Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
17


__ADS_3

Setelah saling berbicara, keempatnya memiliki harapan yang sama. Meski alasan mereka berbeda-beda, tapi mereka semua ingin segera kembali ke tempat asli mereka.


Lili menanyakan kapan mereka semua bisa kembali, tapi Miu meralat dengan mengatakan seharusnya sahabatnya itu bertanya apa bukannya kapan.


Alasan mereka bisa berada di sini saja masih menjadi tanda tanya, apa lagi cara bagaimana mereka bisa kembali ke tempat asal mereka. Bahkan mereka saja tak tahu apa mereka bisa kembali atau tidak.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sebulan berlalu, keempatnya terlihat semakin dekat. Yah, walau mereka hanya bertegur sapa sekedar basa-basi kalau di muka umum. Keempatnya sepakat tak ingin mengacaukan cerita kalau sekiranya mereka tiba-tiba kembali. Tak lucu kalau mereka sudah terlihat bersahabat, lalu suatu ketika mereka kembali menjadi musuh bebuyutan tanpa alasan apa pun.


"Sebenarnya kapan kita bisa kembali?" tanya Lili yang sudah lelah menjalani kehidupan kelewat santai. Dia hanya makan, bermain, belanja, dan kemudian tidur.


"Aku juga memikirkan hal yang sama,"keluh Indi lemas.


"Cara kita berakhir di sini saja kita belum tahu, jadi bagaimana kita bisa mencari jalan untuk balik?" kata Miu mencoba berpikiran logis.


"Itu yang aku bingungkan sampai sekarang dan tak terasa satu bulan telah berlalu," keluh Vie yang merindukan ibu dan ayahnya yang asli. Bukannya dia tak mendapatkan kasih sayang di dunia ini, dia malah mendapatkannya secara berlebihan kalau boleh jujur. Tapi tetap saja dia ingin bertemu lagi dengan orang tua yang sudah melahirkan dirinya.


"Kuharap mereka baik-baik saja," timpal Indi berharap orang mereka tak terlalu khawatir kepada mereka. Entah bagaimana tubuh mereka di dunia sana, apa sedang tak sadarkan diri atau malah tak bernapas lagi dan butuh bantuan alat-alat penunjang kehidupan di rumah sakit untuk melanjutkan kehidupan mereka.


"Mereka pasti khawatir," timpal Lili dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Mungkin juga mereka tak berhenti menangis karena kita," tambah Miu menebak-nebak.


"Tolong biarkan kami kembali!" pinta Vie menghela napas panjang sambil menutup matanya.


"Amin," timpal ketiga temannya serempak.


Keempatnya memang sedang bersama, dengan alasan berbelanja. Tentu saja bukan sebagai teman kalau terlihat di depan umum, tapi sebagai musuh yang saling pamer kekayaan.


Mereka pun berpisah, terlalu malas melanjutkan pembicaraan yang menyedihkan. Mereka memilih memikirkan sendiri-sendiri apa yang bisa mereka lakukan untuk kembali ke dunia mereka. Selain khawatir dengan keluarga mereka, mereka juga khawatir kalau mereka akan merusak cerita di dunia novel ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Vie tersenyum kecut melihat cemilan yang dibawakan ke kamarnya, kalau di dunia aslinya pasti dia sudah dimarahi makan di kamar. Tapi di sini, dia memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja. "Bukannya di sini tak menyenangkan, hanya saja ini seperti tempat pelarian dari kenyataan yang terasa seperti mimpi," gumam gadis itu membaringkan tubuhnya tanpa menyentuh makanan yang baru saja dia lihat tadi. "Kuharap aku bisa kembali ke sana!" kata gadis itu sebelum jatuh tertidur.


Vie yang sedang tertidur, mengernyitkan keningnya karena suara berisik. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala, berharap tindakan itu bisa membuatnya kembali tidur. Dia masih mengantuk, belum lagi dia lelah berpikir akhir-akhir ini, jadi dia butuh istirahat yang tenang. Dan sekarang semua terganggu.


Dahi gadis itu semakin mengernyit dalam, dia bisa merasakan kalau selimutnya tak sehalus yang dia gunakan sebelum tidur. Apa ada yang menggantinya saat dia tertidur lelap. Selelap apa dia sampai tak menyadari hal itu, kalau memang benar itu yang terjadi. Vie menyingkap selimutnya, dia menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan. Mata gadis itu terbelalak, dia menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Ini nyata! Gue balik!" kata Vie tak percaya, semenit kemudian dia menutup mulutnya, gaya bicaranya kembali seperti biasa.


Tak menunggu waktu lama, Vie berlari ke luar kamar. Masih memakai piyama tidur, gadis itu memeluk erat ibunya. "Emak, kangen!!!" teriaknya senang, setetes air mata terjatuh tanpa dia sadari. Dia bersyukur bisa kembali dan bertemu lagi dengan ibunya.


"Dasar anak nakal!" satu pukulan mendarat di punggung gadis itu. "Gak liat emak lagi masak? Kalau tadi kita nyungsep ke kompor gimana?" omel sang ibu melihat kelakukan anaknya. "Terus apa tadi?" lanjut wanita paruh baya itu seraya melepas pelukan dari anaknya.

__ADS_1


"Kangen, mak," kata Vie disertai cengiran bodoh.


"Huh, pasti lagi ada maunya?!" tebak sang ibu sok marah, padahal dia menyukai kelakuan manis putrinya yang tiba-tiba bertingkah manja seperti saat ini.


"Gak ada, mak," balas Vie cepat. "Suer, deh. Gak bohong!" lanjut gadis itu lagi.


"Ya, udah sana tidur lagi. Ini masih malam, tumbanan kamu bangun jam segini!" kata si emak menyuruh anaknya kembali beristirahat. Kalau ditanya kenapa ibunya vie memasak padahal hari masih malam, si ibu ini memiliki penyakit yang sama dengan anaknya, yaitu sama-sama doyan makan. Makanya kalau merasa lapar dan tak ada makanan, sang ibu pun rela memasak untuk mengisi perutnya yang keroncongan meski itu tengah malam sekali pun.


"Vie pengen ketemu sama temen-temen, mak," tukas sang anak sambil menggaruk pipinya.


Sang ibu melotot ganas, tangannya sudah terangkat dengan sutil panas sebagai senjata. "Gak liat jam apa? Ini jam berapa dan kamu mau keliaran di luar?!" sang ibu siap berubah jadi monster ganas yang akan mendisiplinkan anaknya sendiri.


"Nggak, mak," kata Vie dengan wajah polos. "Abis kebangun, Vie langsung nyariin emak," aku gadis itu lagi.


"Makanya, neng. Liat jam, liat jam!" kata si ibu mencoba menambah stok kesabaran karena anaknya yang sepertinya sedang puber. "Ketemu temen kamu besok aja, sekarang tidur!!!" lanjut si ibu dengan nada lebih tinggi. "Atau mau nemenin emak makan?" tawar sang ibu memberi pilihan.


Vie mengangguk, dia pun makan bersama dengan ibunya. Ah, begini saja dia sudah bahagia. Tak perlu kekuasaan yang besar, dia hanya ingin terus bersama dengan orang tuanya saja.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2