
Selesai menceritakan tentang mimpinya, keempat sahabat itu sama-sama berharap kalau ada satu hari saja, hari yang terbebas dari tugas. Vie bahkan berkeluh-kesah tentang masa depan yang akan mereka jalani, mereka akan terus dihadapkan dengan berbagai tugas, bahkan saat mereka mulai terjun di dunia perkantoran atau pekerjaan lainnya. Apa pun pekerjaan mereka, pasti tak luput dari yang namanya tugas.
"Gue juga pengen nyantai tanpa nugas," celetuk Indi dengan suara pelan. "Yah,walau cuma di mimpi aja gak apa-apa deh," katanya lagi dengan nada lebih pasrah. Kalau kejadian sukur, kalau gak ya sudah. Dia gak bisa maksa, hanya bisa sebatas berharap saja.
"Ntar tunggu tua, tunggu udh jadi nenek-nenek, pasti gak bakalan ada yang namanya tugas lagi, kecuali makan dan menikmati hari tua," sahut Lili asal bersuara.
"Kelamaan," dengus Miu. Mereka masih muda, kalau harus nunggu tua itu pasti butuh waktu lama. Iya kalau panjang umur, kalau gak. Umur manusia kan gak ada yang tahu, kapan pun itu, bisa saja langsung end bahkan sebelum usia kepala tiga.
"Gak apa-apa kelamaan, yang penting adalah harapan. Dah keliatan itu hilalnya, jelas kalau kita tua gak ada lagi yang namanya kerja," balas Lili masa bodo.
"Pas gak ada kerjaan, bosen juga pasti, kan?!" desah Vie. Gadis itu sudah melihat buktinya sendiri, neneknya pun sampai sekarang masih suka nyari kerjaan, padahal umurnya sudah sangat-sangat tua. Emaknya sering melarang, ayahnya pun begitu. Tapi neneknya dengan sangat keras kepala tak mau mendengarkan, katanya badannya kaku kalau tak bergerak dan cuma duduk nyantai saja seharian. "Dan contoh terdekatnya adalah nenek gue yang begitu. Disuruh diem aja, tetep gak mau. Malah milih nyuci sendiri, padahal gue juga bisa nyuciin bajunya," lanjut gadis itu tak habis pikir.
"Manusia kalau dipikir-pikir emang sedikit agak-agak, ya," kekeh Lili tertawa geli. "Waktu masih umur kek kita, minta waktu nyantai. Pas udah tua, malah pengen nyari kesibukan. Aneh, kan?" kata gadis itu memberi contoh.
"Yang paling aneh dan sering terjadi itu malah masalah cuaca kali. Kalau panas katanya, ya ampun, panasnya," celetuk Indi sambil berpose seperti orang yang mengelap keringat karena kepanasan. "Kalau ujan malah bilang, napa ujan sih? Kapan cucian gue kering kalau ujan terus?" lanjut gadis itu dengan wajah tertekuk. "Gue kadang bingung maunya apa dah sebenernya?!" sambungnya dengan kening mengernyit dalam.
"Namanya manusia, mana ada puasnya. Selalu menuntut dan menuntut," sahut Miu dengan nada malas.
"Untung aja gue Vie, bukan manusia," kekeh Vie mulai melawak.
"Kita lagi bahas manusia, Vie. Bukannya nama!" dengus Lili yang sudah hapal permainan kata dari kawannya yang satu itu.
"Astaga gue denger dan tahu itu dengan pasti!" sahut Vie dengan cepat. "Canda doang biar gak melempem kayak kerupuk suasananya," lanjut gadis itu seraya memutar bola matanya malas.
"Candaan lu garing banget dah, gak lucu," dengus Lili membalas.
__ADS_1
"Gak apa-apa garing, yang penting niatnya melucu tadi!" sahut Vie seraya tersenyum lebar. "Asal ada niat, hasil akhir gak ngaruh buat gue," kata gadis itu terkekeh sendiri.
"Iyain, asal lu bahagia," sahut ketiga temannya bersamaan.
"Bahagia banget gue, kapan gue pernah sedih coba?" ucap gadis itu dengan cepat. Vie memang jarang bersedih, dia kadang menangis saat membaca cerita yang sedih, tapi setelahnya sudah, begitu saja. Kalau ditanya kenapa nangis, dia jawab lupa tapi ceritanya bagus. Jadi kesimpulannya Vie itu cepat lupa, udah gitu aja.
"Waktu lu pengen cokelat tapi gak kebagian!" tukas Lili cepat.
"Saat lu niat beli es krim, tapi tiba-tiba ujan dan lu gak dibolehin keluar rumah sama nyokap lo!" tambah Indi tak mau kalah memberi contoh.
"Saat lu nangis gara-gara baca komik atau novel yang sedih, tapi abis itu lu lupa kenapa lu bisa sedih. Cerita tuh novel aja udah lu lupain dalam hitungan menit!" sambung Miu yang sudah hapal dengan sifat kawannya.
"Oh, itu termasuk sedih toh?" timpal Vie dengan santai sambil manggut-manggut. "Gue kira gak masuk itungan, he-he," tambahnya lagi sambil tertawa garing.
"Besok gue gak bisa ke sini, ya!" ucap Miu mengalihkan topik, kalau membahas soal kawannya itu tak akan ada habisnya. "Ada praktek di lapangan gue besok," lanjut gadis itu memberi alasan.
"Kalau lu, Li?" tanya Vie menatap lurus kawannya.
"Gue pulang langsung berangkat les abis ganti baju," jawab Li dengan nada malas.
"Ya udah, semangat buat besok, kawan!" kata Vie, gadis itu menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman untuk menyemangati ketiga kawannya yang besok akan menghadapi hari super sibuk.
"Lu sendiri? Gimana?" tanya Miu, Lili, dan Indi serempak.
"Sama aja, sih," balas Vie santai. "Gue ada les bentar, terus harus ketemu dosen juga, terus apa lagi ya?" lanjut gadis itu sambil berpikir. "Lupa gue," katanya memamerkan cengiran lebar seperti biasa kalau dia lupa sesuatu.
__ADS_1
"Fix, besok kita gak bisa ngumpul karena sama-sama sibuk, ya?!" ucap Miu menyimpulkan. Ketiga kawannya mengangguk serempak, memang mereka semua akan sibuk besok dan beberapa hari ke depannya.
"Mungkin gue baru bisa ke sini hari minggu," kata Indi tak yakin dengan jadwalnya. Dia terlalu sibuk, bahkan rasanya melebihi kesibukan pejabat saja.
"Gue juga kurang-lebih sama lah," kata Lili menyahut.
"Ya, udah. Sampai jumpa di hari minggu!" kata Vie menepuk tangannya sekali. "Ayo, kita pesan makanan sekarang. Biar besok semangat beraktivitas!" lanjut gadis itu tersenyum lebar. Tak ada waktu terlewat tanpa makanan bagi seorang Vie, yah kecuali saat dia konsen belajar atau membuat tugas. Kalau kegiatan yang lainnya, dia pasti selalu memikirkan soal makanan.
"Gue pengen makan ayam goreng, penyet, bakar, apa pun asal ayam!" tukas Lili bersemangat. Gadis ini sebelas dua belas saja kelakuannya dengan Vie, makanan selalu yang terdepan di setiap suasana.
"Nasi goreng aja deh gua," kata Indi memilih.
"Apa aja asal enak dan pedes!" sambung Miu tak pilih-pilih.
"Nasi goreng setan atau bakso iblis kayaknya cocok nih buat Miu?" kata Vie sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi lu mau yang mana?" Lili menatap Miu sambil memegang ponselnya, siap memesan makanan pesan antar.
"Kalau bisa semua, napa harus milih?" malah Indi yang menyahut sambil mengangkat bahunya acuh.
"Gak abis kan sayang, Maimunah!" cibir Lili.
"Kan ada lu yang bantuin, Markonah!" timpal Indi menjulurkan lidahnya.
"Nama makanannya napa harus gitu amat, dah," kekeh Miu tak habis pikir.
__ADS_1
"Jangan pikirkan namanya, cukup nantikan pedasnya sampai level berapa aja!" timpal Vie menyahut. Mereka pun memutuskan untuk memesan dan setelahnya menikmati makanannya begitu diantarkan.