
Orang-orang yang melihat Jiaohua membawa Zhuan Jia hanya memerhatikan tanpa ada niat membantu, meskipun Jiaohua sudah meminta tolong.
Sesampainya dikamar.....
"No..nona..bertahanlah..!" ujar Jiaohua takut.
'Bagaimana aku menolong nona?....tuan tidak pernah memperbolehkan tabib memeriksa nona....aku harus bagaimana...?!!..' batin Jiaohua bingung dan frustasi.
"Aku harus meminta pada tuan! sekalipun aku mati hari ini, namun nona tidak boleh mati lagi!" ujar Jiaohua mengambil keputusan. Lalu ia menyelimuti Zhuan Jia dan pergi ke tempat perdana menteri.
Ditempat perdana menteri.
"Tuan Xinghu, pelayan pribadi nona kedua memaksa ingin bertemu dengan anda." ujar salah satu pengawal.
"Untuk apa pelayan anak itu kesini." jawab tuan Xinghu dengan nada tak suka.
"Pelayan itu mengatakan bahwa nona kedua sangat membutuhkan tabib." jawab pengawal.
"Hmm...baiklah, panggil tabib biasa saja untuk memeriksanya." ujar tuan Xinghu.
"Ba..baik tuan, saya permisi." ujar pengawal yang agak terkejut. '*Tuan tidak biasanya baik pada nona kedua, apa tuan sudah memaafkan nona kedua*?' batin pengawal tersebut lalu menghampiri Hua yang sudah menunggu didepan kediaman perdana menteri.
"Jiaohua, tuan mengatakan bahwa kau boleh memanggil tabib untuk memeriksa kondisi nona kedua." ujar pengawal tersebut. Mendengar hal tersebut membuat Hua bernafas lega dan segera pergi untuk memanggil tabib.
'*Syukurlah*' batin Hua.
Didalam kediaman perdana menteri.
__ADS_1
"Kau beruntung hari ini, jika saja keluarga Youhao tidak datang besok, akan aku pastikan kau mati hari ini! masih ada hari lain,,, kau tunggu saja!" ujar tuan Xinghu yang ternyata memiliki niat lain dan bukan karena sudah memaafkan apa yang dipikirnya kesalahan Mingyue.
Kembali ke tempat Zhuan Jia berada.
Entah kenapa tubuhnya kembali mendingin. Dibawah alam sadarnya......
"Dimana ini? kenapa semuanya berwarna putih? apa yang terjadi?."ujar Zhuan Jia bertanya-tanya.
"***Tunggu aku......aku akan menjemputmu.....bersabarlah sedikit lagi, perjalananmu masih panjang***." suara tersebut terus menerus terngiang-ngiang dikepala Zhuan Jia.
"Aaarrrhhggghh siapa itu! berhenti! kamu membuat kepalaku sakit!! berhenti!....." teriak Zhuan Jia hingga terbangun dan kembali sadar.
"No..nona...hiks...kenapa anda berteriak seperti itu?...anda membuat Hua takut...hiks." tangis sedih Hua.
Hua pun mengambil kan secangkir air putih untuk Zhuan Jia.
"Nona, apa yang terjadi? kau berkeringat sangat banyak.." ujar Hua sambil mengelap keringat dikening Zhuan Jia.
Bukannya menjawab, Zhuan Jia bengong tanpa mendengar ucapan Hua.
'*Apa itu tadi? kenapa isi kepalaku hanya ada kata seperti itu? apa yang terjadi padaku*?.' batin Zhuan Jia.
"Nona!" ujar Hua menyentak Zhuan Jia hingga tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"A..ah ada apa Hua?." tanya Zhuan Jia.
"Seharusnya hamba yang berkata seperti itu, apa yang terjadi pada nona?." tanya Hua.
"Aku?...aku tidak apa-apa, aku sudah mendingan." ujar Zhuan Jia.
"Oh iya, tadi aku sedikit mencium aroma obat, apa ada tabib yang kemari?." tanya Zhuan Jia.
"Benar nona, tadi tabib memeriksa nona. Sepertinya tuan Xinghu sudah memaafkan nona." uja Hua.
'*Mana mungkin itu bisa terjadi, dia sangat membenciku! dia memanggil tabib karena keluarga nyonya Youhua akan datang kemari, tentu saja ada rencana tersendiri besok*.' batin Zhuan Jia.
"Ya, mungkin." ujar Zhuan Jia mengiyakan.
Keesokan harinya, tersebar gosip didalam kediaman perdana menteri bahwa tuan Xinghu sudah memaafkan nona kedua. Namun kenyataannya mereka salah mengerti. Dan membuat selir Canren dan nona pertama Ran Wei gelisah takut rencana mereka akan gagal.
"Ibu, bagaimana jika ayah benar-benar memaafkan gadis tidak berguna itu!"ujar Ran Wei kesal sekaligus takut.
"Kau tidak usah khawatir, ibu selalu punya rencana untuk membuat ayahmu semakin membenci orang itu." ujar Selir Canren menenangkan putrinya.
"Ibu harus berjanji padaku, hanya aku anak ayah dan ibu, tidak ada yang lain!" ujar Ran Wei mengklaim dirinya sebagai satu-satunya putri di kediaman perdana menteri.
"Tentu saja putriku, hanya ibu, ayah, dan kau saja. Tidak ada yang akan menggantikan posisimu." ujar Selir Canren.
__ADS_1