HEART THE DEVIL

HEART THE DEVIL
Episode 20


__ADS_3

"Lalu siapa orang yang mengaku sebagai keluarga ibu waktu itu?."


"Mereka adalah orang suruhan nyonya untuk menyamar sebagai keluarganya. Meski hanya sandiwara, namun kasih sayang mereka nyata. Sampai saat kematian nyonya Youhua, mereka berkabung selama setengah tahun dan berjanji untuk menjaga nona." ujar Hua.


"Nona, itu semua adalah rahasia yang sudah Hua katakan, jika nona masih ada keraguan nona bisa katakan saja. Hua akan berusaha menjawabnya." ujar Hua meyakinkan.


"Lalu bagaimana kau tahu semua cerita itu?." tanya Mingyue.


"Semua itu nyonya Youhua sendiri yang menceritakannya kepada Hua. Jadi, saya bisa menceritakannya pada anda." ujar Hua.


"Tapi bukankah kau menjagaku saat 7 tahun terakhir? bukankah ibuku meninggal saat melahirkanku, jadi?." tanya Mingyue.


"Pada waktu itu awalnya saya adalah pelayan pribadi nyonya Youhua, setelah beliau meninggal saya kembali ke klan Syura untuk memberitahukan berita tersebut. Pemimpin klan mengatakan kepada saya untuk menjaga anda selagi masih didunia ini. Itu mengapa saya menjaga nona ketika anda sudah sedikit besar." jelas Hua.


"Apakah pemimpin klan tidak sedih?." tanya Hua lagi.


"Tentu saja mereka sedih, seluruh penduduk klan Syura berkabung selama 1 tahun penuh, dan anda jangan memanggilnya pemimpin klan. Anda harus memanggilnya dengan sebutan kakek dan nenek." ujar Hua.


Saya mengerti, lalu saya masih tidak tahu apa itu 'Jindan'? apa bedanya dengan orang biasa?." tanya Mingyue.


"Jindan adalah inti dari orang yang bisa berkultivasi agar bisa menyerap energi 'yin' 'yang' yang ada disekitar wilayahnya. Keuntungan orang yang mempunyai jindan bisa berumur lebih panjang dari orang biasa, mengeluarkan kekuatan yang tak bisa dilakukan orang biasa. Namun kerugiannya jika orang yang memiliki jindan itu berhati buruk, akan sangat merugikan orang lain. Nona, anda juga memiliki jindan, sudah waktunya bagi nona berkultivasi, karena sangat diperlukan oleh tubuh nona." Jelas Hua.


"Kini saya sudah mengerti, terimakasih sudah menjelaskan semuanya Hua, lain kali kau harus mengajariku cara berkultivasi." ujar Mingyue lalu tersenyum.


" Itu sudah kewajiban Hua nona." ujar Hua ikut tersenyum.


...FLASHBACK OFF...


Di saat orang-orang tersebut sudah masuk ke dalam, Mingyue dan Hua mencoba mengikuti mereka.


"Nona, bukankah didalam masih ada patung batu itu?." tanya Hua.


"Benar, namun sepertinya patung itu bisa bergerak ketika peti mati ini dibuka." ujar pendapat Mingyue.


'Apa yang sedang mereka cari?.' batin Mingyue yang melihat orang-orang tersebut mulai membuka satu per satu peti tersebut. Dan seperti yang dikatakan Mingyue, patung batu tersebut mulai bergerak kembali dan mulai menyerang orang-orang tersebut.


Cring.....Sreekk.....


Suara dentingan pedang yang nyaring akibat pertarungan tersebut.


"Kenapa kau tidak katakan jika ada patung yang bisa bergerak disini!." marah pemimpin Chu.

__ADS_1


"Aku pun tidak tahu jika ada hal seperti ini! sudahlah, ini hanya patung biasa, mudah untuk dikalahkan!!." ujar pemimpin Gao.


Ting....sreekkk....


"Aahhkk...uhuk...uhuk..!!!."


Para pengikut pemimpin Chu dan pemimpin Gao sebagian besar terluka karena patung tersebut.


"Sial!! patung itu membuat semua muridku terluka! akan ku hancurkan kau!!!." ujar pemimpin Chu.


Lalu mengeluarkan sebuah busur dari dalam katung kecil. Benda yang baru pertama kali dilihat Mingyue lagi-lagi terasa tidak asing. Meski busur yang dikeluarkan pemimpin Chu tidak ada panah. Ia membuat panah dari kekuatan spiritualnya.


"Akan ku lenyapkan kau!!." ujar pemimpin Chu lalu melepaskan panahnya itu tepat didada patung itu. Patung batu pun hancur berkeping dengan sekali panah dari pemimpin Chu.


"Heh...hanya sampah bagaimana aku bisa kalah!." ujar pemimpin Chu.


"Pemimpin Chu, sudahlah aku juga tidak tahu akan terjadi hal seperti ini, semua murid yang kubawa juga terluka, kau jangan menyalahkan ku." ujar pemimpin Gao.


"Sia-sia aku percaya denganmu, tak ada benda pusaka seperti yang kau katakan. Malah mendapatkan malapetaka seperti ini." ujar pemimpin Chu kesal.


"Sudah kubilang aku hanya mendengarnya dari bawahanku, akan ku hukum nanti untuk membuatmu senang.." ujar pemimpin Gao.


"Pemimpin Chu...pemimpin Chu, dengarkan aku....hais...orang itu benar-benar." ujar pemimpin Gao.


"Hao Li!.." panggil pemimpin Gao.


"Uhuk,...saya disini guru.." ujar salah satu murid yang terluka itu bernama Hao Li.


"Perintahkan semuanya untuk kembali, obati yang terluka.." ujar pemimpin Gao lalu berjalan pergi dari tempat itu.


"Baik guru.." ujar Hao Li, ia pun menyuruh semua nya untuk kembali pulang.


Setelah semua orang pergi, Mingyue dan Hua keluar dari tempat bersembunyi.


"Nona, bukankah kita juga harus kembali, sudah terlalu lama kita disini, takutnya tuan Xinghu mencari nona." ujar Hua.


"Mencari pun tak akan diperhatikan saat kembali." ujar Mingyue yang membuat Hua terdiam.


Karena patung batu yang menjaga peti mati ditempat tersebut sudah dihancurkan, Mingyue kembali memeriksa semua tempat tersebut dengan leluasa. Tak ada apapun disana melainkan hanya peti mati biasa. Namun kenapa tidak ada mayat didalamnya membuat Mingyue dan Hua bingung.


"Kenapa tidak ada satu pun mayat disini? hanya peti mati kosong." heran Mingyue.

__ADS_1


"Anda benar nona, banyak peti mati tapi tidak ada mayat, bukankah ini pemakaman? kemana semua mayat ini?." ujar Hua juga bingung.


Mingyue pun memperhatikan peti mati satu persatu, ada yang menarik perhatiannya pada salah satu peti mati dipaling depan. Ia pun mendekati peti tersebut.


'Ornamennya berbeda dari yang lain, warnanya pun lebih pekat dari peti yang lain, apakah ada sesuatu didalamnya?'. batin Mingyue.


Perlahan ia pun menyentuh peti tersebut. Kepalanya mendadak pusing, banyak suara aneh saling bersautan ditelinganya. Namun ia tidak tahu apa yang dikatakan. Dan kabut berwarna hitam mulai menyelimuti tubuh Mingyue. Ia pun menggelengkan kepalanya dan memegang erat peti itu agar tubuhnya tidak jatuh. Hua yang melihat nona nya dengan keadaan seperti itu langsung menghampiri dan memegang tubuh Mingyue, namun anehnya saat ia memegang tubuh nonanya itu, tubuhnya sendiri yang menjadi lemas dan seketika terjatuh dengan kepala yang terasa sangat pusing.


'Apa yang terjadi denganku? kenapa aku merasa sangat pusing?. batin Hua.


Kabut hitam yang menyelimuti tubuh Mingyue perlahan hilang dengan sendirinya. Mingyue pun merasa seperti tak terjadi apapun.


"Ini aneh, apa yang terjadi tadi?." bingung Mingyue.


Hua pun merasa begitu, ia langsung bangun dengan perasaan tak terjadi apapun.


"Nona, apa anda tidak apa-apa?." ujar Hua khawatir.


"Saya baik-baik saja, kau tak perlu khawatir." ujar Mingyue.


Terfokus pada tujuannya, Mingyue perlahan membuka peti mati itu. Sama seperti yang lain, tak ada mayat didalamnya. Namun yang membedakan adalah sebuah kertas yang menempel di seluruh sisi peti mati tersebut.


'Kertas mantra? kenapa ada disini? siapa yang melakukannya?.' batin Mingyue.


"Ada apa nona?." tanya Hua.


"Hua bisakah kau menyegel tempat ini?." tanya Mingyue.


"Jika menyegel tempat ini Hua tidak bisa nona, karena kekuatan Hua yang masih sedikit." ujar Hua terus terang.


"Baiklah, tapi apa kau bisa menyegel peti mati ini?." tanya Mingyue lagi.


"Hm...jika peti mati ini sepertinya bisa, Hua akan mencobanya." ujar Hua, lalu mulai mengeluarkan kekuatan spiritualnya.


Wus....wus...


"Sudah Hua segel nona, hanya Hua yang bisa membukanya, orang lain tak akan bisa membuka peti itu." ujar Hua.


"Baguslah, mari kembali sekarang." ujar Mingyue lalu mereka pun pergi dari tempat tersebut.


'Entah mengapa saya merasa ada sesuatu yang telah saya lupakan dari tempat ini. Namun ini pertama kalinya saya datang.'

__ADS_1


__ADS_2