
Vie dan yang lainnya berkumpul di markas mereka. Keempatnya terlihat sangat kelelahan, ada yang sibuk kerja bakti saat matahari lagi panas-panasnya, ada yang menyalin banyak materi, dan masih banyak yang lainnya. Yang mengherankan, alasan Vie lelah adalah karena gak ketemu makanan yang dia cari pas dia lagi lapar-laparnya. Sungguh alasan yang membagongkan dan berasa di luar nalar, hanya Vie yang bisa membuat alasan seperti itu mungkin.
Saat sedang berkeluh-kesah tentang kesibukan mereka, semua kompak ingin liburan. Sayangnya ini bukanlah musim liburan. Miu pun mengingatkan kalau mereka hanya perlu waktu satu hari dan bisa berlibur sepuasnya di sebuah tempat rahasia.
Saat kawan-kawannya sedang bersemangat, Vie malah menanyakan apa itu aman, apa mereka bisa pulang seperti terakhir kali. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti saat mereka pergi ke sana lagi. Vie juga mengatakan kalau novelnya akan segera dia tamatkan dengan alasan bahwa dia akan semakin sibuk dan tak memiliki waktu untuk menulis ke depannya.
Ketiga kawannya menyayangkan hal tersebut, tapi tak ada yang melarang. Mereka mendukung apa pun yang Vie pilih karena memang gadis itulah yang akan menjalani dan mengerjakan semuanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Jadi udah fix ini mau ditamatkan?" tanya kawan-kawannya.
"Yo'i, gue takut ntar ceritanya malah aneh kalau kepanjangan," aku Vie.
"Hmm, kalau tamat, kira-kira kita masih bisa main ke sana gak ya?" celetuk Lili bertanya tiba-tiba.
"Bisa iya, bisa gak. Gak tahu deh," balas Vie santai.
"Ayo, kita main ke sana lagi, plisss," pinta Indi. Sepertinya gadis itu sangat lelah menghadapi berbagai kegiatan yang padat. Dia hanya bisa beristirahat sebentar, kemudian lanjut lagi bersibuk ria melakukan ini dan itu.
"Kalau gue gak bakalan nolak asal semua setuju, secara gue suka gegara gue bebas makan sebanyak apa pun di sana tanpa khawatir sama yang namanya berat badan atau pun penyakit," ucap Miu yang setuju-setuju saja.
"Kalau gue sih oke-oke aja, kapan lagi gue bisa bebas berantem sama lo," timpal Lili terkekeh sambil menatap Vie.
"Siapa sebenarnya yang harus jadi penjahat di sini?" dengus Vie balik mengejek Lili.
__ADS_1
"Heh, karena kita udah tahu gimana caranya ke sana dan balik lagi ke sini, gimana kalau kita ikutin aja cerita yang kek lo tulis?" ucap Lili yang secara gamblang melontarkan tantangan. "Maksud gue, gak ada satu pun dari kita bertiga yang berteman sama lo!" lanjut gadis itu.
Vie menyeringai kecil. "Jadi ..., gue bebas berbuat jahat sama kalian?" tanya gadis itu memastikan.
"Ya, jangan jahat-jahat amat, lah," timpal Indi menggaruk pipinya canggung.
"Ha-ha-ha, antagonis itu harus berperan jahat. Apa lagi gue yang perannya super-super antagonis. Mana boleh jahatnya tanggung-tanggung," balas Vie yang sangat menyukai lakonnya sebagai penjahat di sana.
"Penjahat gak bakalan bahagia, loh Vie," kata Lili mengingatkan.
"Akhir cerita pasti kena karma," tambah Indi.
"Jadi jangan terlalu jahat maksud mereka, biar karma yang didapat gak numpuk!" tukas Miu membantu kedua kawannya untuk meyakinkan seorang Vie agar tak terlalu jahat di sana. Ayolah, Vie yang sekarang katanya baik saja terkadang masih terlalu usil buat mereka. Apa lagi Vie yang super duper jahat, gimana cara mereka menghadapi Vie yang seperti itu.
"Gak masalah, akhir ceritanya ada di tangan gue," kata Vie enteng. Dia penulisnya, jadi dia yang menentukan akhir dari para karakternya.
"Buat juga sana, biar lu bisa ngasih ending yang lu mau sesuka hati lu," kekeh Vie sambil menjulurkan lidahnya, mengejek Lili yang pastinya bertambah kesal.
"Gak usah deh, gue gak seluang itu bisa nulis di tengah waktu istirahat gue yang nyaris tersisa sedikit," timpal Lili.
"Kenapa gak? Nyicil aja satu kata perhari, ntar kalau udah ditulis sampai tamat baru di up sekalian semua," kata Vie memberi saran.
"Gak, makasih. Gue gak suka memulai apa yang gak bisa gue selesaikan," kata Lili menimpali, menolak dengan keras masukan dari kawannya. Sedikit pun dia tak merasa tertarik sama sekali, dia sudah sangat sibuk. Jadi, dia tak ingin membuat dirinya lebih sibuk lagi dari pada sekarang.
"Kapan kalian balik?" tanya Miu memulai topik baru.
__ADS_1
"Kalau bisa gue mau tidur di sini aja," kata Indi malas bergerak.
"Ntar lagi gue balik, emak gue bisa-bisa ngomel panjang kalau gue telat balik," kata Vie, tangan gadis itu sibuk menggores pena di atas kertas. Entah apa yang dia tulis atau buat di sana, kawan-kawannya tak ada yang bertanya. Mungkin juga karena mereka sudah tahu apa yang dibuat gadis itu saat ini.
"Gue juga balik sekalian sama lu, deh," kata Lili memutuskan pulang bersama dengan Vie, rumah mereka memang searah. "Duit taksi bagi dua ntar," lanjut gadis itu lagi.
"Serah," balas Vie tak ambil pusing.
"Kita balik berdua, ya?" tukas Indi mengajak Miu balik bersama.
"Ayo aja, sih," kata gadis itu setuju dengan cepat.
Keempatnya menghabiskan beberapa waktu di markas mereka. Saat hari sudah semakin sore, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Berharap saja para ibu mereka tak memiliki rencana lain yang mengharuskan keempatnya untuk ikut berpartisipasi.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Hari-hari setelah itu, mereka hanya bertukar kabar lewat pesan singkat. Keempatnya begitu sibuk untuk sekedar berkumpul bersama dan bermain. Bahkan di hari minggu yang katanya merupakan hari libur saja mereka masih teramat sibuk. Bagaimana tidak, mereka harus menyelesaikan tugas yang diberikan pada mereka dengan tenggat waktu yang sangat singkat.
Ponsel Vie bergetar pelan, dia melihat ada satu pesan masuk di sana. Gue capek banget, itu isi pesan yang dia dapatkan. Gadis itu tersenyum tipis sebelum mengetik balasan dengan cepat, setelah selesai dia kembali membantu memasak untuk anak-anak panti. Entah ini tugas untuk apa, dia diharuskan untuk membantu di panti asuhan setiap minggunya.
Vie tak pernah mengeluh, dia mengerjakan semua dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Meski lelah, dia masih terus bergerak hingga dia merasa tak sanggup lagi dan harus beristirahat. Ponsel gadis itu bergetar lagi, isi pesan masih dari orang yang sama, mengatakan kalau dia ingin berlibur saat mendapatkan waktu luang. Satu atau dua hari pun tak masalah, dia hanya ingin refreshing sejenak dari segala kesibukan yang dirinya hadapi akhir-akhir ini. Pesan lain terus berdatangan, dua pesan yang isinya sama, membalas kalau si pengirim pesan juga memikirkan hal yang serupa. Vie menggeleng lemah, dia tersenyum kecil lalu mengangguk yakin. Tangannya dengan cepat mengetik balasan, senyum di bibir gadis itu semakin merekah setelah selesai membalas pesan dari kawan-kawannya.
"Mereka pasti senang, kan," gumam gadis itu bertanya pada dirinya sendiri.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...