Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
25


__ADS_3

Pelayan-pelayan Vie sibuk mengkhawatirkan nona mereka, bukan tentang masalah kesehatan, tapi mereka khawatir kalau nona mereka itu sedang merencanakan sesuatu yang sangat jahat hingga bisa mengancam nyawa seseorang.


Dari hasil rapat singkat, dipilihlah pelayan yang bertugas di kamar Vie untuk berbicara dengan nona mereka. Sang pelayan yang dipilih, terlihat sangat takut, tapi dia tak bisa menghindar. Dia hanya bisa menyalahkan nasibnya yang buruk dan keberuntungannya yang kurang, sepertinya ini akan jadi hari terakhir dia bekerja di sini. Sudah untung kalau dia hanya dipecat, kalau dia mendapat masalah dan tak bisa bekerja di tempat lain, bagaimana dia akan menghidupi keluarganya. Dia yang tertua di dalam keluarganya dan dia memiliki adik yang masih kecil-kecil, ibunya sudah tak kuat bekerja dan hanya bisa menjaga adik-adiknya saja. Jadilah dia sebagai tulang punggung keluarga.


Berbekal kenekatan dan pasrah pada segalanya, pelayan tadi pun akhirnya memberanikan diri berbicara dengan nonanya. Diawali dengan membicarakan soal cuaca hingga menyayangkan kalau cuaca seperti ini tak dinikmati, akhirnya dia mengutarakan niatnya dengan memberi saran pada Vie untuk keluar dari kamar dan menikmati cuaca yang cerah hari ini.


Vie menjawab dengan santai dan terkesan tak peduli, gadis itu meminta untuk disiapkan semuanya. Dia akan keluar sebentar lagi. Si pelayan merasa senang, dia tak menyangka kalau nonanya mau mendengarkan saran darinya. Dengan penuh semangat pelayan tadi pun mengatakan kalau akan segera menyiapkan segalanya bersama dengan pelayan setelah selesai membereskan kamar Vie.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Begitu pelayan muda itu selesai, dia segera kembali ke tempat para pelayan biasa berunding. Dia pun menyampaikan bahwa sang nona setuju untuk menikmati waktu dengan berjalan-jalan di taman. Sang nona juga meminta disiapkan segalanya yang mungkin dibutuhkan.


Para pelayan bernapas lega, kalau sang nona memiliki hal yang dikerjakan, none mereka tak mungkin memiliki waktu untuk membuat rencana jahat dan aneh-aneh untuk para nona muda. Makanya mereka pun dengan penuh semangat mereka pun segera bergerak dan menyiapkan apa saja yang mungkin nonanya minta nanti.


Tak berapa lama segala sesuatu yang menyangkut dengan persiapan telah selesai, ada berbagai cemilan, ada juga jus dan teh yang memiliki wangi menenangkan. Meja, kursi, dan payung pun sudah tertata cantik dan dihias seindah mungkin untuk menyenangkan hati nona mereka.


Sebagian dari mereka membantu Vie bersiap, Vie meminta disiapkan baju yang bisa membuatnya bebas bergerak. Kalau perlu dia tak ingin memakai gaun seandainya dia memiliki setelan celana. Sayangnya tak mungkin nona bangsawan sepertinya memiliki setelan celana, dia juga tak bisa langsung merubah isi lemari pemilik tubuh. Bayangkan apa yang terjadi saat dia kembali nanti, pasti akan ada keributan dan orang-orang di sini nantinya yang akan mendapatkan masalah karena dirinya.


Beberapa jam kemudian, Vie didampingi dengan beberapa pelayan terdekatnya berjalan-jalan di taman. "Bukankah di sini sangat indah, nona?" tanya salah satu pelayan yang mendampingi Vie.


"Ya," balas Vie terlihat sama sekali tak tertarik sedikit pun.

__ADS_1


"Ah, ha-ha-ha, bagaimana kalau kita minum teh sambil menikmati wanginya bunga-bunga yang sedang bermekaran di sini, nona?" kata pelayan tadi mengalihkan topik agar sang nona tak merasa bosan kalau hanya berkeliling saja.


Vie mengangguk, berjalan ke arah yang ditunjuk oleh pelayannya. Di sana sudah disiapkan beberapa cemilan dan juga tersedia berbagai minuman. "Bagiamana, nona? Apa sesuai di lidah anda?" tanya si pelayan memulai obrolan. Yah, meski pelayan itu sebenarnya takut kalau dia akan dipecat atau paling parah dihukum dan tak boleh bekerja dimana pun lagi.


"Tidak buruk," balas Vie dengan santainya.


"Ekhem, apa nona ingin bepergian ke luar besok?" kata salah satu pelayan yang lain bertanya. "Bukankah sangat membosankan menghabiskan waktu di rumah sepanjang hari?" lanjutnya lagi.


"Apa aku harus ke luar?" tanya Vie melirik pelayan yang tadi berbicara padanya. Hanya satu lirikan biasa, tapi sudah membuat pelayan yang ditatap ketar-ketir tak karuan. Takut kalau nonanya tersinggung dan marah kepada dirinya.


"Ti, ti, tidak harus, nona," kata pelayan tadi me jawab dengan terbata. "Saya hanya menyarankan agar anda bisa menikmati waktu dengan berbelanja atau yang lainnya," kata si pelayan menjelaskan dengan cepat.


Vie menikmati waktu hingga matahari hampir kembali ke peraduannya, gadis itu pun kembali ke kamar dan segera berganti pakaian untuk makan malam. Setelahnya, Vie pun memilih mengurung diri lagi di kamar sambil berbaring dengan santainya. Hal yang tak pernah bisa dia lakukan dalam waktu yang lama kalau di dunia aslinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Keesokan harinya, entah sebuah kebetulan atau memang pengaturan penjahat dan pemain utama harus bertemu. Vie bertemu secara tak sengaja dengan ketiga pemeran utama wanita yang selalu menjadi korban rencana jahatnya.


"Ho, tak bisa dipercaya kita bertemu di sini?" kata Miu melebarkan kipas yang dibawanya, menutupi sebagian besar wajahnya dan menyembunyikan ekspresi yang sedang dia pasang. Dia senang bisa bertemu dengan kawannya secara kebetulan seperti saat ini.


"Akan aku katakan kalau ini hanyalah sebuah kebetulan, entah kalian mau percaya atau tidak. Terserah saja, aku tak peduli?!" balas Vie dengan nada tak peduli.

__ADS_1


"Kalau kami menjawab, kami percaya, apa itu terdengar aneh?" kata Indi maju selangkah.


"Tidak!" balas Vie cepat. "Sudah kukatakan aku tak peduli, bukan?!" lanjut gadis itu.


"Apa masih lama?" tanya Lili, sebelah kening gadis itu terangkat menatap ketiga kawannya bergantian.


"Harus! Masih banyak yang belum aku lakukan!" balas Indi.


Miu mengangkat bahu acuh. "Aku juga masih ingin lebih lama di sini!" kata gadis itu mengaku.


Lili mengalihkan tatapannya pada Vie. Vie yang ditatap pun paham kalau yang tadi itu pertanyaan tentang kapan mereka ingin kembali ke dunia tempat tinggal mereka yang sebenarnya. "Jangan menatapku! Aku tak peduli?!" balas Vie. Setiap perkataan yang diucapkannya memang selalu saja terkesan jahat dan egois. Padahal niat Vie yang sebenarnya tak berbicara sekasar itu.


"Mau pergi bersama?" ajak Miu.


"Jangan menghalangi pandanganku!" desis Vie membalas. "Sangat menjengkelkan mendengar ajakan dari seseorang yang sangat tak penting?!" lanjut gadis itu terdengar kasar.


Miu tak marah, dia hanya tersenyum simpul. Sudah cukup terbiasa mendengar kawannya mengoceh kasar seperti tadi kalau sudah menyeberang ke dunia ini. Antagonis mungkin memang harus melindungi dirinya dengan berbagai kata kasar yang selalu siap dilontarkan dan menjadi peluru untuk merubuhkan setiap musuh yang tak disukainya.


"Kalau begitu, mari kita berpisah di sini, Nona Embross!" kata Miu menunduk singkat.


"Ya!" kata Vie acuh dan tak peduli.

__ADS_1


__ADS_2