
Vie menghadiri pesta teh, kedatangannya disambut hangat. Bahkan si empu acara sempat takut karena dia membawakan hadiah berupa teh yang langka. Si penyelenggara pesta teh mengira Vie sedang mengintimidasi dirinya, padahal itu tak terjadi sama sekali. Tapi yang namanya, Vie. Dia tak peduli dan tak juga meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Atau memang aslinya dia yang tak peka akan hal itu.
Saat pesta akan berlanjut ke rumah kaca, Vie malah mengajak Michaella untuk berbicara berdua. Berbagai tatapan mata diterima Vie, sebagian dari mereka merasa penasaran dengan masalah apa lagi yang akan gadis muda itu buat.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Bisa minta waktu anda sebentar?" kata Vie sambil menatap Michaella.
"Saya juga ingin berbicara dengan anda, nona!" kata Michaella seraya tersenyum kecil.
Vie mengangguk singkat, menatap ke nona yang menyelenggarakan pesta hari ini. "Bisakah saya meminjam tempat anda ini untuk berbicara dengan Nona Michaella, nona?" tanya Vie mencoba tersenyum ramah. Tapi memang dasarnya dia seorang antagonis, senyuman yang dia lakukan selalu saja terlihat mengerikan dan seperti sebuah ancaman.
"Si, si, silakan saja, lady," kata gadis itu takut-takut bercampur ragu. "Anda bisa berbicara selama yang anda inginkan di sini," lanjut gadis itu lagi. Dia berharap kalau nona pembuat masalah ini benar-benar hanya berbicara saja, bisa hancur pesta tehnya kalau ada masalah yang terjadi.
"Akan saya lakukan," kata Vie melirik, seolah berkata mengapa mereka semua tak kunjung pergi.
"Mari kita ke rumah kaca terlebih dahulu," kata si empunya pesta berkeringat dingin ditatap oleh pembuat onar nomor satu.
Vie bernapas lega saat mereka sudah pergi. "Akhirnya para pengganggu itu pergi juga," gumam Vie yang lelah ditatap dengan takut-takut karena temperamennya yang buruk. Ayolah, pemilik tubuh yang jahat bukannya dirinya. Kenapa dia juga harus menerima perlakukan yang sama padahal dia sudah berusaha bersikap lebih baik. Apa karena mungkin memiliki bakat untuk menjadi penjahat ya.
__ADS_1
"Apa yang ingin anda bicarakan Nona Embross?" tanya Michaella menatap Vie dengan santai.
"Saya akan langsung ke intinya!" kata Vie dengan nada serius. "Apa ada hal aneh yang terjadi pada anda?" tanya gadis itu. "Mungkin satu atau dua hari yang lalu?" lanjut gadis itu berharap gadis di depannya ini mau menjawab dengan jujur.
"Dan mengapa saya harus memberitahukan hal seperti itu kepada anda?" bukannya menjawab, Michaella malah balik bertanya pada Vie.
"Saya hanya ingin memastikan sesuatu," balas Vie santai.
"Apa tepatnya itu?" tanya Michaella dengan mata penasaran.
"Hmm, mungkin anda memiliki pertanyaan kapan dan bagaimana caranya untuk KEMBALI pulang?!" Vie sengaja menekankan kata kembali saat dia berbicara.
"Tanyakan satu-persatu karena aku juga gak tahu sebenarnya apa dan bagaimana ini bisa terjadi?!" tukas Vie. Kenapa semua bertanya pada dirinya, dia memang yang menulis cerita ini, tapi bukan berarti dia tahu segalanya dan alasan yang mungkin saja menjadi penyebab mereka berakhir seperti ini.
"Dan lagi, Lili masih mencoba mencari kepastian dari Indi. Tapi melihat kamu juga terjebak di sini, sepertinya Indi pun juga bernasib sama seperti kita," tukas Vie menarik kesimpulan sekaligus menjawab salah satu pertanyaan sahabatnya.
"Ini gak akan berlangsung untuk selamanya, kan?" tanya Miu yang tak rela kehidupannya di dunia asalnya hilang, meski di sana melelahkan dan banyak tugas, tapi ada juga keluarga dan hal-hal menyenangkan yang bisa dia lakukan bersama dengan sahabatnya. Jadi dia tak ingin kehilangan satu momen pun.
"Aku berharap begitu," kata Vie mendesah panjang. "Sekarang kita akhiri ini, bukankah terlalu lucu kalau seorang antagonis berada di suatu tempat dengan protagonis dalam waktu yang lama dan tak terjadi satu pun masalah?" lanjut Vie menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jadi, apa aku harus menangis? Atau kamu akan menyerang sekarang?" tanggap Miu siap dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Tentu saja tidak, aku terlalu malas membuat masalah di rumah orang lain!" dengus Vie. "Bahkan dengan aku tersenyum saja, beberapa gadis tak berani menatap ke arahku," lanjut gadis itu mengatakan fakta yang sering terjadi selama dia berperan menjadi gadis jahat ini.
"Kuharap kita bisa kembali ke sana!" ucap Miu penuh harap.
Vie menganggukkan kepalanya, itu juga yang dia harapkan. "Mari bertemu lagi saat Lili sudah memastikan kalau Indi juga mengalami nasib yang sama seperti kita," tukas Vie.
"Kamu sudah bertemu Lili?" tanya Miu merasa kalau kawannya ini terlalu cepat beradaptasi. Dia saja harus berpikir seharian dan barulah sore harinya dia bisa menata pikirannya. Tapi kawannya malah sudah bergerak lebih dulu.
"Tadi pagi, kami bertemu di butik. Tentunya aku yang sengaja meminta pertemuan itu dengan alasan ingin menyapa," kata Vie dengan entengnya.
"Seorang Violetta Embross ingin menyapa?" kata Miu yang sudah hapal bagaimana karakter penjahat yang sedang diperankan oleh kawannya yang satu ini. "Pasti banyak orang yang meragukan itu!" kekeh Miu, membayangkannya saja sudah lucu apa lagi kalau bisa melihat secara langsung.
"Mereka kira sebentar lagi akan kiamat, tahu!" timpal Vie tersenyum kecil. "Pelayan yang bekerja dan bertugas melayani kami selama kami berbelanja pun langsung pucat pasti saat itu juga," lanjut gadis itu seolah menceritakan hal sepele, padahal dirinya sudah membuat banyak orang hampir jantungan tadi pagi.
"Aku bisa membayangkan kalau akan ada banyak pertanyaan yang mereka lontarkan padaku saat kita keluar dari sini," memikirkannya saja membuat Miu lelah duluan.
"Makanya aku mau langsung pulang nanti," kata Vie acuh. Dia bisa menitip pesan berpamitan pada pelayan, alasannya juga sangat mudah dibuat. Katakan saja kalau dia sangat sibuk atau hal lainnya. Alasan tak masuk akal juga tak masalah, selama itu dirinya, itu semua bisa dijadikan hal yang masuk akal kalau keluar dari mulutnya.
__ADS_1