
Setelah menunggu dengan waktu yang lama, Mingyue yang sudah kembali ke wujud tabib keluar dari ruangan dengan ekspresi datar seperti tidak terjadi apa-apa.
"Tabib, bagaimana keadaan mereka?." tanya tuan Xinghu
"Sementara ini mereka sedang koma, entah kapan mereka sadar namun akan saya buatkan obat untuk mereka agar cepat kembali sadar." ujar tabib.
Tuan Xinghu yang mendengar bahwa keduanya koma hanya bisa tertunduk sedih melihat kebawah.
"Tolong selamatkan mereka, aku tidak bisa hidup tanpa keluargaku." ujar tuan Xinghu yang semakin membuat Mingyue merasa jijik.
"Sungguh anda orang yang sangat sayang pada keluarga, namun akan saya usahakan untuk tidak 'membuat kesalahan'." ujar tabib lalu diantar pergi oleh salah satu pelayan.
Tuan Xinghu pun melihat keadaan istri dan anaknya.
"Sebenarnya siapa yang membuat kalian seperti ini?." ujar tuan Xinghu.
Setelah pelayan mengantarkan tabib dipintu gerbang, ia pun kembali masuk kedalam kediaman.
Mingyue pun pergi dari sana dan bertemu dengan Hua yang sudah menunggunnya.
"Nona, apakah anda yakin dengan keputusan nona?." tanya Hua.
"Bagaimanapun merekalah yang menyebabkan ini semua terjadi." ujar Mingyue lalu pergi bersama Hua.
Setelah lama berjalan, Mingyue dan Hua pun sampai di hutan yang tak pernah didatangi oleh manusia bahkan serangga pun tak berani masuk ke dalam.
"Nona, bukankah ini terlalu berbahaya? nona masih terlalu muda." ujar Hua khawatir.
Tanpa mendengarkan ucapan Hua, Mingyue segera masuk kedalam hutan itu dan diikuti oleh Hua.
Kabut putih mulai menghalangi pandangan mereka saat pertama menginjakkan kaki dihutan. Tak ada satu pun suara dari binatang melainkan suara aneh yang mereka dengar. Seperti suara manusia yang saling berteriak namun tak ada siapa pun.
"No..nona...suara siapa itu?." ujar Hua.
__ADS_1
"Fokuslah jangan sampai kesadaranmu hilang." ujar Mingyue.
...FLASHBACK ON...
Disaat Hua menyamar menjadi Liu, Mingyue yang sedang berusaha mengontrol amarah yang meluap-luap, tiba-tiba tidak sadarkan diri dengan posisi duduk seperti sedang bermeditasi.
Di bawah alam sadarnya, Mingyue seperti terlempar dalam hutan yang berkabut tebal.
"Tempat apa ini? kenapa saya bisa ada disini?." bingung Mingyue.
Ia pun menyusuri hutan tersebut tanpa ada tujuan.
' Mingyue.....Mingyue......Mingyue...balaskan dendamku...balas...balaskan dendamkuu....Mingyue!!...kau sudah aku kutuk! cepat balaskan dendamku!! kutukan itu akan hilang sepenuhnya jika kau membalas dendamku!! balaskan!!.'
Mingyue tidak mengerti kenapa ditelinganya seperti ada yang memanggil namanya seperti berteriak . Sampai - sampai sebuah benda asing menyerangnya.
Srechhkkk....!!!
Sebuah rantai panjang menjulur ke arah Mingyue dan mencoba mengikatnya. Mingyue dengan sigap menghindari rantai tersebut. Namun karena tidak pernah berlatih dan tubuhnya yang masih muda, ia terkena rantai tersebut dan terikat dipohon.
Suara yang terus memanggil namanya pun berhenti. Namun dari balik pohon seperti ada seseorang yang ingin memyampaikan sesuatu.
"Wei!!...lepaskan rantai ini!!." ujar Mingyue.
Tak ada jawaban melainkan seperti suara rantai yang diseret. Suara itu semakin mendekat ke arah Mingyue.
Mingyue yang tidak bisa melihat ke belakang hanya bisa menunggu. Dan sesosok laki-laki yang terikat rantai dengan pandangan kosong berbaju hitam dengan rambut terurai berantakan dan kulit putih bagai mayat. Ditambah serat berwarna hitam yang ada pada leher nya.
"Tuan." panggilnya pada mingyue.
Mingyue yang melihatnya terkejut, ia tak kenal siapa orang itu yang tiba-tiba memanggilnya 'tuan?'.
"Siapa kau?." tanya Mingyue.
__ADS_1
Orang itu tak menjawab melainkan hanya diam menatap dengan pandangan kosong.
Hening, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Mingyue pun bingung harus bagaimana sedangkan tubuhnya masih terjerat rantai besi itu.
Tiba-tiba ada suara yang mulai memanggil nama Mingyue kembali namun dengan nada yang lebih lembut.
'Mingyue, ingatlah pada janjimu...'
"Janji? apa yang saya janjikan!!??." ujar Mingyue yang berusaha bertanya pada sosok yang tadi berbicara, namun suara itu hilang lagi bagai angin.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? kenapa saya harus terjerat di dunia seperti ini, saya hanya berpindah ke dunia ini!." ujar Mingyue semakin bingung.
'Kau sudah hidup 2 kali dan ini adalah kesempatan terakhir untuk menepati janjimu.'
Suara tersebut kembali muncul dan hilang lagi.
Mingyue pun hanya mendengarkan tanpa berbicara kembali. Ia berpikir meskipun ingin menanyakan sesuatu pada sosok yang membicarakannya itu hasilnya sia-sia karena tak akan ada jawaban yang ia harapkan.
Perlahan rantai ditubuhnya mengendur dan melepaskan tubuh Mingyue lalu hilang seperti serpihan asap. Laki-laki yang sedari tadi berdiri didepannya pun ikut menghilang bersamaan dengan rantai yang mengikat tubuhnya. Pandangannya mulai memudar dan gelap.
"Nona!?..nona?..." ujar seseorang.
Mingyue pun kembali sadar dan mendapati Hua sedang memanggilnya dengan air mata bercucuran.
"Apa yang terjadi?." tanya Mingyue masih Linglung.
"Syukurlah anda sadar, Hua melihat nona sedang duduk bersila namun saat Hua memanggil anda...anda tidak bangun terlebih tubuh nona berkeringat dan suhu tubuh anda dingin dan panas secara bersamaan. Hua khawatir terjadi sesuatu pada anda." ujar Hua.
"Sudahlah saya sudah tidak apa-apa, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?." tanya Mingyue.
"Hua sudah memastikan mereka telah memakan kue dari nona." ujar Hua.
"Hanya butuh hitungan mundur...5...4...3...2...1....dan rasakan sendiri akibat dari bermain-main denganku." ujar Mingyue dengan pupil matanya yang masih merah darah.
__ADS_1
...FLASHBACK OFF...