Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
20


__ADS_3

Mereka masih saja membicarakan tentang novel Vie, dunia yang mereka datangi dan tempati selama sebulan. Mereka juga mempermasalahkan tentang perbedaan waktu, sebulan di sana itu hampir setara dengan satu hari di dunia asli mereka.


Indi dan Miu malah sibuk menanyakan bagaimana dengan karakter yang mereka perankan kemarin ketika mereka kembali,. Dan bagaimana pula nasib para karakter itu saat mereka kembali ke sana, di mana atau ke mana jiwa mereka. Apa masih di tubuh yang sama dan tertekan dengan aura kehadiran dari mereka, atau ke tempat lain yang tak mereka ketahui.


Vie bertanya ulang untuk memastikan, saat sudah memastikan, gadis itu malah menjawab dengan nada yang menjengkelkan. Ingin rasanya Miu dan Indi memukul sekali saja, tapi tak bisa. Apa yang kawannya katakan juga ada benarnya, mana dia tahu ke mana jiwa para karakter itu. Dia hanya menulis, tak tahu banyak apa yang terjadi di sana.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Beberapa hari mereka tak bertemu, sekalinya bertemu wajah mereka terlihat sangat kusut seolah habis kalah berantem. "Gue capek banget," keluh Lili mewakili apa yang dirasakan oleh teman-temannya.


"Sama," kata Vie tak bertenaga. "Buat ke sini aja tadi gue paksa-paksain pake sisa tenaga gue," lanjut gadis itu merebahkan tubuhnya sembarangan di sofa.


"Tadinya gue mau langsung balik terus tiduran sampai besok, tapi nyokap gue malah ngajakin belanja n makan di luar. Mending gue lari ke sini aja," ucap Indi mengaku.


"Hi-hi, seorang Indi menghindar dari ajakan belanja? Ini hal paling keren yang pernah gue denger dari lo," ucap Miu yang masih bisa bercanda meski dalam keadaan lelah.


"Gue juga, tetiba emak gue ngajakin gue makan malam bareng anak temennya," decih Vie yang sudah hapal kelakuan ajaib ibunya yang selalu hobi menjodoh-jodohkan dirinya dengan anak-anak dari temen-temen ibunya itu. "Mending gue ngungsi di sini," tukas gadis yang rupanya melarikan diri dari perjodohan yang ibunya buatkan untuk dirinya.


"Kenapa gak Dateng aja, siapa tahu cakep n baik," timpal Indi menertawakan kawannya yang sudah sering mengeluh tentang hal sama.


"Gak ada yang lebih tampan dari pada para bias gue di dunia per-gepengan!" kata Vie dengan wajah berseri. "Semenjak gue kenal para cogan dua dimensi itu, gak ada yang secakep mereka si dunia ini," tukas gadis itu selayaknya orang yang baru jatuh cinta untuk pertama kalinya, sayangnya lawannya tak ada di dunia nyata, mereka hanyalah sketsa gambar dari komik atau novel saja.


"Jangan halu, ntar susah jodoh," celetuk Lili menoyor pelan kepala Vie.

__ADS_1


"Kasihan, cinta beda dimensi, susah buat diwujudkan," kata Miu menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda prihatin.


"Nyari bias itu yang sama-sama manusia, Vie. Kan banyak, enak juga buat ketemu asal mau usaha," kata Indi ikutan menggelengkan kepalanya. Dia juga suka para cogan di komik, tapi gak sesuka seorang Vie yang sampai-sampai ngerasa kalau cogan di komik itu yang nyata dan para pria di dunia nyata itu cuma orang-orangan sawah.


"Buat apa suka sama mereka? Gue ada aja mereka gak tahu," balas Vie mengungkapkan fakta yang sedikit menyakitkan.


"Aish, lu kadang kalau ngomong nyakitin," dengus Indi sedikit merasa kesal.


"Ngakak eh dengernya," kekeh Lili yang sudah mulai terlihat bersemangat.


"Astaga, berasa gak guna ya udah jadi fans selama ini," kekeh Miu.


"Gue gak bilang kalau gak guna, ya," kata Vie dengan cepet. "Gue cuma bilang, tuh bias juga gak tahu kalau lu jejeritan ngeliat dia, lu beli ini dan itu yang berhubungan sama dia, dan itu hak lu pada, sih," lanjut gadis itu. "Sama aja kayak gue, gue gak peduli apa kata orang lain soal gue yang doyan ngeliatin cogan dan cecan di komik," tambah Vie dengan cepat.


"Btw, tadi kalian pada ngapain?" tanya Indi mencari topik lain.


"Gue kedampar di perpustakaan dan nyalin berbagai macam materi, mana belum kelar lagi," kata Indi cemberut.


"Kalau gue sibuk nanya-nanyain kakak senior gue, biasa tugas dadakan," kata Miu mencoba tersenyum kecil. "Kalau lu, Vie?" lanjut Miu menatap kawan yang ditanyainya, siapa lagi kalau bukan Vie.


"Gue cuma capek gegara gak nemu makanan pas gue lagi laper-lapernya!" ucap gadis itu. Rupanya hanya dirinya saja yang capek karena masalah yang sepele.


"Astaga, hanya karena itu?" dengus Lili tak percaya. "Gue kira lu disuruh ngecet tembok, nyanyi sambil nahan napas, atau apa gitu kek," lanjut gadis itu mengomel.

__ADS_1


"Cuma? lu bilang cuma?" balas Vie dengan nada kesal. "Itu bukan sekedar cuma! Itu masalah yang bikin kesel dan lelah hayati?!" ucap gadis itu melanjutkan dengan sedikit berlebihan.


"Iya, iya, itu bikin capek pake banget!" kata Miu mengangguk sambil tersenyum, tahu bagaimana kawannya yang satu ini kalau berbicara soal makanan.


"Gue pengen liburan rasanya," keluh Indi seraya meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Gue malah pengen kulineran!" kata Vie menimpali.


"Sayangnya ini bukan waktunya liburan," kata Lili mengingatkan.


"Sebenarnya ada satu tempat yang bisa kita datangi kalau kita punya waktu kosong sehari aja, misalkan hari minggu gitu," kata Miu sambil nyengir kuda.


"Ah, tempat paling rahasia," kata Indi menjentikkan jarinya.


"Apa ntar pas hari minggu kita coba ke sana aja kali, ya?" timpal Lili yang ingin beristirahat sejenak.


"Kalau gak bisa balik lagi, gimana?" tanya Vie tiba-tiba. Oke, memang pas terakhir kali mereka bisa balik dengan selamat dan juga cukup cepat. Mereka juga tak membuat keluarga mereka panik atau apa pun itu, orang tua mereka hanya mengira kalau mereka berempat hanya tidur lebih lama karena kelelahan. Tapi siapa yang bisa menjamin kalau cara itu bisa berguna lagi pada perjalanan yang kedua, tak ada bukan.


"Ugh, gue gak mikir sampai ke sana?!" timpal Miu ikut berpikir kalau apa yang temannya katakan mungkin saja benar. Sudah untung mereka bisa balik kemarin, apa ada jaminan kalau mereka bakalan balik seperti itu lagi kalau mencoba untuk yang kedua kalinya.


"Jadi, kita gak bisa main ke sana lagi?" tanya Lili yang sebenarnya masih ingin bermain di sana setidaknya sekali lagi.


"Gue gak bisa jawab," balas Vie mengangkat bahu. "Dan untuk informasi, novel gue mau gue tamatin lebih cepat. Tapi bukan tamat paksa, sih. Cuma antisipasi aja, siapa tahu kejadian lagi kek kemaren padahal bukan kita penyebabnya," kata Vie melanjutkan.

__ADS_1


"Yah, sayang banget," kata Indi. "Padahal lagi seru-serunya gue baca biar gue tahu gimana gue harus bersikap kalau gue jadi si Innet Diaz ntar," lanjut gadis itu.


"Oh, ayolah. Ke depannya gue makin sibuk, dan gue yakin gue gak akan punya waktu lebih buat nulis kek gini. Dari pada hiatus gak jelas, mending gue kasih tamat aja," balas Vie menjelaskan.


__ADS_2