, tidak seperti dulu lagi*'. batin Hua.
Malam harinya...
"Hua, ambilkan saya sebuah kain berwarna putih bersih." perintah Mingyue.
"Baik nona." jawab Hua.
Beberapa saat kemudian Hua membawa kain berwrna putih bersih dan diberikan kepada Mingyue.
"Nona, untuk apa anda membutuhkan kain itu?." tanya Hua.
"No..nona...tidakkah itu akan membuat tuan Xinghu marah." ujar Hua terkejut.
"Memangnya ada apa dengan kain ini? bukankah sama saja?." tanya Mingyue.
"Nona, jika anda memberikan hadiah dengan kain putih yang membungkusnya...itu...sama saja anda menginginkan kematian seseorang." ujar Hua.
"Namun saya tidak berpikir begitu...jika nanti semua orang berpikiran seperti itu, saya tidak peduli...saya hanya menyukai warna putih dan hitam tidak ada yang lain." ujar Mingyue sambil membungkus hadiah yang ia buat.
__ADS_1
'*Hitam? bahkan itu lebih buruk!, huft nona masih seorang gadis kecil namun pemikirannya begitu dewasa...apa ini akibat perlakuan keluarga ini yang membuat nona berubah sepenuhnya*?.' batin Hua.
Tibalah hari ulang tahun kepala keluarga perdana menteri. Semua orang kediaman perdana menteri mempersiapkan kebutuhan untuk menjamu para tamu yang akan datang.
Ditempat nona pertama Ran Wei......
"Kakak...apakah ini yang anda sarankan untuk saya? tapi baju ini terlalu..." ujar Mingyue tak percaya.
"Hei, ini adalah baju terbagus yang aku punya...aku sengaja meminjamkannnya padamu agar kau terlihat sangat cantik." ujar Ran Wei dengan niat yang sudah jelas diketahui oleh Mingyue.
'*Semua orang juga tahu kalau baju ini adalah baju pela\*\*r, kau memberikannya padaku tentu saja aku langsung diusir dari sini....namun sepertinya aku akan membuatmu lebih terkejut dari ini sampai-sampai bisa keluar asap dari kepalamu itu*..' batin Mingyue.
"Dan ini adalah hadiah yang aku siapkan untukmu...lihatlah, aku sudah membungkusnya dengan sangat rapi...kau tinggal memberikannya saja kepada ayah...bagaimana? ini sempurna kan..."ujar Ran Wei meyakinkan Mingyue.
"Benar apa yang dikatakan oleh kakak, saya akan mengikuti saran kakak. Tapi bisakah saya memiliki rencana sendiri? tenang saja hadiah dari kakak akan saya berikan kepada ayah." ujar Mingyue.
"Terserah kau saja, yang terpenting kau harus memakai gaun ini dan memberikan hadiah itu kepada ayah nanti." ujar Ran Wei.
'*Aku tak peduli apapun rencanamu, yang terpenting rencanaku sudah berhasil*!.' batin Ran Wei tersenyum licik.
__ADS_1
'*Kau yang memberikan izin 'kakak', terimakasih atas hadiah yang kau berikan*.' batin Mingyue tak kalah licik.