
Vie mengosongkan satu tempat makan yang paling terkenal dan menggunakannya sebagai tempat pertemuan rahasia. Dia juga meminta para pelayan yang dibawanya untuk tak mengatakan apa pun soal apa saja yang terjadi hari ini. Mereka harus menjadi pelayan yang seolah buta dan tuli. Setelah hari ini, mereka juga sebaiknya melupakan apa yang mereka lihat hari ini.
Para pelayan mengira kalau nona mereka akan mengadakan pertemuan rahasia dengan tiga pria sekaligus. Apa yang tak mungkin kalau orangnya sekelas nona mereka yang menyandang nama keluarga dengan kekuasaan yang sangat tinggi.
Awalnya para pelayan sibuk menduga-duga, tapi akhirnya mereka diam. Semuanya takut akan ancaman sang nona, bisa saja mereka menghilang tanpa ada yang mengetahui. Mereka juga bisa mendapatkan kecelakaan saat bekerja, terlihat tak disengaja padahal semua sudah direncanakan sebaik mungkin oleh nona mereka.
Saat mereka bertekad untuk menjadi pelayan yang seperti patung hari ini, mereka malah dikejutkan dengan pemandangan yang pastinya tak akan pernah terjadi kecuali akhir dunia atau nonanya sudah tak waras.
Vie tak menggubris, dia malah bertukar basa-basi dengan ketiga kawannya. Sikap gadis itu malah membuat prasangka para pelayan yang menyaksikan semakin buruk. Berbagai rangkaian kejahatan yang mungkin akan dilakukan nona mereka tergambar di kepala mereka. Apa nonanya akan membuat masalah yang bisa memecahkan kedamaian yang dijaga empat keluarga kali ini.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Kalian semua bisa pergi!" titah Vie menatap para pelayannya.
"Tapi, my lady?" sanggah salah satu pelayan takut-takut. Kalau dibiarkan, nonanya bisa berbuat apa saja. Meski takut, dia harus mencoba untuk tetap berada di tempat yang sama dengan nonanya itu.
"Jika aku memerlukan sesuatu, aku akan memanggil," ucap Vie datar. "Atau aku harus mengatakan perintahku dua kali?" tanya gadis itu dengan mata memicing tajam, seolah mengancam pelayan yang tadi berani membuka mulut di depannya.
"Maafkan saya, my lady," kata si pelayan menunduk dalam, takut dengan hukuman yang akan dia terima.
"Sudahlah!" kata Vie datar. "Diam dan pergi saja sekarang!" titah gadis itu lagi. Mereka pun pergi dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ya, dewa. Semoga nona kami tak melakukan hal gila yang bisa merusak kedamaian!" pinta seorang pelayan dengan lirih saat sudah meninggalkan ruangan tadi.
__ADS_1
"Semoga tak ada masalah sampai akhir!" kata yang lain berharap dengan sungguh-sungguh.
"Meski nona kami merencanakan sesuatu, semoga rencananya tak berjalan dengan baik!" kata yang lainnya berharap ketiga nona yang bersama dengan lady mereka baik-baik saja. Masih banyak lagi do'a dan harapan lainnya dari para pelayan, tapi intinya semua sama, berharap hari ini nona mereka tak membuat masalah yang menimbulkan keretakan di antara empat keluarga.
"Akhirnya mereka pergi," desah Vie merasa lelah ditatap dengan tatapan yang penuh kekhwatiran. Dia tahu dia penjahat, tapi dia bukan yang asli jadi tak akan ada masalah selama dia yang memainkan peran ini.
"Jadi kita sudah bisa bicara?" tanya Indi dengan wajah serius.
"Untuk itulah pertemuan ini dilakukan," kata Vie menimpali.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang ini?" tanya Indi lagi.
"Sayangnya tidak!" tukas Vie jujur. "Saat aku membuka mataku, aku sudah berada di tempat asing tapi terasa sangat familiar bagiku," aku gadis itu dengan apa yang dia rasakan saat pertama kali tersadar kalau dia terdampar di dalam novelnya sendiri.
"Aku tak suka melakukan hal yang tak pasti seperti itu," ucap Miu cepat.
"Kalau pun aku melakukan permohonan, kalian pasti tahu dengan jelas apa yang akan aku minta. Dan bukannya hal aneh seperti ini!" kata Indi menghela napas panjang.
"Aku juga begitu, aku tak sempat memohon apa pun dan tak terlalu percaya dengan hal itu. Sekali pun aku memiliki permohonan, aku pasti akan meminta pada ibuku," tukas Vie.
"Aku juga, tak mungkin aku membuang waktu untuk melakukan permohonan yang kemungkinan terkabulnya sangat kecil. Lebih baik waktu untuk itu aku gunakan untuk mengerjakan tugasku," dengus Lili.
Keempatnya mengerutkan kening, bingung mengapa ini terjadi. Tak ada dari mereka yang berharap akan hal ini, jadi bagaimana mereka bisa terdampar di sini.
__ADS_1
"Kita benar-benar hanya tidur, kan?" tanya Lili tiba-tiba.
"Maksud kamu apa? Nyawa kita melayang saat kita tertidur nyenyak?" timpal Vie menarik kesimpulan.
"Hanya itu yang paling memungkinkan!" tukas Lili meski tak yakin. "Dengar, tak ada dari kita yang memohon. Tak ada juga yang kecelakaan, atau kejadian-kejadian seperti di komik-komik isekai. Lalu, kenapa kita bisa berakhir menempati dunia lain seperti ini tanpa itu semua?" lanjut gadis itu menjelaskan.
"Kutukan!" seru Indi tiba-tiba. "Mungkinkah ada seseorang atau sekelompok orang yang mengutuk kita?" tebak Indi dengan wajah pucat. Kalau begitu bagaimana mereka bisa kembali.
"Memangnya kita pernah melakukan perbuatan jahat apa sampai pantas dikutuk?" dengus Miu tak percaya dengan hal seperti itu.
"Gak harus jadi jahat untuk dibenci," kata vie menyela. "Cukup dengan rasa iri yang tinggi sudah bisa menumpuk kebencian!" lanjutnya mengatakan fakta.
"Lalu siapa?" tanya Miu.
"Itu dia yang tak aku tahu," balas Vie. "Lagi pula ini masih tebakan kosong, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi!" lanjut gadis itu datar. Bukannya berniat memasang tampang seperti itu, hanya saja wajahnya tak bisa diubah. Dia sudah dilahirkan sebagai penjahat sejati yang bahkan senyumnya membuat anak kecil menangis sepanjang hari.
"Kuharap kita bisa kembali," kata Vie setelah keheningan terjadi beberapa saat di antar mereka.
"Aku juga berharap yang sama!" kata Miu memasang raut wajah penuh kerinduan.
"Aku merindukan bias aku di sana," aku Indi merasa sedih.
"Kapan kita bisa balik kira-kira?" tanya Lili ingin tahu.
__ADS_1
"Apa kita bisa balik lebih tepatnya?!" timpal Miu meralat pertanyaan sahabatnya.