HEART THE DEVIL

HEART THE DEVIL
Episode 21


__ADS_3

Dimalam yang gelap Mingyue dan Hua baru tiba dikediaman.


"Hua tolong siapkan air untukku mandi." ujar Mingyue.


"Baik nona." jawab Hua lalu pergi tempat kepemandian.


"Huffs...hari yang cukup melelahkan." keluh Mingyue.


'Tok...tok....tok'


"Nona, apakah anda didalam?." tanya seorang pelayan diluar pintu.


Mingyue pun membuka pintu dan bertanya.


"Ada apa?." tanya Mingyue.


"Nona, anda diundang tuan untuk makan malam bersama.Mohon anda ikut dengan saya." ujar pelayan tersebut.


'Untuk apa mengundangku makan bersama? apakah kali ini hanya sendirian sehingga memanggilku untuk menemaninya makan?' batin Mingyue.


"Maaf saya menolak, karena saya sudah makan saat perjalanan pulang tadi." ujar Mingyue yang memang tak bohong.


"Ta...tapi nona, tuan telah lama menunggu anda." ujar pelayan itu seraya memohon pada Mingyue agar mau memenuhi undangan makan malam tersebut.


"Sudah saya bilang saya menolaknya, sampaikan saja begitu, saya tak peduli sudah menunggu berapa lama pun!." ujar Mingyue.


'Lagi pula saya memang tak mau bertemu dengannya jika tak ada urusan!' batin Mingyue.

__ADS_1


"Tapi nona..." ujar pelayan tersebut mencoba membujuk Mingyue lagi namun Mingyue masuk ke dalam dan langsung menutup pintu. Hua yang baru selesai menyiapkan air untuk Mingyue heran melihat raut muka nona nya yang terlihat kesal.


"Ada apa nona?." tanya Hua.


"Tak ada apa-apa, hanya masalah kecil saja." ujar Mingyue.


"Siapa yang berani membuat masalah dengan nona? akan saya urus!." ujar Hua yang langsung ingin pergi namun ditahan oleh Mingyue.


"'Ayah' yang buat masalah, kau akan mengurusnya seperti apa?." tanya Mingyue yang membuat Hua terdiam.


"Tu...tuan?...benarkah?..." tanya Hua memastikan.


"Siapa lagi?, sudahlah apakah airnya sudah siap?." tanya Mingyue.


"O..oh..su..sudah nona, airnya sudah Hua siapkan." ujar Hua.


"Jangan siapkan makan malam, karena kita sudah makan diperjalanan tadi." ujar Mingyue.


"Baik nona." jawab Hua.


"Hais...untung saja nona memberitahuku..." ujar Hua lega.


Sedangkan pelayan yang memanggil Mingyue tadi menghampiri tuan Xinghu.


"Maaf tuan, nona Mingyue menolak undangan makan malam dari tuan." ujar pelayan tersebut.


"Kenapa dia menolaknya?." tanya tuan Xinghu.

__ADS_1


"Nona bilang saat perjalanan pulang, nona sudah makan dijalan." ujar pelayan tersebut.


'Salahku dari awal yang tidak pernah memperdulikannya, apa aku benar tak bisa mendapatkan maaf dari putriku?.' batin tuan Xinghu.


"Sudahlah, makanannya pun sudah dingin, bereskan saja semua ini." ujar tuan Xinghu lalu pergi meninggalkan ruang makan dengan hati sedih.


"Baik tuan." ujar para pelayan disekitarnya.


Setelah semua selesai para pelayan pun kembali ke tempat tinggal mereka untuk beristirahat, karena jam mereka bekerja sudah selesai.


"Kasihan tuan Xinghu, sepertinya beliau ingin sekali bertemu dengan nona Mingyue namun sayang sekali nona yang tidak mau." ujar salah satu pelayan.


"Memang benar namun saya juga kasihan dengan nona, dulu ia diperlakukan tidak adil. Mungkin sudah sepantasnya seperti itu." ujar pelayan lainya dan dijawab benar oleh teman-temannya.


"Sshhttt...jangan membicarakannya seperti itu, jika terdengar oleh yang lain, mungkin ada hukuman." ujar salah satu pelayan.


Mereka pun mendengarkan ucapan temannya itu karena memang benar. Mereka pun tidak lagi membicarakannya dan beristirahat karena besok pagi adalah hari yang sibuk kembali.


Ditempat lain Mingyue yang sedang berendam di bak berisi air hangat sambil memikirkan sesuatu.


"Sebenarnya apa yang telah saya lupakan? kenapa tempat yang saya kunjungi tadi terasa sangat akrab? apa hubungannya dengan saya?." ujar Mingyue yang bertanya pada diri sendiri. Seketika kepala Mingyue kembali terasa sakit namun ada yang berbeda. Ia seperti melihat bayangan seseorang berpakaian hitam yang membelakanginya sedang berada dalam peperangan hendak dibunuh oleh orang-orang yang merasa mungkin pernah ia lihat.


Semakin Mingyue ingin memperjelas bayangan orang tersebut, kepalanya semakin terasa sakit. Saat orang tersebut hendak menoleh ke belakang dan Mingyue yang sedikit lagi melihat wajah tersebut namun terhenti saat tiba-tiba ia memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.


"Uhuk...uhuk..." batuk Mingyue


"Apa itu tadi...."

__ADS_1


__ADS_2