Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
11


__ADS_3

Vie terbangun di tempat yang asing, tapi dia masih merasa familiar dengan tempat itu. Setelah bertanya ini dan itu, akhirnya dia mengetahui fakta kalau dia berakhir masuk ke dalam novelnya sendiri. Entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi dia yakin ini bukan hanya sekedar mimpi atau khayalan semata.


Gadis itu minta disiapkan segala sesuatunya agar dia merasa nyaman untuk pergi ke luar. Untung saja dia tak membuat latar novelnya terlalu jadul, sudah ada mobil di sana. Sepertinya dia harus bersyukur, meski dia tak membuat waktu pastinya. Namun, Vie tetap memasukkan unsur modern. Bahkan ada kamera yang menangkap foto, yah walau pun belum ada ponsel seperti di dunianya yang sebenarnya. Di sini hanya ada telepon rumah dan hanya sebagian orang yang memiliki.


"Kita akan ke mana, my lady?" tanya si supir begitu melihat majikannya sudah di ambang pintu. Pria paruh baya itu segera menghampiri Vie dan membungkuk sopan di depan gadis itu.


"Shopping," balas Vie singkat, kemudian berjalan terlebih dahulu. Si supir mengikuti, dia lalu membukakan pintu untuk sang nona dengan cepat begitu nonanya sampai di depan mobil yang akan mereka gunakan.


"Silakan duduk dengan nyaman, my lady. Saya akan antarkan anda secepat yang saya bisa," kata si supir sebelum menutup pintu mobil. Si supir segera masuk dan duduk di kursi pengemudi, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia takut membuat nonanya marah kalau terlalu lambat.


Vie tak mengatakan apa-apa, gadis itu hanya menatap ke luar jendela. 'Demi apa? Gue bisa nyantai gini, dong!!!' pekik gadis itu di dalam hati.


"Kita sudah sampai, my lady," kata si supir menghentikan mobilnya. Dia bergegas ke luar dan membantu Vie membukakan pintu mobil. "Selamat menikmati waktu anda," katanya lagi.


"Um, kamu bisa menunggu di sana." Vie menunjuk toko yang seperti kafe yang berada tepat di depan mereka. "Kalau aku sudah selesai, aku akan memanggil kamu nanti!" lanjut gadis itu lancar sekali menggunakan kata aku-kamu, tak seperti di dunianya di sana, dia merasa canggung kalau bicara seperti itu.


"Baik, my lady!" kata si supir disertai senyum lebar. Baru kali ini dia diperlakukan baik, apa karena lady-nya itu puas dia tak membawa mobil selambat kemarin-kemarin.

__ADS_1


"Selamat datang, Nona Embross. Mari saya antarkan ke ruang tamu VVIP!" kata seorang pelayan yang sepertinya memiliki jawaban cukup tinggi.


Vie mengangguk tanpa menjawab, wajahnya dingin disertai tatapan mata tajam. Pelayan yang melayani Vie pun was-was, khawatir kalau mereka mungkin akan melakukan kesalahan karena terlalu gugup ditatap seperti itu.


"Silakan lihat-lihat katalognya, nona. Panggil saja saya saat anda sudah memutuskan apa yang anda inginkan, pelayan lain akan membawakan apa pun yang anda pilih dalam katalog tersebut," kata si pelayan dengan nada ramah disertai senyum bisnis.


Vie membolak-balik halaman katalog yang baru saja dia terima. "Apa Nona Margarita saat ini ada di toko ini?" tanya Vie dengan nada acuh.


Si pelayan terlihat ragu, dia takut kalau dirinya salah menjawab dan akan berakhir dengan keributan. Siapa yang tak tahu sikap gadis di depannya ini, dia tak ingin kalah dan selalu saja mencari masalah yang bahkan sebenarnya tak ada.


"Kenapa diam?" tanya Vie melirik sinis si pelayan. "Apa lidahmu digigit kucing?" tanyanya lagi dengan suara dingin.


Vie tersenyum kecil, senyum yang terlihat menakutkan di mata si pelayan tadi. "Antarkan aku ke sana!" kata Vie bangkit dari duduknya. "Aku ingin menyapa Nona Margarita," lanjutnya sembari tersenyum sekali lagi.


Si pelayan takut-takut menunjukkan jalan, kalau ada masalah pasti dia akan dipecat dari pekerjaannya. Dia sudah mempertemukan dua musuh bebuyutan yang tak mungkin bisa akur, apa yang akan terjadi pada toko ini pun dirinya tak berani membayangkan.


"Tunggu apa?" tanya Vie tak suka. "Cepat ketik pintunya!" lanjut gadis itu tak sabar. "Atau harus aku sendiri yang melakukannya?" tambahnya memasang tampang kesal. Ayolah, dia sedang mencari tahu apa hanya dirinya yang terjebak di sini atau kawan-kawannya juga terjebak bersama dengannya. Makanya dia harus bertemu dengan Lili. Kalau memang ketiga kawannya ikut ke sini, akan lebih mudah mencari jalan pulang ke dunia mereka kembali.

__ADS_1


Si pelayan mengetuk pintu di depannya, tatapan matanya teramat horor, berbagai pemikiran buruk terlintas di otaknya. Apa ini akan menjadi hari terakhirnya bekerja di sini, kenapa harus dia yang melayani lady bangsawan yang terkenal angkuh dan bermasalah ini. "Nona Embross berada di sini untuk bertukar sapa dengan Nona Margarita," katanya dengan suara lirih, berharap tak ada yang akan membuka pintu atau kalau perlu lebih baik nona yang mereka cari ternyata sudah pulang. Itu akan menghindarkannya dari berbagai masalah yang mungkin saja ditimbulkan oleh gadis angkuh di sampingnya ini.


"Oh, aku bertanya-tanya angin apa yang membawa nona yang sangat berharga kemari?" tukas Nona Margarita seraya membuka kipas, menutupi setengah wajahnya.


"Aku datang ke sini hanya untuk menyapa anda, Nona Margarita," balas Vie dengan tenang. "Kebetulan aku mengetahui anda sedang berada di sini saat aku sedang berbelanja," lanjut gadis itu menunduk singkat. 'Awas aja kalau lu bukan sobat gue, bakalan gue ubah jadi rendang lu kalau berani macem-macem!' lirik Vie menyembunyikan suara hatinya yang sebenarnya.


"Ho-ho-ho, apakah matahari besok akan terbit dari barat?" tukas Nona Margarita menyindir.


Vie tak ambil pusing, dia menulis beberapa saat lalu memberikannya kepada nona di depannya. Dapat vie lihat, mata gadis di depannya ini terbelalak meski sesaat. "Ekhem, tinggalkan kami!" dehem Nona Margarita kepada pelayannya dan penjaga toko yang melayaninya saat ini.


Para pelayan saling menatap ragu, apa lagi orang-orang yang bekerja di butik ini. Mereka takut kedua musuh itu akan menghancurkan ruang tamu mereka. Yah, walau pun pasti ada penggantian. Tapi tetap saja, lebih baik tak ada masalah yang terjadi.


"Apa aku harus mengatakannya dua kali?" tanya Nona Margarita sambil tersenyum teramat manis.


"Kami permisi dulu, nona."


"Panggil saja kami kalau membutuhkan sesuatu!" pelayan sang nona dan pelayan toko menjawab bersamaan.

__ADS_1


"Bisa biarkan kami bicara berdua?" kata Vie pada orang-orang yang mengikutinya dari belakang. Anggukan diterima, pintu tertutup. Tinggallah dua orang gadis di dalam sana dalam diam. Berbanding terbalik dengan suasana di dalam. Di luar, semua orang menunggu sambil berdo'a. Berharap tak ada yang dihancurkan di dalam sana.


__ADS_2