HEART THE DEVIL

HEART THE DEVIL
Episode 12


__ADS_3

Sore harinya, Mingyue perlahan membuka matanya.


"Ugh....tubuhku terasa pegal semua.." ujar Mingyue sambil memegani tubuhnya.


Hua pun masuk mendapati nonanya sudah bangun dan segera menghampiri Mingyue.


"Syukurlah nona sudah sadar, apakah masih ada rasa sakit ditubuh nona?." tanya Hua.


"Benar, tubuhku masih terasa pegal namun tak usah dipikirkan...lalu siapa yang membawa saya kesini?." tanya Mingyue.


"Yang membawa anda kesini adalah te..maksud saya adalah tabib Li. Beliau juga sekaligus telah mengobati luka anda." ujar Hua.


"Tabib Li? apakah kau tahu dimana rumahnya?." tanya Mingyue.


"Beliau sempat berpesan pada Hua jika nona ingin menemuinya, kita harus pergi ke kediaman Feng 1 bulan lagi." ujar Hua.


"Hm...keluarga Feng? lalu kenapa harus menunggu 1 bulan lagi? bukankah pergi besok saja lebih baik?."ujar Mingyue.


"A...itu...itu...mu..mungkin tabib Li...ada urusan 1 bulan kedepan..ja..jadi mungkin saat ini beliau tidak ada dikediamannya." ujar Hua terbata.


'Semenjak aku memakai baju pemberian nyonya Youhua, Hua menjadi sangat aneh...seperti ada hal yang harus disembunyikan rapat-rapat. Sepertinya aku harus mengawasinya agar kecurigaanku hilang.' batin Mingyue.


"Benarkah?...baiklah jika memang seperti itu..saya akan menemuinya 1 bulan lagi." ujar Mingyue.


"Nona....." panggil Hua.


"Ya?.." jawab Mingyue.


"Itu....ah tidak jadi, apakah anda ingin mandi? saya akan menyiapkan air hangat untuk anda..." ujar Hua.


"Baiklah...terimakasih Hua.." ujar Mingyue.


"Sudah menjadi tugas hamba nona..." ujar Hua lalu meninggalkan kamar Mingyue.


'Maaf Hua, bukannya aku tidak mempercayaimu...tapi aku harus waspada pada semua yang berada disekitarku. Aku tak mau merasakannya lagi seperti dikehidupan pertama.' batin Mingyue.


~...~...~...~...~...~...~...~...~...~

__ADS_1


Satu minggu kemudian....


Kehidupan Mingyue berubah drastis setelah kejadian pesta ulangtahun tuan Xinghu seminggu lalu. Kini banyak orang-orang kediaman perdana menteri lebih menghormatinya.


'Perubahan ini cukup lumayan'. batin Mingyue.


"Nona...Hua sangat senang sekarang anda lebih dihargai disini." ujar Hua.


"Syukurlah jika memang begitu." ujar Mingyue, mereka pun berpikir untuk pergi berjalan-jalan dikota.


Namun ada satu hal yang ada dibenak Mingyue, apakah ia akan memaafkan tuan Xinghu? atau tetap akan membalaskannya?...entahlah.


Dipasar.......


Mingyue dan Hua melihat-lihat barang-barang yang sedang dijual oleh pedagang.


"Silahkan tanghulu....."


"Mari-mari ada banyak tusuk rambut...."


"Silahkan makan ditempat kami...."


"Apakah nona ingin membeli sesuatu?." tanya Hua kepada Mingyue.


"Tidak, saya hanya ingin jalan-jalan sa...." ujar Mingyue terpotong saat ada yang menabraknya.


'Bugh...'


Bukannya Mingyue yang terjatuh namun penabraknya yang tersungkur.


"Nonaaa...anda tidak apa-apa?." tanya Hua khawatir.


"Saya tidak apa-apa." ujar Mingyue.


"Ahk...hei apa kau tak punya mata hah!!?" teriak seorang wanita muda yang sekiranya lebih tua dari Mingyue.


"Apa? bukankah anda yang tidak ada mata saat berjalan?" ujar Mingyue.

__ADS_1


"Kau!! berani sekali kau....apa kau tak tahu aku siapa hah!!?." teriak wanita tersebut yang mengundang perhatian masyarakat yang ada dipasar itu.


"Ada keributan apa disana..." ujar orang-orang yang ada disana.


"Untuk apa saya kenal dengan orang yang tak tahu diri seperti anda?." ujar Mingyue dengan sengaja.


"No..nona..tenangkan diri anda..ja..jangan sampai anda merasa marah." ujar Hua khawatir.


"Tenang saja Hua..suasana hatiku hari ini cukup baik." ujar Mingyue.


"Apa? tak tahu diri katamu?.." ujar wanita itu tak terima.


"Ya..benar sekali...bukankah anda yang menabrak saya duluan? tapi kenapa anda menyalahkan saya? saya pikir anda harus bertanya pada orang-orang disini siapa yang menabrak siapa...." ujar Mingyue.


Wanita itu pun diam membisu tanpa bisa mengatakan sesuatu.


"Apakah ada yang melihat saya menabrak nona ini?." tanya Mingyue pada orang-orang dipasar itu.


"Saya melihatnya...." ujar seseorang.


"Melihat yang bagaimana?." tanya Mingyue.


"Nona kecil, kau sangat pandai berbicara...yang akan saya katakan bahwa anda tidak bersalah...nona itu yang menabrak anda duluan dan saya melihatnya dengan jelas saat sedang makan dikedai sana." ujar orang tersebut.


"Apakah anda sudah mendengarnya? bibi?." ujar Mingyue.


"Kau!!! tunggu lain hari...kau selamat kali ini!!!." ujar wanita tersebut lalu pergi dari pasar itu karena malu dan marah.


Semua orang pun kembali ke aktivitas masing-masing.


"Terimakasih paman, anda memberikan suara anda kepada saya." ujar Mingyue.


"Tak perlu sungkan, kau gadis kecil paling pemberani yang pernah aku temui." ujar orang tersebut.


"Siapa namamu?." tanya orang itu.


"Saya Mingyue." jawab Mingyue lalu menjulurkan tangan bermaksud berjabat tangan.

__ADS_1


"Mingyue...nama yang cantik, saya Fu Yan, panggil saja paman Fu." ujar paman Fu lalu membalas uluran tangan gadis itu.


'Fu....yan...?'


__ADS_2