
Setelah Hua mengatasi pedang yang menyerang mereka, Mingyue melihat sekeliling bangunan tersebut. Terasa familiar dengan bangunan yang didepannya, namun ia masih tak mengerti kenapa bisa muncul rasa itu padahal ia baru melihatnya.
"Ada apa nona?." tanya Hua.
"Bukan apa-apa....kau.." ujar Mingyue terhenti melihat luka dilengan Hua. Hua yang menyadarinya langsung menutup lukanya dengan kain bajunya.
"Hua tidak apa-apa nona, ini hanya luka kecil." ujar Hua agar Mingyue tidak khawatir.
"Bagaimana bisa itu hanya luka kecil? kemarilah." ujar Mingyue, Hua hanya menurut pada perintah nonanya. Mingyue merobek sebagian bajunya untuk membalut luka dilengan Hua.
"Nona.....bukankah anda tidak pernah belajar ilmu pengobatan? bagaimana bisa anda.." ujar Hua heran.
"Diamlah ini hanya membalut luka tidak perlu belajar, semua orang bisa melakukannya." ujar Mingyue yang sedikit berbohong.
Setelah selesai membalut luka Hua, Mingyue kembali menyusuri setiap tempat tersebut.
"Hua, sebenarnya tempat apa ini?." tanya Mingyue.
"Sepertinya sebuah pemakaman, namun kenapa ada pemakaman didalam hutan?." ujar Hua yang juga bingung.
"Lihat, disana ada sesuatu." ujar Mingye lalu pergi ke tempat yang dituju.
"Kita bisa masuk dari sini." ujar Mingyue namun ditahan Hua.
"Nona, sebaiknya anda jangan masuk, mungkin didalam sana lebih berbahaya." ujar Hua.
"Jika kau takut saya akan masuk sendiri." ujar Mingyue lalu langsung masuk ke dalam bangunan tersebut melewati retakan yang membuat lubang di dindingnya.
"No..nona.." ujar Hua yang langsung mengikuti Mingyue dibelakang.
Setelah masuk, Mingyue dan Hua melihat banyak peti mati yang tertata rapi. Dan sebuah patung batu yang 'aneh'.
Lagi-lagi kepala Mingyue merasa tidak enak, seperti banyak suara yang masuk ke telinga.
Mingyue menyentuh beberapa peti mati itu, dan perlahan ia membuka satu per satu peti mati tersebut.
"Kenapa tidak ada mayat didalamnya?." heran Mingyue.
Tiba-tiba patung batu yang didepan mereka bergerak dengan sendirinya yang membuat Mingyue dan Hua terkejut.
"Nona!!...cepat pergi dari sini!!" teriak Hua panik.
Mingyue pun pergi keluar dari dalam bangunan tersebut dan menarik Hua untuk ikut keluar. Namun sebelum benar-benar keluar dari tempat tersebut, Mingyue melihat beberapa orang yang hendak masuk ke tempat tersebut.
'Siapa orang-orang itu? sebaiknya saya menyelidiki ini, untuk mengetahui sebenarnya ada hubungan apa saya dengan tempat ini.' batin Mingyue.
__ADS_1
"Kita kesana." ujar Mingyue dan diikuti Hua.
Sedangkan Mingyue dan Hua tidak mengetahui ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka.
'Aku harus melaporkan hal ini pada tuan.' batin orang yang sedang memata-matai Mingyue dan Hua. Ia pun pergi dari tempat tersebut.
"Nona, kenapa kita tidak keluar saja? kenapa kita malah bersembunyi disini?." tanya Hua.
"Kau diam saja, tidak ada hubungannya denganmu." ujar Mingyue.
"Baik nona." jawab Hua.
Sedangkan orang-orang yang sedang diperhatikan oleh Mingyue berhenti di depan pintu masuk utama tempat tersebut.
"Pemimpin Chu kau yakin benda itu ada disini?." tanya salah satu orang dalam rombongan itu.
"Pemimpin Gao, kau jangan meremehkan insting ku yang tajam, dalam mencari sesuatu aku lah yang paling ahli..hahaha.." ujar orang yang disebut pemimpin Chu.
Sedangkan Mingyue masih tak mengerti apa yang orang-orang itu bicarakan.
"Hua, siapa mereka?." tanya Hua.
"Oh, sepertinya mereka bukan dari wilayah ini. Nona lihatlah disekitar tubuh mereka, terdapat aura spiritual. Mungkin...mereka..bagian dari..kita." ujar Hua ragu.
"Benarkah?." ragu Mingyue.
...FLASHBACK ON...
Didalam kediaman Mingyue, Hua yang sedang menyiapkan makan malam mendapati nonanya yang sedang melamun duduk didekat jendela melihat langit malam yang mendung.
"Nona, makan malam sudah siap." ujar Hua namun tak ditanggapi oleh Mingyue.
"Nona?." ujar Hua sambil menggerakkan tangannya.
"Ah....ada apa Hua?." ujar Mingyue.
"Makan malam sudah siap nona." ujar Hua smbil tersenyum.
"Baiklah." ujar Mingyue lalu pergi menuju meja yang sudah tersaji makanan.
"Kemarilah, saya tak akan habis memakan semua ini." ujar Mingyue lalu menarik Hua untuk duduk.
"Tapi nona..." ujar Hua merasa tak enak.
"Makanlah, jangan berdebat denganku." ujar Mingyue.
__ADS_1
"Baik nona." ujar Hua pasrah.
Mereka pun makan tanpa ada yang bicara, hening dan hanya ada suara dari dentingan sumpit mereka. Namun Mingyue melamun kembali yang membuat Hua khawatir.
"Nona? apakah nona ada masalah? anda bisa bercerita pada Hua..." ujar Hua.
"Hua....apakah jika saya menanyakan sesuatu padamu, apakah kau akan menjawabnya dengan jujur? dan tak akan berbohong?." ujar Mingyue tanpa menatap Hua melainkan menatap ke luar jendela.
"Tentu saja, Hua tak akan pernah bohong pada nona." ujar Hua.
"Saya punya pertanyaan yang mungkin membuatmu berpikir dua kali, apa kau mau menjawabnya atau tidak yang terpenting jangan kau sampai berbohong padaku." ujar Mingyue sambil menatap lekat Hua.
"Hua akan usahakan nona." ujar Hua.
"Baik, pertanyaan pertama disaat pesta ulang tahun ayah, dan disaat saya jatuh pingsan, dari kejadian itu selalu merasa ada sesuatu ditubuh saya yang setiap malam selalu merasa panas dan dingin secara bersamaan, sikapmu juga seperti menutupi sesuatu, bisakah kau ceritakan?." ujar Mingyue.
Hua yang mendengarnya terkejut, ia tak menyangka nona nya akan bertanya seperti itu padanya.
'Bagaimana ini? haruskah aku ceritakan semua? namun bagaimana aku harus memulainya?...didunia ini, diwilayah ini, tak ada yang seperti kami...' batin Hua bimbang.
Setelah Mingyue mennunggu lama jawaban dari Hua, ia tahu tak mudah bagi Hua menjelaskan semua.
"Sudahlah, jika kau tak ingin menjelaskan semua, akan saya cari jawaban itu sendiri.." ujar Mingyue lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela.
'Bagaimana ini?...apa yang harus aku lakukan??.." batin Hua bingung.
Hua pun perlahan berdiri dengan wajah yang memucat, perlahan mendekati Mingyue.
"No..nona, maaf kan hamba yang selama ini berbohong pada nona, ta..tapi ini untuk kebaikan nona, hamba tak bermaksud..seperti itu pada nona." ujar Hua khawatir.
"Sudahlah kau istirahat saja, tak perlu dibahas jika kau tak ingin membahasnya." ujar Mingyue.
'Apakah ini sudah waktunya memberitahu nona yang sebenarnya?, ya...mungkin seperti ini akan lebih baik.' batin Hua yang memantapkan diri.
"Nona, Hua tak akan berbohong lagi pada anda, akan Hua ceritakan dari awal. Namun nona harus berjanji tak akan menceritakan semua ini pada orang lain." ujar Hua.
"Baik, saya akan menepatinya." ujar Mingyue.
"Nona sebenarnya bukan manusia biasa, anda terlahir dari keturunan manusia yang memiliki 'Jindan' dalam tubuh, sama seperti Hua. Ibunda nona, nyonya Youhua adalah orang yang baik. Saat beliau akan dinikahkan oleh orang tua nyonya, ia melarikan diri dari rumah dan tersesat di dunia ini. Saat keadaan terpuruk, nyonya Youhua bertemu dengan seorang lelaki yang dianggapnya sebagai orang yang paling baik. Nyonya mengatakan, laki-laki tersebut memberinya kehidupan yang indah. Dan pada akhirnya nyonya....jatuh hati pada laki-laki itu." ujar Hua terhenti.
"Orang itu adalah 'ayah'?." ujar Mingyue.
"Benar, tuan Xinghu yang sudah menyelamatkan nyonya Youhua yang saat itu sedang dikejar-kejar oleh bandit di perbatasan. Saat itu tuan Xinghu yang sedang melakukan perjalanan pulang dari luar kota melihat nyonya Youhua yang akan dibunuh. Tuan Xinghu menyelamatkannya dan memberi kehidupan bagi nyonya Youhua. Dari situlah mereka saling menyukai dan akhirnya menikah tanpa ada restu dari kedua orang tua nyonya Youhua." ujar Hua yang berhenti sejenak.
"Jadi, ibu merahasiakan dari mana ia berasal sampai saat ini?." tanya Mingyue.
__ADS_1
"Karena itu yang terbaik untuk menutupi kebohongannya. Kami dari wilayah atas, yaitu Klan Syura, yang hanya sebuah cerita dongeng didunia manusia biasa. Namun kenyataannya kami ada. Anda adalah keturunan terakhir dari putri pemimpin Syura." ujar Hua.
"Lalu siapa orang yang mengaku sebagai keluarga ibu waktu itu?."