HEART THE DEVIL

HEART THE DEVIL
Episode 15


__ADS_3

Hua pun pergi ke dapur untuk mengambil kue sesuai perintah Mingyue.


'Aku harus cepat sebelum nona semakin marah....'. batin Hua.


"Sepertinya aku tidak bisa menunjukkan diriku seperti ini..." ujar Hua.


Ia pun memejamkan mata dan seketika cahaya berwarna merah menyelimuti seluruh tubuhnya. Entah apa yang terjadi bentuk tubuh, wajah, suara dan seluruh tubuh Hua berubah menjadi Liu si pelayan Ran Wei.


"Dengan begini tidak akan ada yang curiga." ujar Hua lalu pergi dari dapur dan menuju ke tempat nona Ran Wei sambil membawa kue yang sudah ia beri racun.


Tidak ada yang curiga dengan Hua saat berjalan kearah kediaman Ran Wei. Ia malah disegani oleh pelayan yang lebih rendah pangkatnya.


"Tok...tok...tok." Hua mengetuk pintu.


"Nona...hamba Liu ingin memberikan sesuatu untuk nona." Ujar Hua mulai bersandiwara.


Hua pun perlahan membuka pintu dan mulai masuk kedalam ruangan Ran Wei dan mendengar suara tawa yang keras.


"Hahaha...dia pasti sudah memakan kue itu dan segera mati! aku sudah tak sabar mendengar kabar dari kediamannya." ujar Ran Wei.


"Tenang saja, rencana ibu tidak akan gagal lagi..." ujar selir Canren.


Setelah mendengar semua percakapan Ran Wei dan selir Canren, Hua pun merasa ingin membunuh kedua orang itu. Namun ia lebih memilih untuk mengikuti rencana nonanya.


"Mohon maaf atas gangguannya selir Canren dan nona Ran Wei. Hamba disini hanya ingin mengantarkan kue ini kepada kalian." ujar Hua.


"Ya baiklah kau pergi saja." ujar Ran Wei.

__ADS_1


Hua pun hendak pergi namun langkahnya dihentikan oleh selir Canren.


"Tunggu."ujar selir Canren.


"Bukankah kue ini yang akan diberikan kepada gadis itu? mengapa kau bawa kesini." ujar selir Canren curiga.


"Mohon maaf selir...kue tersebut bukan kue yang sama, melainkan hamba buat sendiri dengan bentuk yang sama. Hamba berpikir untuk kalian juga memakannya dan berpura-pura sakit agar tidak ada yang curiga dan kita bisa menyalahkan semuanya ke Xia dan mengaku bahwa Xia yang sudah mengirim kue ini pada kalian dan non....maksud saya pada gadis itu." ujar Hua.


"Wahhh ternyata kau pintar juga....namun..sayang sekali aku tidak akan percaya begitu saja." ujar selir Canren.


"Bagaimana kalau....kau coba satu saja agar kami percaya tidak ada sesuatu dikue ini." licik selir Canren.


Hua pun sedikit gelisah jika mereka menyadari sesuatu, namun....


"Baik, hamba akan mencobanya..."ujar Hua.


"Bagaimana nona? selir? apakah kalian sudah percaya pada hamba?." ujar Hua.


"Kau memang anjing setia dan pintar...kau boleh pergi sekarang." ujar selir Canren.


Lalu Hua pun berbalik dan pergi dari sana.


"Ibu...sepertinya ide pelayan itu ada benarnya...." ujar Ran Wei.


"Apa kita juga harus bersandiwara sekarang?" ujar selir Canren dengan wajah liciknya dan kedua orang itu pun memakan kue tersebut.


Setelah memakan sepotong kue itu, selir Canren dan Ran Wei pun segera berbaring ditempat tidur Ran Wei.

__ADS_1


"Kita mulai sekarang?." ujar selir Canren yang dibalas anggukan oleh Ran Wei. Mereka pun berteriak memanggil pelayan dengan nada kesakitan.


"Pelayan!!! cepat kesini!! aku sangat kesakitan....!!!"teriak Ran Wei.


Para pelayan yang mendengar teriakan nona mereka langsung masuk menghampiri mereka.


"Cepat panggilkan tabib...tubuhku sangat sakit setelah memakan kue itu!!!". ujar selir Canren memulai sandiwara. Namun mereka tidak tahu jika mereka akan berhadapan dengan siksaan ciptaan mereka sendiri.


"Nonaaa...selir...mohon tunggu sebentar, hamba akan panggilkan tabib.."ujar salah satu pelayan.


Kabar ini pun tersebar sangat cepat hingga ke telinga tuan Xinghu dan Mingyue.


Hua yang sudah kembali ke wujud aslinya pun kembali ke kediaman Mingyue dan memberi tahu bahwa Ran Wei dan selir Canren sudah memakan kue mereka sendiri.


"Hanya butuh hitungan mundur...5...4...3...2...1....dan rasakan sendiri akibat dari bermain-main denganku." ujar Mingyue dengan pupil matanya yang masih merah darah.


Dan setelah Mingyue mengucapkan seperti itu, perlahan selir Canren dan Ran Wei pun merasakan tubuh mereka terbakar dan tercabik-cabik.


"Aaaaahh!!...kenapa dengan tubuhkuuu!!! sakit...!!!"ujar selir Canren.


"Hiks..ibuuu..kenapa dengan tubuhku rasanya seperti terbakar...aku sudah tidak kuat bu..."ujar Ran Wei yang meronta-ronta karena kesakitan. Pelayan yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menenangkan keduanya namun hanya sia-sia.


"Pasti...pasti pelayan busuk itu yang melakukannyaaaa!!!!." marah selir Canren.


Perlahan tubuh mereka melemah namun rasa sakit yang mereka rasakan tidak berkurang sedikutpun.


Tuan Xinghu yang bergegas melihat anak dan istrinya pun terkejut melihat kondisi keduanya.

__ADS_1


Lemah dan tak berdaya, air mata yang berubah menjadi air darah, hidung yang terus mengalir berwarna merah dan tubuh yang terus mengeluarkan banyak darah segar lewat mulut. Sungguh pemandangan yang membuat orang lain enggan melihat sekalipun menyentuhnya.


__ADS_2