Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
13


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Margarita dan memastikan kalau sahabatnya juga bernasib sama seperti dirinya. Vie membuat rencana untuk bertemu dengan dua tokoh utama wanita lainnya. Meski sedikit sulit, mengingat dia adalah antagonis. Jadi sudah pasti akan banyak pihak yang menjauhkannya dari protagonis wanita di sini.


Hanya saja tak ada cara lain, Vie tak bisa memikirkan cara yang lebih baik selain mencoba bertemu dengan dua orang lainnya. Mereka berdua membagi tugas, Lili akan mendatangi rumah Indi, dan Vie akan m


berusaha bertemu dengan Miu.Meskimsulit, tapi kesempatan itu pasti akan datang dengan sendirinya. Entah takdir atau hanya kebetulan yang menguntungkan, Vie tak peduli asal dia bisa bertemu dengan Miu secepatnya. Kalau memang tak berhasil, Lili bisa mengatasi hal itu setelah dia selesai berurusan dengan Indi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sore harinya, Vie didandani habis-habisan. Para pelayannya sibuk memilihkan gaun yang cocok untuk tuannya itu. Vie mencoba menggali ingatan, apa sebenarnya yang terjadi saat ini. Apa.ada hal penting yang tak dia tahu atau dia lupakan. Seingatnya dia tak ingat pernah menulis yang seperti ini di dalam novelnya. Apa dunia novelnya berkembang sendiri tanpa harus dia tuliskan secara detail.


"Bagiamana kalau anda memakai ini, my lady?" tanya seorang pelayan membawakan kotak aksesoris untuk Vie.


"Tidak, my lady lebih cocok menggunakan yang ini!" sela pelayan lain membawakan kotak yang berbeda.

__ADS_1


Vie menghela napas panjang, dia sudah merasa lelah terlebih dahulu bahkan sebelum mengutarakan pendapatnya. "Pilih saja yang sesuai dengan gaun yang akan aku kenakan!" kata gadis itu terdengar dingin di telinga kedua pelayan tersebut. "Jangan terlalu banyak bertanya dan putuskan sendiri!"lanjut Vie menatap lurus keduanya.


"Maafkan saya, my lady!" kata si pelayan penuh sesal.


"Saya juga minta maaf, my lady," tambah pelayan lain dengan wajah menunduk.


"Lakukan saja pekerjaan kalian dengan benar!" tukas Vie sedikit pusing.


"Baik! Terima kasih, my lady!" kata keduanya bersamaan.


"Apa aku bisa bertemu dengan Miu di sana?" gumam Vie menatap ke luar jendela. "Kapan mimpi ini akan berakhir?" desah gadis itu yang ingin kembali ke kenyataan. Oke, dia memang hidup mewah di sini. Apa pun yang dia mau, bisa dia beli. Apa pun yang dia lakukan, tak ada yang melarang. Bahkan kejahatan bisa diputarbalikkan menjadi pertahanan diri oleh keluarganya. Sungguh kekuasaan yang mutlak untuk bangsawan seperti dirinya. Tapi seindah apa pun itu, ini hanya dunia novel. Orang tuanya masih berada di dunianya, belum lagi kehidupannya yang harus dia jalani. Dia juga tak tahu apa yang terjadi padanya, kenapa dia bisa berakhir di sini.


"Nona Violetta Embross, sudah sayang, nona," bisik seorang pelayan yang tergesa-gesa menghampiri majikannya saya dia melihat mobil yang ditumpangi Vie tiba.

__ADS_1


"Benarkah?" kata si empu acara dengan wajah riang. "Aku akan menyambutnya sendiri!" kata gadis itu seraya merapikan gaunnya sedikit. Dia pamit undur diri dan menunggu kedatangan Vie dengan senyum cerah. "Selamat datang di kediaman kami, Nona Embross!" katanya membungkuk sopan. "Saya harap anda menikmati pesta teh yang saya adakan," kata gadis itu lagi. Meski reputasi Lady Embross terkenal buruk, dia tetaplah bangsawan tingkat tinggi. Banyak orang yang bersedia melakukan apa pun untuk bisa memiliki hubungan dengan keluarga tersebut.


"Terima kasih sudah mengundang saya, nona," balas Vie mengangguk pelan satu kali. "Saya membawakan teh untuk nona karena anda telah berkenan mengundang saya ke pesta teh anda yang meriah ini!" kata Vie disertai senyum tipis.


Bukannya bahagia, si empu acara justru terlihat panik dan berkeringat dingin. Sepertinya dia menangkap maksud lain dari ucapan Vie barusan. Mungkin kira-kira begini, anda mengundang saya ke pesta anda bukan untuk merasakan teh anda yang rasanya buruk, bukan. Seperti itulah yang ditangkap oleh telinga nona yang terlihat ketakutan sekarang.


"Terima kasih, saya akan menyeduhnya dan menikmati bersama yang lainnya," kata gadis itu disertai senyum canggung. "Silakan duduk, saya akan segera memulai pesta teh ini," katanya lagi.


Vie tersenyum singkat sebelum dia duduk di kursinya, banyak pasang mata menatapnya takut-takut. Tapi Vie malah tak tahu akan hal itu, dia masih terlihat santai dan tak peduli dengan apa pun. Mata gadis itu berkeliling mencari seseorang, dia menarik sudut bibirnya saat melihat orang yang dia cari. "Itu dia orangnya!" gumam Vie tersenyum puas. "Rupanya tak sulit mencarinya," lanjut gadis itu merasa misinya kali ini akan berakhir sukses.


Vie mencoba mendekati Miu, tapi seperti yang sudah diperkirakan. Terlalu banyak orang yang menghalangi jalannya. Ingin rasanya dia membuat keributan agar dia bisa dengan mudah bicara dengan targetnya, tapi dia menahan diri. Dia ingin melakukannya dengan halus, tapi yah, kalau tak berhasil, dia akan melakukan kekerasan sebagai jalan terakhir.


"Saya akan membawa anda berkeliling untuk melihat rumah kaca di kediaman kami," kata si empu acara mengajak para tamu untuk memulai acara selanjutnya dari pesta tehnya. "Saya berharap, anda semua menikmati wangi bunga-bunga yang sedang bermekaran di sana," katanya lagi.

__ADS_1


"Bisa minta waktu sebentar?" akhirnya Vie mengeluarkan suara cukup keras, tatapan matanya tertuju pada Nona Michaella. Bisik-bisik terdengar, pasti akan ada kekerasan terjadi. Begitulah kira-kira pemikiran rata-rata orang di sini. Tapi Vie tak peduli, dia tetap terus melihat ke arah Michaella, tanpa memutuskan pandangannya sama sekali.


__ADS_2