Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
26


__ADS_3

Vie diajak menghabiskan waktu di taman, dia pun hanya ikut saja. Walau dalam suasana hati yang baik, tapi wajah datar dan tampang dingin Vie sudah cukup membuat para pelayan ciut. Sayangnya, meski mereka takut dan ragu, mereka harus tetap mengajak majikannya itu berbicara agar tak merasa bosan.


Salah seorang pelayan menyarankan untuk bepergian ke luar besok, menikmati makanan di luar dan berbelanja sepuasnya. Vie hanya melirik, tapi sudah mampu membuat pelayan itu merasa sesak napas dan ketakutan. Vie pun membuka mulut dan meminta siapkan segala sesuatunya untuk besok. Dia menuruti saran dari pelayannya untuk menikmati waktu di luar esok hari.


Secara tak sengaja, Vie bertemu dengan ketiga kawannya. Mereka pun berbicara saat berpapasan. Saat ditanya kapan mereka ingin kembali, Vie menjawab terserah saja. Padahal itu jawaban biasa, tapi terdengar acuh, dingin, dan seperti orang yang tak peduli dengan orang lain. Untungnya ketiga kawan Vie sudah terbiasa dengan gaya bicara karakter yang dibuat kawannya ini. Kalau tidak, pasti sudah terjadi perkelahian mulut di antara mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Hanya sekedar salam perpisahan saja, nyatanya mereka memasuki butik yang sama. Sudah begitu, mereka diberi ruang tunggu yang bersebelahan. Ruangan yang hanya terpisah dengan dinding tipis sebagai sekatnya. Entah apa yang dipikirkan oleh pemilik butik atau para pekerja di sana, sehingga menempatkan mereka di ruangan yang bersebelahan. Apa ini memang digunakan untuk menarik perhatian, atau memang pengaturan yang tak terbantahkan agar kedua pihak bisa dengan bebas memulai perkelahian kapan saja mereka mau.


"Keluar! Tinggalkan aku sendiri?!" kata Vie dengan nada datar. Dia malas dikelilingi banyak orang, padahal hanya untuk memilih beberapa gaun saja. Terlalu banyak orang, maka akan semakin banyak pilihan dan lebih banyak lagi komentar tak penting berupa pujian yang tak tulus dari mereka.


Para pelayan terlihat ragu, takut kalau tuan besar mereka meminta penjelasan pada mereka saat sang nona mulai membuat masalah. Apa yang harus mereka katakan, penjelasan apa yang mereka bisa berikan kalau mereka tak berada di sisi nona mereka saat masalah yang dibuat sang nona terjadi.

__ADS_1


"Apa apa?" tanya Vie mengangkat kepalanya. "Apa aku harus mengulangi perintahku?" lanjut gadis itu menatap tajam. "Atau haruskah aku yang pergi dari sini dan kalian saja yang memilihkan gaun untukku?" tambahnya bersikap bangkit dari duduknya.


"Ti, ti, tidak, nona!!!" ucap salah seorang pelayan menghentikan pergerakan Vie dengan terburu-buru, dia bahkan sampai meninggikan suaranya, takut kalau sang nona keburu pergi seperti yang nonanya itu katakan barusan.


"Maafkan kami, nona!" ucap yang lainnya. Dia maju setelah pelayan yang barusan berteriak menutup mulutnya, wajah pelayan itu terlihat pucat setelah sadar apa yang baru saja dia lakukan. "Kami hanya khawatir pada anda," katanya lagi dengan sopan.


Vie tak peduli, gadis itu kembali duduk dengan santainya. Dia mengusir para pelayan yang mengikutinya hanya dengan satu gerakan tangan. "Kalau begitu kami akan menunggu di luar, nona!" kata pelayan tadi memutuskan setelah mempertimbangkan.


Vie mengambil beberapa lembar uang yang digunakan di sini, dia memberikan pada pelayan yang tadi bicara padanya. "Jangan menunggu di luar, belilah sesuatu dan bersantai sedikit. Aku akan menghabiskan cukup banyak waktu di sini!" kata gadis itu tetap mempertahankan tampang datarnya.


Vie menghela napas panjang, rasanya dia baru bisa bernapas lega karena ditinggalkan sendirian tanpa pengawasan. "Menjadi penjahat ternyata tak menyenangkan," gumamnya mengeluh.


"Nona, maaf menganggu," ucap salah seorang pekerja butik mengetuk pintu. "Saya datang untuk membantu anda," katanya lagi.

__ADS_1


"Masuk!" balas Vie dari dalam.


"Oh, dan saya ingin menyampaikan ini," ucapnya mengulurkan tangan, memberikan gulungan kertas kecil ke arah Vie.


Vie menerimanya dengan malas, membuka pelan, lalu membacanya. "Huh, benar-benar merepotkan!" kata gadis itu sembari menggulung kembali kertas di tangannya. "Sampaikan saja terserah, aku tak peduli!" tambahnya sembari membuang kertas yang sudah digulungnya kembali itu.


"Akan saya sampaikan, nona!" kata orang di depan Vie sambil menunduk takut.


"Ya," kata Vie datar.


Tak berapa lama dari hari mereka bertemu, keempatnya pun berbaring di ranjang masing-masing. Mereka bersama-sama mengharapkan untuk kembali ke dunia mereka yang asli. Setelahnya, mereka jatuh tertidur pada waktu yang hampir bersamaan.


Rupanya, catatan yang disampaikan pada Vie adalah waktu untuk mereka kembali bersama. Dan saat inilah waktunya, makanya keempatnya sama-sama berharap agar dapat kembali ke dunia mereka dan segera meninggalkan dunia novel ini. Mereka sudah cukup bersantai dan bersenang-senang, makanya mereka memutuskan untuk segera kembali. Bukankah saat mereka lelah, mereka bisa kembali ke sini kapan saja yang mereka mau.

__ADS_1


Keempatnya terbangun di waktu yang sama, tapi ada yang aneh. Ini masih kamar mewah yang mereka tempati di dunia novel, mau tak mau mereka pun akhirnya saling mencurigai. Bertanya-tanya siapa sebenarnya yang tak memiliki niat yang sama di antara mereka berempat. Hanya itulah satu-satunya penjelasan yang mungkin saja menjadi alasan mereka tak kembali seperti yang terakhir kali.


__ADS_2