
Sehabis membagikan makanan yang berlebihan karena mereka beli tanpa berbicara dulu, akhirnya keempat dara jelita ini kembali ke markas mereka. Keempatnya mulai sarapan dan menyadari kalau makanan mereka terasa lebih enak dari pada hari biasanya.
Vie pun mengatakan kalau ibunya pernah mengatakan kalau mereka capek atau lapar, makanan akan terasa lebih dan lebih enak di lidah mereka.
Saat selesai makan, Indi pun mengatakan dia tak bisa sering datang minggu depan. Jadwalnya terlalu padat dan dirinya tak bisa membantu bersih-bersih markas seperti biasanya. Karena hal itu lah, Vie dan Lili sedikit adu mulut. Lili mengatai Vie yang berbaik hati berniat untuk beberes sebagai orang yang gak punya bakat dalam hal itu. Gadis itu juga mengatakan kalau kawannya itu lebih bagus memasak meski makanan yang dia masak selalu aneh dan tak ada di resep tapi tetap saja rasanya terjamin.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Hari-hari berlalu, keempat sahabat itu sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Meski mereka tak bisa bertemu muka untuk mengobrol, sesekali mereka menyempatkan mengirim pesan singkat saat ada waktu luang. Yah, walau hanya untuk menanyakan kabar atau sekedar bertukar sapa saja tak masalah.
Di malam hari, mereka bertukar sapa lewat video call. Keempatnya sama-sama duduk di depan meja belajar.
"Ngapain?" tanya Vie memulai percakapan. "Kalau gue lagi nugas sekalian pengen lanjutin cerita tulisan gue," lanjut gadis itu sambil memperlihatkan coretan tangannya yang merupakan ringkasan cerita yang baru saja dia buat.
"Gue lagi hapalan, besok ada tanya jawab," sahut Lili memperlihatkan bukunya.
"Gue lagi buat tugas kesenian," ucap Indi dengan senyum kecut. Siapa yang suka dengan tugas seni, menggambar dan yang lainnya. Apa lagi kalau bakat seninya sangat kurang, pasti pusing duluan.
"Gue lagi ngerangkum, nih," kata Miu disertai senyum kecil.
"Masih bisa senyum lo?" dengus Lili melirik malas.
"Yah, disenyumin aja. Kalau cemberut juga gak bakalan bikin kerjaan gue cepet beres," timpal Miu menyahut.
"Bener juga, sih," tukas Lili mengangguk kecil.
"Kapan ini berakhir?" desah Indi menelungkupkan wajahnya di atas meja, alat tulisnya sudah terlepas dari tangannya, sepertinya dia mulai malas melanjutkan tugasnya.
__ADS_1
"Semangat aja, kerjain pelan-pelan. Ngeluh juga gak bakalan membantu," tukas Miu seraya menghela napas panjang.
"Gue berharap banget gue bisa hidup nyantai dan gak lagi berurusan dengan tugas!" ucap Indi berharap meski tahu kalau itu mustahil.
"Lu kira gue gak?" dengus Miu yang rupanya juga merasa lelah. "Gue malah pengen makan yang manis-manis tanpa takut bakalan jadi gendut," timpal Miu. Menurut gadis itu, dia bernapas saja bisa menambah beberapa kilo berat tubuhnya.
"Kalau gue malah pengen belanja gila-gilaan tanpa takut kehabisan duit," kata Lili dengan mata berbinar.
"Kalau gue pengen semuanya," kata Vie sambil tertawa. "Nyantai, makan, dan shopping sepuas hati gue!" lanjut gadis itu.
"Baru dibayangin aja gue udah mood banget," kata Indi kembali bersemangat.
"Andai bisa jadi nyata," tukas Lili berharap.
"Novel Vie bisa buat semuanya terwujud, meski cuma bisa dibaca, tapi pasti cukup menyenangkan," kata Miu.
"Semangat, Vie. Gue juga bakalan semangat ngerjain tugas gue!" timpal Indi.
"Iya, iya. Udah dulu, ya," kata Vie pamit duluan. "Semangat!" kata gadis itu sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Vie tersenyum, jari tangannya bergerak dengan lancar. Gadis itu mulai menulis dan terus menulis, semua ide dan perasaan dia tuangkan ke dalam ceritanya. Dia ingin membuat ketiga kawannya bahagia meski hanya dalam tulisan saja. "Semoga kalian suka," gumam gadis itu seraya tersenyum tipis.
Setelah selesai menulis, Vie memutuskan untuk segera tidur. Kebetulan tugasnya juga sudah selesai, jadi tak masalah kalau dia langsung tidur sekarang. "Semoga hari esok hal baik akan terjadi dan tugas gak terlalu numpuk, amin!" kata Vie penuh harap sebelum dia memejamkan matanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Vie mengerjap-ngerjapkan matanya, dia merasa terganggu dengan suara berisik di sekitarnya. Bahkan ada suara tangis segala, apa dia dikerjai oleh kawan-kawannya lagi. Tapi mustahil, ini masih malam. Kawan-kawannya pasti tidur di rumah mereka masing-masing, jadi tak mungkin mereka datang ke rumahnya hanya untuk mengerjai dia.
__ADS_1
"Berisik!!!" pekik Vie sambil menutup telinganya. Kening gadis itu mengernyit, kasurnya terlalu empuk dan luas, tak seperti biasanya. Ada yang aneh, itulah yang gadis itu rasakan.
"My lady, anda sudah sadar?" suara seseorang terdengar mencicit, terlalu lirih seperti orang yang berbicara takut-takut. Lalu apa tadi dia bilang, my lady. Sejak kapan dia dipanggil seperti itu.
Vie yang mendapat firasat buruk pun memberanikan diri untuk membuka mata. Gadis itu menatap sekitar, ini bukan rumahnya. Dia pun menutup mulutnya yang nyaris saja berteriak kencang. Di mana ini, apa dia diculik. Ini tempat yang asing, tapi entah mengapa terasa familiar baginya. "Jangan menatap saya seperti badut! Bawakan sarapan ke kamar!" titah Vie, mulutnya terbuka sendiri dan nadanya terlalu angkuh. Apa ini, apa yang sebenarnya terjadi. Ada di mana dia, dan bagaimana dia bisa sampai di sini.
"Baik, my lady!" ucap seorang wanita yang cukup muda, dia memakai pakaian seperti pelayan tapi masih terlihat cantik.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Vie belum paham situasi, tapi dia yakin kalau ini bukan mimpi. "Ha-ha-ha, apa ini karena stress yang menumpuk?" kekeh Vie mencoba berpikir apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Anda pingsan setelah banyak mengkonsumsi minuman keras, Nona Embross.
"What???" pekik Vie menoleh cepat. Ayolah, dia tak pernah menyentuh minuman aneh seperti itu. Mabuk, ini pasti candaan. "Kamu bilang apa?" tatapan mata memicing tajam, jelas Vie tak bermaksud memasang tampang seperti itu.
"Maaf kalau saya lancang, my lady. Saya hanya menjelaskan karena anda terlihat bingung barusan," kata wanita itu menunduk sopan.
Vie mengetuk-ngetuk jarinya, kebiasaan ketika dia sedang panik secara tak sadar dia lakukan. "Tadi kamu memanggil saya apa?" tanya Vie memastikan, berharap kalau dia hanya salah dengar.
"My lady," balas si pelayan menjawab dengan cepat.
"Bukan, yang sebelumnya!" tukas Vie tak sabar.
"Nona embross?" kata pelayan itu mengernyit bingung. Apa salahnya memanggil nama belakang nonanya, dia sudah sering begitu dan tak pernah ada masalah. Apa nonanya mencari cara baru untuk menyiksa para pelayan.
Vie memasang tampang serius, setelahnya dia tersenyum tipis. " Jadi namaku Violetta Embross," gumamnya bernapas lega. Akhirnya dia mendapatkan titik terang, entah bagaimana bisa dia berakhir di novelnya sendiri. Apa dia mati di dunianya sama, mati dalam tidur begitu.
"Siapkan segalanya, aku akan keluar setelah ini!" titah Vie dengan dagu terangkat. Dia harus mencari tahu lebih banyak lagi, siapa tahu ada cara untuk kembali ke tempat asalnya kalau dia tahu mengapa dia bisa di sini.
__ADS_1
"Saya permisi, my lady," kata pelayan tadi undur diri, menyiapkan nonanya untuk ke luar rumah seperti yang nonanya inginkan.