
Vie mulai menulis untuk bab selanjutnya ceritanya, dia menyusun satu-persatu kata-kata yang bertebaran di kepalanya hingga menyusun kalimat yang akan menjadi bab novelnya. Gadis itu sesekali mengernyit, menghapus beberapa kata, lalu kemudian menulis lagi kata lainnya yang menurutnya lebih cocok.
"Sudah beres, sekarang waktunya tidur," kata gadis itu seraya menutup laptopnya. Dia langsung berbaring dan jatuh tertidur setelah beberapa saat.
Dalam tidurnya, gadis itu bermimpi hal yang aneh tapi menyenangkan. Dia dan ketiga temannya hidup bebas tanpa ada yang namanya tugas. Tak ada yang namanya deadline dan tugas yang datang secara gila-gilaan. Di mimpinya, mereka hanya makan, tidur, berbelanja, tertawa, dan bersenang-senang. Tak ada hal apa pun yang menyedihkan atau pun membuat lelah, hanya ada kesenangan dan kemudahan dalam hidup mereka.
Paginya Vie terbangun tepat pukul enam, gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Sepertinya gue terlalu serius pas nulis," gumam gadis itu tersenyum mengingat mimpi yang dia dapatkan semalam. "Mimpi yang baik harus dibagi, anggap saja berbagi kebahagiaan," kata gadis itu lagi. Vie berencana memberitahukan kepada kawan-kawannya soal mimpinya semalam saat mereka bertemu nanti. Yah, belum tahu kapan mereka ada waktu untuk bertemu. Kalau tak bisa memberitahu secara langsung, Vie bisa menelepon ketiganya dan menceritakan semua melalui telepon.
Hari yang monoton terus berlanjut, pagi bangun dari tidur, setelahnya ke kampus, siang hari terkadang ada kegiatan klub, sorenya waktu istirahat yang pastinya digunakan untuk menyelesaikan tugas. Menjelang malam, Vie menulis lanjutan novelnya. Gadis itu tipe gadis yang bertanggung jawab kalau sudah memulai sesuatu, pokoknya dia harus menyelesaikan sampai habis, meski kadang harus memaksakan dirinya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Akhirnya setelah sekian purnama kita jumpa kangen juga!" tukas Indi saat mereka memiliki jadwal kosong dan memutuskan bertemu di markas. "Apa kabar kalian?" tanya gadis itu dengan wajah riang, senang bisa bertemu dengan kawan-kawannya.
"Lebai, lo," imbuh Lili berdecak malas. "Baru juga gak ketemu tiga hari," kata gadis itu lagi dengan nada mencibir. "Dan kabar gue baik!" tukasnya menjawab setengah hati.
"Kabar si Lili baik, cuma moodnya aja yang gak baik, Di," bisik Vie dengan nada teramat pelan.
"Gak usah bisik-bisik, kedengeran tahu!" sela Lili dengan wajah tertekuk.
__ADS_1
"Gue baik, tapi otak gue yang mulai oleng gara-gara kebanyakan tugas," kata Miu dengan wajah lesu, terlihat jelas kalau gadis itu bergadang hanya untuk menyelesaikan tugasnya. "Gue salut sama Vie yang masih sempat nulis padahal tugasnya pasti numpuk juga," lanjut gadis itu antara bangga dan juga kesal, mungkin kesal karena dirinya tak bisa seperti itu juga.
"Gak serajin itu kok," sahut Vie membalas.
"Gak rajin, tapi up tiap hari? Kadang up lebih dari satu bab, kalau bukan rajin apa namanya?" ungkap Lili dengan nada tak percaya.
"Itu emang udah gue tulis dari lama, tinggal up-nya aja. Bukan nulis di saat itu dan up di hari itu juga, sih," aku Vie menjelaskan.
"Katanya kemaren ada yang mau diceritain? Apaan?" tanya Indi setelah mengingat-ingat percakapan terakhir mereka di telepon beberapa hari lalu.
"Oh, iya. Apaan itu? Gue mau nanya tapi malah lupa saking sibuknya nugas!" sahut Lili ikutan bertanya.
"Astaga bener, padahal gue mau cerita langsung kemarin, tapi emak gue manggil. Si emak ngomongin soal guru les yang baru, jadi gue lupa deh buat nelepon kalian lagi begitu emak selesai ngomong sama gue," aku Vie jujur kalau dia pun juga lupa. Memang benar, saat dia akan bercerita di telepon, ibunya memanggil. Jadilah Vie diberitahukan ini dan itu yang membahas soal cara gadis itu mempertahankan nilainya, dan dia pun lupa menelepon lagi setelah mendengarkan wejangan dari ibunya yang panjangnya melebihi rel kereta api.
"Mumpung inget, cerita gih buruan!" kata Lili tak sabar.
"Jadi gini, pas gue kelar up dan milih langsung tidur, gue mimpi yang aneh banget tapi kita kek enjoy abis gitu," ucap Vie mulai menceritakan awal mimpinya.
"Skip, gue gak mau dengerin mimpinya orang lain!" tukas Lili mengangkat tangannya. Ayolah, dia tak tertarik mendengarkan mimpi seseorang walau pun mereka sudah berteman bertahun-tahun lamanya. Apa lagi tadi katanya mimpi aneh, kan. Makin lah Lili gak ada niat untuk mengetahui mimpi apa itu.
__ADS_1
"Dengerin aja napa, sih? Gak ada ruginya juga!" dengus Vie setengah memaksa. Indi sama Miu aja gak bilang apa-apa, lu kok malah bilang gak," katanya lagi melirik kedua kawannya yang mendengarkan dalam diam.
"Yah, gimana ya?" ucap Lili ragu. "Abisnya lu bilang mimpinya aneh, masa gue harus dengerin mimpinya orang terus mimpinya aneh pula?" lanjut gadis itu memberi alasan.
"Anehnya bukan aneh-aneh yang gimana-gimana Maimunah!" kata Vie setengah kesal. "Makanya dengerin aja lu pasti suka deh habis gue cerita!" lanjut gadis itu yakin.
Lili menghela napas panjang, memejamkan mata seraya menganggukkan kepalanya. "Okey, awas aja kalau beneran aneh," kata gadis itu pasrah tapi mengancam.
Vie pun mulai bercerita, mereka yang hidup di dunia yang tak ada namanya tugas, mereka yang tahunya hanya berbelanja dan bersenang-senang. Selalu makan makanan enak setiap saat, bahkan tak ada yang melarang mereka untuk makan kapan pun dan sebanyak apa pun yang mereka mau.
"Seandainya kita beneran sebebas dan sebahagia itu," ucap Lili penuh harap saat cerita Vie tentang mimpinya berakhir.
"Gue juga pengen mimpi begitu, meski cuman mimpi pasti bahagia banget dah hidup gue!" kata Indi mendesah penuh harap.
"Coba aja bisa satu hari aja tanpa yang namanya tugas, udah bersyukur banget gue," tambah Miu masih dengan wajah lesu.
"Iya, sehari gak ada tugas yang datang. Tapi besoknya langsung numpuk dan gak ngotaknya harus selesai secepatnya," dengus Lili hapal cara main dosen mereka memberi tugas.
"Waktu sekolah, gue pengen cepat-cepat kuliah. Pas kuliah, tugasnya lebih numpuk dan makin gak ada waktu kalau gak pinter-pinter ngebagi waktu yang ada. Ntar pas kerja, nugas juga buat ini-itu, rapat sana-sini, lari ke sana kemari sampai kaki gak berasa lagi. Tuntutan hidup gini amat dah," kata Vie yang mulai lelah dengan kesehariannya, tapi namanya hidup, ya dia harus terus maju walau pun tahu kalau di depannya bakalan banyak banget tuntutan. "Yah, gak mungkin juga kalau cuman kesusahan yang datang kan?" kata gadis itu berpikiran optimis. "Banyak juga bantuan dan hal bahagia yang bisa kita dapetin ke depannya!" tambah gadis itu sangat yakin. Ketiga kawannya mengangguk setuju. Mereka tertawa bersama dan kembali berbagi cerita apa saja yang terjadi pada mereka selama mereka tak bertemu.
__ADS_1