Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
18


__ADS_3

Keempat dara manis itu bertemu di butik, di mata orang lain mereka seakan melakukan pertarungan kekuasaan dan pamer kekayaan. Padahal mereka bertemu untuk berunding.


Karena pusing dengan masalah yang tak kunjung menemukan titik terang, akhirnya mereka kembali ke kediaman masing-masing. Dengan harapan yang sama, mereka berharap bisa kembali ke dunia mereka secepatnya. Mereka khawatir pada orang tua mereka, mereka juga khawatir dengan tugas yang menumpuk.


Tidur Vie terganggu, dia juga menyadari kalau selimut yang digunakan tak selembut biasanya. Saat membuka mata, semua yang dilihatnya adalah barang-barang yang sangat dia kenali. Ini kamarnya, dia kembali. Langsung saja tanpa menunggu waktu lama, gadis itu berlari dan memeluk erat ibunya yang sedang memasak.


Tanpa melihat waktu, Vie malah mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan ketiga temannya. Tentu saja amukan dan omelan yang didapatkan gadis itu. Setelahnya sang ibu pun menyuruh vie kembali tidur atau kalau mau juga boleh menemani dia makan. Vie menerima tawaran kedua, keduanya pun makan bersama di tengah malam.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Keesokan harinya, Vie dengan terburu-buru ke luar rumah. Dia menyetop taksi dan segera ke markas mereka berempat.


"Kita balik!" pekik Vie begitu sampai di ambang pintu.


"Kita-kita juga tahu kalau itu!" dengus Lili yang rupanya tiba lebih dulu.


"Kamu tahu apa yang paling tak bisa dipercaya?" tanya Miu tiba-tiba angkat bicara.


"Nggak!" geleng Vie memasang tampang bodoh.


"Nyokap gue gak ngomong apa pun, jadi artinya kita gak menghilang selama sebulan," tukas Indi menjawab. Dia sudah bertanya pada ibunya berapa lama dia tertidur, dan ibunya menjawab dia hanya tertidur lebih lama dari biasanya tapi tak sampai lebih dari sehari. Begitu balik dari markas, dia langsung tertidur dan setelahnya bangun keesokan harinya tapi saat tengah malam. Ibunya berpendapat bahwa dia kelelahan, bahkan dirinya tak juga kunjung bangun meski dibangunkan untuk makan siang.


"Oh, gue baru tahu itu," gumam Vie berpikir kalau memang tak masuk akal ibunya tak menyemprotkan banyak pertanyaan kalau dia baru terbangun setelah tidur selama sebulan. Dan yang lebih mustahil, tak mungkin dia masih dibiarkan di rumah tanpa dibawa ke rumah sakit sama sekali.

__ADS_1


"Jadi lo bakalan lakuin apa, Vie?" tanya Lili. Tiga pasang mata menatap Vie saat itu juga.


"Makan, sekolah, ngerjain tugas, dan napas," jawab Vie tak bisa disalahkan juga, karena dia menjawab dengan jujur apa saja yang akan dia lakukan hari ini. Ada kelas sore nanti, jadi mereka bertemu di pagi hari.


"Bukan itu maksud Lili, Vie," sela Indi sebelum Lili emosi akibat kepolosan sahabatnya yang satu ini.


"Terus apaan? Itu jadwal gue hari ini," tukas Vie yang masih belum paham. Biasa, gadis itu terkadang memang lambat loading alias LOLA. Meski hanya kadang-kadang, tapi itu sudah cukup menjengkelkan kalau sedang dalam keadaan serius seperti ini. Dan itulah yang dirasakan kawan-kawannya saat ini.


"Novel lo!" ucap Miu tiba-tiba.


"Ya, gue lanjutin lah!" kata gadis itu tanpa ragu. "Kalian kan tahu gue itu tipe orang yang menyelesaikan semua hal yang udah gue mulai," lanjutnya diakhiri senyum kecil.


Ketiga sahabatnya mengangguk paham, memang seperti itulah sifat sahabatnya ini. Selalu bertanggung jawab kalau sudah memulai sesuatu, hingga akhir pasti dikerjakan. "Apa gak bisa lu Hiatus sebentar?" tanya Indi hati-hati. "Setidaknya sampai kita tahu gimana kita bisa ke sana dan balik ke sini," lanjut gadis itu.


"Lu gak ada bayangan gitu kenapa bisa begini?" tanya Miu, bagaimana pun Vie penulisnya, jadi dia yang lebih tahu tentang semuanya.


"Lu kan tahu kalau gue itu malas mikir yang susah-susah, jadi gue gak tahu sama sekali," aku Vie jujur.


"Kita tetiba kedampar di sana dan kemudian langsung balik dengan sendirinya? Tapi lu gak ada kecurigaan gitu kenapa semua bisa begini?" tanya Lili mendesak, dia berharap dengan sedikit desakan Vie bisa memikirkan hal-hal yang mungkin jadi penyebab mereka menyeberang ke dunia novel kawannya itu dna kembali kemari.


Vie menggaruk pipinya sambil menatap ke arah lain. "Yang gue inget, sebelum kita ke sana, kita semua berharap bisa nyantai merki.hanya sehari. Iya, gak sih?" gumam gadis itu tak yakin.


Miu memukul meja dengan cukup keras. "Dan kita balik ke sini, setelah kita berharap dengan sangat untuk bisa balik lagi?!" kata gadis itu menatap ketiga kawannya bergantian.

__ADS_1


"Jadi ..., apa ini karena harapan kita?" tanya Vie tak yakin.


"Hanya itu yang paling masuk akal," balas Lili setuju. "Gak sulit kan untuk memutar otak dan berpikir?" kata gadis itu melempar senyum tipis.


"Ngomong-ngomong, gue gak mikir," aku Vie dengan suara pelan. "Gue cuma mengingat-ingat apa yang kita lakuin saat itu," lanjutnya.


Jadi bisa dibilang kesimpulannya, ini semua terjadi karena keinginan kita sendiri?" tukas Indi ikut menimpali. "Dan itu harus keinginan kita bersama?" lanjut gadis itu. Saat mereka berpindah ke novel, mereka berempat berharap bisa bersantai. Saat mereka balik lagi ke sini, mereka berempat berharap hal demikian juga. Jadi syaratnya harus keinginan atau harapan bersama dan akan terjadi seperti yang diinginkan.


"Hal itu belum bisa dipastikan, kita harus memastikannya terlebih dahulu agar yakin," timpal Miu. Bisa saja cara kerjanya memang begitu, tapi bisa juga sebaliknya. Mereka bahkan belum mencoba.


"Tidak untuk sekarang!" tolak Vie mengira Miu ingin langsung mencoba.


"Gue masih pengen di sini dan mainin ponsel gue sepuasnya!" timpal Lili yang merindukan gadgetnya.


"Walau di sini lebih melelahkan karena banyak tugas, tapi gue lebih suka si sini karena makanannya lebih banyak rasa dan varian!" tambah Indi yang merindukan aneka rasa makanan ringan yang ada di sini.


"Gue juga gak mau ngelakuin sekarang!" dengus Miu yang kesal disalahpahami. Siapa yang mau balik lagi ke sana secepatnya. Dia paling malas dandan, dan di sana kalau mau ke luar harus duduk tegak di depan meja rias selama berjam-jam. Apa dia bisa betah di tempat seperti itu.


Keempatnya saling menatap, lalu tertawa bersama. Meski melelahkan, tapi semua harus dihadapi. Bukannya lari dan mencari kemudahan.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2