Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
8


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, hari minggu datang tanpa dirasa. Dari pagi-pagi sekali, keempat gadis itu sudah nongkrong di markas mereka. Keempatnya datang dengan kantong belanjaan di tangan mereka, sarapan katanya. Ya, mereka semua membeli sarapan tanpa konfirmasi dulu. Jadilah makanan mereka berlebihan, satu orang membeli empat porsi makanan.


"Ini gimana ngabisinnya?" tanya Miu bingung.


"Gue langsung beli, gue kira kalian gak ada yang bakalan bawa sarapan," ucap Indi.


"Ini dipaksain juga gak bakalan abis, bahkan sampai makan malam sekali pun," sambung Lili.


"Bagiin aja ke orang-orang," tukas Vie memberi saran.


"Siapa? Pembokat di rumah?" timpal Lili cepat. Kalau harus balik ke rumah, bisa-bisa makanannya keburu dingin dan gak enak lagi.


"Siapa, kek. Sembarang orang aja yang keliatannya butuh makanan tapi gak bisa beli atau orang yang laper tapi gak punya makanan buat dimakan," sahut Vie mengangkat bahu acuh. Mereka kan bisa keluar sebentar terus nyari target yang sekiranya gak bakalan nolak kala dikasih makanan. Lagian makanannya masih terbungkus rapi, belum diganggu, dan masih hangat.


"Trus kalau ada yang mikir kita orang aneh gimana coba?" celetuk Miu tiba-tiba. Zaman sekarang jarang ada orang yang langsung percaya begitu aja kalau diberi kebaikan, bahkan lebih sering ada yang curiga kalau kita itu mungkin ada niat jahat di balik kebaikan yang diberikan.


"Itu sih serah mereka, gue gak bisa ngatur mereka mau mikir gimana soal itu," acuh Vie tak ambil pusing. Bisa repot kalau harus selalu mendengarkan omongan orang lain, gak bakalan ada akhirnya.


"Oke, deh!" kata Miu setelah berpikir sebentar. "Kita ambil yang kita mau aja, selebihnya kita bagiin ke orang yang ada di sekitar sini aja," lanjut gadis itu. Kalau ada masalah, orang-orang tersebut bisa langsung mendatangi mereka. Yah, meski ini cuma markas bukannya rumah mereka juga sih. Tapi, wajah mereka cukup dikenal di kawasan ini.


"Tanpa banyak basa-basi, cus kita eksekusi!" sahut Indi penuh semangat.


"Banyak juga, ya?" kata Indi melihat makanan mereka begitu disatukan.


"Gue beli tuh kue lima puluh ribu, cukup banyak sih," timpal Lili yang membeli aneka kue basah, ada bolu dan yang lainnya yang dia beli untuk sarapan mereka.

__ADS_1


"Gue beli empat bubur ayam," aku Indi mengatakan apa yang dibelinya untuk sarapan mereka bersama pagi ini.


"Kalau gue nasi kuning deket rumah," kata Miu. "Lu beli apaan? Nasi kuning juga?" tukas Miu sambil melirik ke arah Vie.


"Gue tadi galau antara mau beli nasi goreng atau ayam penyet, nah gue gabungin aja dua-duanya. Kebenaran ada yang buka tuh warung baru, nasi goreng ayam penyet," kata Vie disertai cengiran lebar.


"Ya, ampun, Vie. Sarapan mana yang pake nasi goreng?" dengus Indi. "Harusnya tuh bubur yang lembut di perut dan gak ngebuat usus terlalu kerja berat di pagi hari," lanjut gadis itu.


"Aku," timpal Vie menunjuk dirinya sendiri. "Biasanya emak juga buatin nasi goreng kok kalau gue sarapan, yah walau lebih sering dikasih roti selai, sih," lanjut gadis itu sedikit membicarakan tentang ibunya.


Lili mengacungkan kedua jempolnya. "Kalau udah bahas ibu-ibu, gak bakalan ada salahnya. Semua pasti bener dan itu udah peraturan dari sananya!" kata gadis itu, sepertinya sangat tahu bagaimana sifat para ibu-ibu, terkhusus ibunya sendiri.


"Peraturan pertama, nyokap selalu benar!" tukas Indi lantang."Peraturan kedua, kalau nyokap salah. Balik lagi ke peraturan pertama!" lanjut gadis itu dengan tegas.


"Ya, udah. Ayo kita pisahin mana yang mau kita makan dan mana aja yang mau kita bagiin," desah Miu yang rupanya bernasib sama saja dengan kedua temannya. Dia jadi curiga mungkin kedua peraturan itu dibuat khusus untuk para ibu di seluruh dunia.


"Lu pada gak mau ngambil kue yang gue beli, nih?" tanya Lili menatap ketiga temannya bergantian.


"Gue cukup ini aja," sahut Indi dan Miu berbicara dalam satu waktu yang sama.


"Kalau ditawari, gue jelas gak bakalan nolak," ungkap Vie memilih beberapa kue yang dia suka.


"Dimakan gak tuh?" tanya Miu, pasalnya sarapan yang Vie beli porsinya cukup banyak. "Ntar gak habis," lanjut gadis itu mengingatkan kalau gak boleh buang-buang makanan.


"Abis lah, masa gak!" dengus Vie yakin. "Kuy, pergi sekarang!" lanjut gadis itu mengajak ketiga temannya membagikan makanan dulu baru mereka sarapan setelahnya. "Cepat dibagi, cepet kelar, cepet pulang, dan bisa lebih cepet sarapan!" tambahnya dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Kita baginya bareng-bareng atau mencar, nih?" tanya Lili.


"Bareng aja, jadi bisa sama-sama balik kalau udh selesai," balas Miu. Indi dan Vie mengangguk setuju.


"Mari kita melaksanakan tugas mulia di pagi ini!" tukas Vie penuh semangat. "Mari cari pahala yang banyak!" lanjut gadis itu menunjuk ke arah depan.


"Lebih tepatnya mari kita selesaikan masalah yang kita buat karena gak saling nanya," gumam Miu seraya menghela napas panjang.


Keempatnya ke luar dari markas mereka, mereka semua memilih berjalan kaki saja. Hanya sampai depan gang, cukup banyak anak kecil yang mereka jumpai. Keempatnya mengangguk bersamaan. "Adik-adik, kakak-kakak, tante-tante, dan ibu-ibu yang tampan selamat pagi!!!" teriak Vie menarik perhatian. "Boleh minta waktunya dikit aja?" lanjut gadis itu dengan suara yang sama nyaringnya.


Setelah hening beberapa saat, Vie pun melanjutkan lagi. "Di sini ada beberapa makanan, yah sebenernya kami belinya seperti orang kalap saking tertariknya dengan ini dan itu. Tahu-tahu setelah dibeli, hasilnya kebanyakan dan gak mungkin kami berempat bisa habiskan!" ucap Vie sedikit menjelaskan.


"Nah, kami di sini mau minta tolong sih. Tolong bantuin kami buat menghabiskan makanan ini!" lanjut gadis itu menunjuk kantongan yang mereka bawa.


"Jangan takut, jangan ragu, karena semuanya gratis!!! Kami gak bakalan minta bayaran kok," tambahnya disertai senyuman.


Dan cerita selanjutnya sudah jelas, keempat dara jelita yang baik hati itu diserbu massa. Kalau dilihat dari kejauhan sudah mirip seperti sedang bagi sembako saja situasinya, tapi bedanya ini bukan kampanye.


"Jangan desek-desekan, plis," kata Vie. Sayangnya suaranya teredam oleh banyaknya kerumunan yang mengerubungi mereka berempat.


"Selamatkan gue, tolong!!!" pekik Indi tertahan. "Udah habis, bu. Cuma ada tiga soalnya," kata gadis itu yang terus terdorong ke belakang karena banyaknya tangan yang menengadah dan pemiliknya yang terus bergerak maju.


"Untung gue beli ya kue, jadi serah mereka ambil aja sendiri bebas," ucap Lili setengah sombong. Dia tinggal memberikan semua kue yang dia beli ke seseorang dan orang itu yang membagikan. Dia juga gak mau tahu sih mau dibagi rata atau dimakan sendiri, terserah. Intinya dia sudah selesai membagikan makanan.


"Kami pergi dulu, ya. Makasih semuanya!" kata Vie seraya melambai. "Kuy, buru lari. Sebelum dikejar massa lagi," kikik gadis itu yang berlari lebih dulu meninggalkan ketiga kawannya.

__ADS_1


__ADS_2