
"Fyuh, yang masih punya tenaga, tolong ambilin air dong," desah Miu terduduk lemas.
"Ini airnya, nyonya," kekeh Vie sedikit bercanda.
"Semoga kejadian kek gini gak keulang lagi, asli capek gue," keluh Miu menghapus keringat di dahinya.
"Udah berasa kek bagi ransum ke peserta demo aja kita, ya?" kekeh Lili yang terlihat masih santai.
"Kalau salah satu dari kita ada yang jadi pejabat, ya anggap aja yang tadi itu latihan," kikik Vie menimpali.
"No, thanks. Gue pengen jadi dokter aja," tukas Miu cepat.
"He-he-he, kalau gue malah mau jadi pengangguran abadi yang hidup enak," timpal Vie disertai cengiran lebar.
"Kalau bisa gue bakalan ikutan juga!" kata Lili menimpali.
"Menghalu aja dulu, ntar baru pikirin gimana caranya jadi pengangguran abadi yang hidupnya tetep enak," tukas Indi memberi saran.
"Menghalu memang bisa menyelesaikan semua masalah tanpa perlu repot," kata Vie setuju.
"Woi, halu juga butuh usaha biar gambarannya mulus kek drama," ucap Lili tiba-tiba menyela.
"Awas keterusan ntar malah jadi drama yang kek di tv-tv," kata Miu mengingatkan. "Yang akhir ceritanya selalu sama, gampang ditebak, cuma pemainnya aja yang ganti," lanjut gadis yang anti film kebanyakan drama.
"Tinggal cut, trus menghalu lagi aja, kan beres," sahut Vie mengangkat bahu acuh. "Ngomong-ngomong, kapan kita mulai sarapannya?" tanya gadis itu. Dia merasa perutnya sudah mulai berdemo, para penghuni di dalam sana sepertinya sudah minta dikirimkan makanan.
"Kuy, sekarang," kata Lili bersemangat. "Gue juga dah laper," lanjutnya mengajak ketiga kawannya untuk segera sarapan.
"Kenapa hari ini makanannya berasa lebih enak, ya?" dahi Indi mengernyit heran, dia bertanya pada dirinya sendiri. Ini dia beli di tempat langganannya, tapi tak pernah terasa seenak ini. Apa gara-gara dia sarapan bareng kawan-kawannya makanya rasanya jadi lebih sedap.
"Mungkin gara-gara kita capek kali," tukas Vie asal. "Kata emak kalau capek atau laper, apa aja rasanya pasti ratusan kali lebih dan lebih enak dari biasanya," lanjut gadis itu mengingat ibunya pernah mengatakan hal yang barusan dia sampaikan pada kawannya.
__ADS_1
"Mungkin begitu," tukas Lili sependapat.
"Jangan lupa berdo'a!" tegur Miu. "Asik ngobrol lupa do'a, ntar setan ikut makan," lanjut gadis itu mengingatkan.
"Gak apa-apa, gue makannya gak baca do'a, tapi ntar pas minum gue do'a deh,"kata Vie setengah tertawa.
"Demi apa begitu?" tanya Lili yang menangkap sinyal kalau kawannya itu tengah bercanda.
"Biar setannya keselek, wk-wk-wk," jawab Vie sebelum dirinya tertawa lepas.
"Gak gitu juga konsepnya Maisaroh!" dengus Miu seraya tersenyum kecil. "Mana ada begitu," katanya lagi sedikit meninggikan suaranya. Hanya sedikit dan tak berniat marah sama sekali.
"Canda, beb. Gue udah baca do'a tadi," kata Vie sambil nyengir lebar.
"Geli gue dipanggil begitu," dengus Miu seraya bergidik mendengar panggilan sayang dari kawannya.
"Ya, udah. Kalau gak suka dipanggil beb, ntar aku panggil sayang aja deh," balas Vie sembari terkikik geli. Dia sangat hobi menggoda kawan-kawannya, lucu saja melihat wajah cemberut para sahabatnya karena berbagai keusilan yang dia lakukan.
"Elah, gue cuma bercanda," timpal Vie. "Gue diam, oke," lanjut gadis itu mulai fokus ke makanannya.
Selama makan, tak ada yang bersuara. Setengah jam kemudian, Indi yang sudah menyelesaikan sarapannya pun buka mulut. "Gue sibuk parah ke depannya. Jadi kayaknya gue gak bisa mampir ke sini," katanya sedikit sedih karena tak bisa berkumpul dengan kawan-kawannya.
"Santai aja, semangat bersibuk ria," ucap Vie yang malah menyemangati.
"Gue gak bisa bantuin bersih-bersih markas sampai beberapa hari ke depan, yah sampai gue gak sibuk lah baru gue bisa ke sini," ucap Indi.
"Gak apa-apa lagi, kan lu gak ke sini gara-gara sibuk, bukannya gara-gara malas mampir dan bebersih," tukas Miu menepuk pundak kawannya. "Gue sama yang lainnya bisa gantian ke sini kok kalau gak sibuk," lanjutnya membuat Indi merasa lebih tenang.
"Yup, kalau gue ada waktu, gue bakalan ke sini dan bebersih meski hanya sedikit," timpal Vie sembari mengepalkan tangannya penuh semangat.
"Kalau lu yang bebersih, lebih baik gak usah, deh," dengus Lili sembari memutar bola matanya malas. "Lu itu gak bakat beres-beres rumah!" lanjut gadis itu berbicara dengan jujur.
__ADS_1
"Yah penting gue niat, masalah bakat gue bisa belajar," timpal Vie tak mau kalah.
"Belajar? Di umur segini? Terus kapan lu bakalan bisa?" kata Lili menatap tak yakin ke arah Vie.
"Mana gue tahu kalau itu, yang penting gue pengen bantu?!" tukas Vie dengan santai, dia tak terlihat marah sama sekali dikatai tak berbakat oleh sahabatnya. Yah, itu memang fakta. Jadi buat apa marah, sahabatnya hanya mengingatkan saja, bukan menyalahkan.
"Vie itu lebih cocok ngerjain tugas dapur dari pada bersih-bersih," kata Miu menjadi penengah.
"Gue akui kalau makanan yang Vie buat cukup enak, tapi gimana ya, semuanya gak ada di resep dan selalu saja tampilannya aneh," timpal Lili sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Yang penting enak dan lu ngakuin itu barusan!" ucap Vie disertai dengan senyum penuh kemenangan.
"Dan jangan lupa, gue juga ada bilang ANEH!" dengus Lili menyesal barusan memuji masakan kawannya itu.
"Gak mau denger, bodo! Gue cuma denger kata ENAK!" tukas Vie keras kepala.
"Plis jangan ribut kalian berdua!" pinta Miu menatap keduanya bergantian. "Lama-lama kita bakalan ngabisin waktu buat bahas hal ini sampai kita balik ke rumah masing-masing ntar," lanjut gadis itu. Mereka berkumpul untuk mengobrol, bukannya berdebat. Oke, dia tahu kedua temannya itu tak mungkin berkelahi. Tapi tetap saja menjengkelkan mendengar orang berdebat dan tak ada yang mau mengalah sampai akhir. Jadi dia harus menengahi sebelum makin jadi masalah nantinya.
"Tahu, tuh. Si Lili keras kepala banget, hobi dia ngeledek gue," timpal Vie membuang muka ke lain arah.
"Lu yang keras kepala! Pake gak nyadar lagi?!" dengus Lili dengan wajah tertekuk dalam.
"Astaga, dosa apa gue punya temen kayak kalian berdua," desah Miu seraya memegang kepalanya yang terasa mulai nyut-nyutan.
"Ayo kita main game aja! Mabar, mabar!" sela Indi sambil menggoyang-goyangkan ponsel di tangannya.
"Kuylah, bentar gue login dulu!" ucap Lili penuh semangat.
"Gue ambil ponsel gue dulu," sahut Vie lupa akan kekesalannya.
Miu menghela napas panjang, dia lupa kalau ada cara mudah seperti ini untuk membuat kedua kawannya itu berhenti bertengkar.
__ADS_1