Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
24


__ADS_3

Setelah menyeberang dengan ajaibnya, mereka pun menikmati waktu luang yang mereka punya sesuka hati mereka. Setelah bersantai beberapa hari, Indi mengadakan pesta kebun. Itu pun adalah saran dari kepala pelayan yang ingin nonanya bersosialisasi bersama dengan teman-teman sebayanya. Semua disiapkan dengan cermat, mulai dari makanan hingga ke tamu undangan semua diurus oleh kepala pelayan.


Di hari H pesta, Indi yang kesal mendengar temannya digosipkan. Gadis itu pun menegur mereka. Untungnya suasana tak menjadi terlalu canggung, setelahnya Indi dan Miu permisi sebentar dengan alasan sepele. Kedua gadis itu saling diam tanpa bicara, hingga Miu menanyakan apa yang sebenarnya dilakukan oleh temannya barusan. Indi malah bertanya balik, berpura-pura tak tahu apa yang dimaksud oleh Miu. Miu pun menghela napas melihat tanggapan sahabatnya satu ini.


"Seharusnya kamu bisa lebih menahan diri," kata Miu seraya memegang dahinya, sungguh dia pusing dengan ini semua.


"Bagaimana bisa?" sanggah Indi dengan nada tak suka. "Dia sahabat kita dan orang-orang bodoh itu malah membicarakannya sesuka hati mereka di depan kita!" lanjut gadis itu kesal. "Lalu? Apa kita harus diam saja walau mendengar semua yang mereka katakan dengan hati yang kesal?" tambahnya mendengus tak suka.


"Tapi gak perlu juga ditegur seperti tadi," desah Miu yang paham dengan perasaan sahabatnya itu, dia juga merasakan hal yang sama tadi.


"Aku cuma kesal saja dan gak bisa menahan diri barusan," aku gadis itu mencicit lirih.


"Aku juga kesal mendengarnya," tukas Miu menghela napas pelan. "Tapi di sini kita gak bisa membela dia. Dia dan kita adalah musuh di dunia ini," lanjut gadis itu mengingatkan kalau mereka sedang bermain-main dengan yang namanya alur novel.


"Aku ingat itu, tapi tetap saja aku masih kesal!" sanggah Li keras kepala.


"Lain kali coba tegur dengan lebih halus lagi," kata Miu mengalah. "Biar mereka menganggap kalau kamu terlalu malas mendengar hal-hal yang menyangkut soal Nona Embross!" lanjut gadis itu menekankan nama keluarga yang disandang kawannya di dunia ini.


"Iya, iya, aku tahu!" tukas Li setengah hati. Masih tak senang dengan pengaturan yang dibuat oleh kawannya itu. Mengapa mereka tak bisa berteman juga di sini walau pun Vie berperan sebagai wanita jahat. Wanita jahat kan juga bisa memiliki teman yang sifatnya baik. Setelah mengingat-ingat lagi, mereka bertiga memang sejak awal sudah menjadi target dari si penjahat alias kawan mereka yang otaknya sedikit miring itu. Vie selalu mengganggu mereka bertiga dan orang-orang yang lainnya di setiap kesempatan yang ada. Jadilah mereka tak bisa berteman.


"Ayo kita kembali ke pesta, masa tuan rumah meninggalkan pestanya terlalu lama seperti ini," ucap Miu mengakhiri pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Dan gara-gara siapa ini jadi lama?" dengus Li yang masih menyimpan sedikit kekesalannya.


"Ya, tentu saja gara-gara kamu yang terlalu keras kepala ini!" balas Miu enteng, menambah rasa kesal Lili yang belum hilang sepenuhnya.


Pesta yang diselenggarakan oleh Lili berjalan dengan lancar, meski ada kendala di tengah, tapi semuanya bisa kembali menikmati pesta seperti semula. Hanya Lili yang perasaannya masih kesal yang terus saja cemberut, yah walau pun gadis itu masih menampilkan senyum manisnya saat diajak bicara, tapi senyum itu teramat palsu dan tak ada tulus-tulusnya sama sekali.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sudah sejak pagi sekali kediaman Embross menjadi lebih ribut dari biasanya, semua ini dikarenakan oleh sang nona besar yang terus saja mengurung diri di kamar. Sang nona besar bahkan meminta makanannya diantar saja ke kamar dan nona mereka itu kembali tidur saat selesai menyantap makanan yang dibawakan. Tak ada lagi kegiatan lain yang dilakukan nona mereka selain makan dan tidur. Bagaimana mereka tak khawatir kalau sang nona yang biasanya sangat agresif dan pemberani berubah menjadi seorang gadis penyendiri yang sangat suka mengurung diri.


"Sebenarnya ada dengan nona kita?" tanya salah satu pelayan di salah satu ruangan untuk istirahat mereka.


"Apa akan ada seseorang yang berada dalam bahaya nantinya?" tukas yang lain, entah dia khawatir pada nona majikannya atau pada rencana buruk yang mungkin sedang disusun sang majikan.


"Kita harus membuat nona keluar dari kamar sebelum ada masalah!" kata salah satu dari mereka dengan semangat yang membara.


"Bagaimana caranya?" tanya yang lain. Mereka pun mulai memutar otak untuk mencari cara membawa sang nona keluar dari tempat persembunyiannya.


"Siapa yang berani mengganggu nona?" tanya yang lain tiba-tiba.


"Yang bertugas hari ini harus bicara dengan nona, meski takut!" kata pelayan yang lebih senior memberi solusi yang paling gampang dan tepat.

__ADS_1


"Ah, saya tak berani mengusik nona," kata pelayan yang bertugas di kamar Vie hari ini. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan, takut kalau sang nona marah dan dia terkena murka dari sang nona.


Pelayan yang lebih senior menepuk-nepuk pundak pelayan barusan. "Kamu pasti bisa!" katanya memberi dukungan.


"Semoga berhasil!" ucap para pelayan yang lain. Mereka menghela napas lega karena bukan mereka yang harus maju dan berbicara dengan nona mereka.


Si pelayan meneguk ludah susah payah, mengangguk seraya memejamkan matanya. Dia hanya bisa menerima peran yang diberikan dan berharap tak memicu amarah sang nona. "Baik, saya akan berusaha!" katanya dengan nada lemah. Pasrah dengan apa yang akan dia dapatkan nantinya.


Beberapa waktu kemudian, pelayan tadi sudah berdiri di depan pintu kamar sang nona rumah. Berdiri di sana, terasa seperti berdiri di ambang tiang pasung penghukuman. "Semoga nona dalam suasana hati yang baik!" gumam pelayan itu sebelum mengetuk pintu dan membulatkan tekad untuk masuk.


"Selamat pagi, nona!" sapa pelayan tadi memasang tampang seceria mungkin, menyembunyikan ketakutannya sebaik yang dia bisa. "Bukankah hari ini terlalu cerah untuk dihabiskan di dalam kamar saja?!" katanya lagi berusaha mempertahankan senyum di wajahnya meski keringat dingin sudah membanjiri punggungnya.


"Hmm, begitukah?" tanggap Vie tanpa niat sama sekali.


"Benar, nona!" ucap pelayan tadi menanggapi dengan cepat. "Bagaimana kalau nona berjalan-jalan di taman kalau nona tak ingin ke luar rumah?" kata pelayan tadi sambil membereskan kamar Vie.


"Hmm, lakukan sesukamu! Persiapkan segalanya, sebentar lagi aku akan ke sana!" kata Vie dengan santai.


Senyum sumringah terpatri di wajah pelayan tadi, dia tak menyangka kalau nonanya setuju dengan apa yang dia sarankan. "Baik, nona!" tanggap pelayan itu. "Setelah ini akan saya siapkan semuanya bersama dengan pelayan lain!" lanjutnya penuh semangat.


"Ya," ucap Vie tak peduli.

__ADS_1


__ADS_2