
Setelah tahu kalau dirinya sedang berada di dalam novel yang dia tulis, Vie dengan cepat beradaptasi dan mencari semua informasi yang bisa dia dapatkan. Dia mendatangi butik yang katanya terkenal ramai, Vie berniat untuk bertemu dengan Margarita di sana. Dia harus mencari tahu apakah dia sendirian yang terdampar di sini atau teman-temannya juga ikut bersama dengannya.
Vie bersikeras untuk bertemu dengan Margarita, dia mendatangi ruangan gadis itu untuk mencari tahu apa itu Margarita yang asli atau kah temannya dari dunia yang sama dengan dirinya.
Margarita menyambut dengan sindiran kedatangan Vie, tapi Vie tetap tersenyum sambil menyembunyikan umpatannya. Dia akan membalas kalau gadis di depannya itu bukan temannya yang mengalami hal sama seperti dirinya. Vie menulis beberapa saat, memberikan catatan tadi pada Margarita. Nona itu membelalakkan matanya meski hanya sekilas, dari sana Vie yakin kalau temannya juga terperangkap seperti dirinya.
Margarita menyuruh para pelayannya untuk keluar, begitu juga dengan Vie. Dia meminta waktu untuk berbicara berdua saja dengan sahabatnya. Orang-orang di luar menunggu dengan cemas, takut kalau akan terjadi pertumpahan darah di ruangan yang baru saja mereka tinggalkan.
"Semoga tak terjadi apa-apa, ya dewa!" gumam salah seorang di antara mereka.
"Jangan biarkan kedua nona itu bertengkar!" lanjut yang lain ikut-ikutan berdo'a.
"Semoga dewa yang bijak memberi kedamaian bagi kedua nona di dalam, sehingga tak akan ada perselisihan yang terjadi!" kata yang lainnya penuh ketulusan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di ruangan tersebut, keheningan menggantung. Hingga Nona Margarita membuka suaranya. "Kapan terakhir kali kita bertemu?" tanya gadis itu, kepalanya tertunduk dalam.
"Cukup lama, tapi kita terus bertukar kabar meski tak berjumpa," balas Vie yang yakin kalau gadis yang sedang tertunduk ini adalah sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu kata-kata ini?" tanya gadis itu lagi menunjukkan catatan yang tadi Vie berikan pada dirinya.
Vie mengangkat bahu acuh. "Entahlah," katanya terdengar menjengkelkan di telinga lawan bicaranya. "Percaya atau tidak, aku pernah memakai kata itu saat kita sedang berbicara," lanjut gadis itu. Meski dia yakin, tapi tak mungkin dia langsung membuka kartu di tangannya. Bisa saja nona di depannya ini hanya penasaran dengan apa yang dia tulis dan nantinya akan menyebarkan rumor yang buruk untuk dirinya. Tak ada yang lebih menakutkan dari pada kelaparan dan rumor yang buruk di dunianya saat ini.
"Apa kamu juga terlempar ke sini?" tanya Lili secara langsung. "Vie?" lanjut gadis itu sangat pelan, seolah takut kalau harapannya hanya menjadi harapan kosong.
"Sudah kuduga, itu kamu, Lili!" kata Vie menjentikkan jarinya.
"Gila kamu, apa yang kamu lakuin? Kenapa kita ada di sini?" desis Lili mengira ini semua terjadi karena sahabatnya ini.
"Hei, hei, tenang!" tukas Vie menimpali.
"Apa aku bisa tenang di situasi seperti ini?" ucap gadis itu mengetatkan rahangnya. Kalau saja yang berdiri di depannya sekarang bukan sahabatnya, sudah pasti orang ini akan menerima bogem mentah dari dirinya. "Gimana orang tua kita? Gimana sekolah kita? Tugasku juga masih banyak yang belum kelar aku kerjakan!" dengus Lili disertai rentetan keluhan.
"Ini kan novel kamu, Vie. Masa kamu gak ngerti?!" kata Lili menyudutkan Vie.
"Aku nulis baru berapa bab? Endingnya aja aku belum buat gambaran sama sekali. Belum tentu juga cerita ini akan berakhir sama seperti yang aku tulis kalau kita semua dikirim ke sini!" balas Vie menyimpulkan.
"Jadi? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Lili setelah lebih tenang. Ayolah, tadi pagi dia sudah berteriak histeris. Dia bahkan dipanggilkan pendeta dan juga dokter terhebat untuk memeriksa apakah dia sakit atau tidak. Makanya dia akhirnya memilih berbelanja dan jalan-jalan dari pada harus terkurung di kamar dan terus beristirahat. Sekarang dia malah mengetahui fakta kalau sahabatnya juga terdampar seperti dia, mungkin dua sahabatnya yang lain pun mengalami hal yang sama.
__ADS_1
"Kita cari yang lain!" ucap Vie serius. "Aku yakin besar kemungkinan mereka juga terdampar seperti kita," lanjut gadis itu.
Lili mengangguk setuju. "Aku akan ke kediaman Indi, kamu temui Miu. Kita bagi tugas," kata gadis itu membagi tugas biar misi mereka bisa lebih cepat selesai.
"Kalau semua sesuai yang aku perkiraan, kita bisa memikirkan cara untuk balik lagi bersama," timpal Vie. Bagaimana pun, empat kepala pasti akan lebih cepat memecahkan masalah dari pada hanya mereka berdua saja.
"Kita lakukan secepat yang kita bisa!" ucap Lili.
"Lebih cepat lebih baik!" sahut Vie setuju.
Pintu ruangan terbuka, Vie berjalan dengan anggun ke luar dari ruangan tersebut. "Senang bisa bertukar salam dengan anda, Nona Margarita," kata Vie menunduk singkat.
"Begitu pun yang saya rasakan," balas Lili, gadis itu juga menunduk sopan seperti yang Vie lakukan barusan.
Para pelayan di sisi mereka semua menatap tak percaya adegan itu. Kedua musuh bebuyutan yang selalu bertengkar, bisa bertukar sapa dengan akur. Yah, bukannya mereka tak senang karena tak ada masalah yang terjadi. Hanya saja mereka merasa seperti melihat keajaiban yang jarang terjadi dengan mata kepala mereka sendiri.
"Nona, apa tak terjadi sesuatu?"
"Anda tak diancam, bukan?"
__ADS_1
Masih banyak lagi pertanyaan lain yang diajukan pelayan Lili, tapi Lili hanya membalas dengan senyum canggung. Dia suka menghabiskan uang tanpa perlu pikir panjang, tapi dia masih canggung menerima banyak perhatian. Padahal dia tak melakukan apa pun, tapi tetap saja banyak mata yang khawatir padanya.
'Sebenarnya cerita ini akan berakhir bagaimana, Vie?' desah Lili dala hati, tapi di permukaan dia tetap menjaga senyumnya.