Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???

Heh, Sebenarnya Apa Yang Terjadi???
22


__ADS_3

Setelah balik ke rumah mereka masing-masing, mereka sama sekali tak pernah lagi bertemu atau berkumpul di markas. Keempatnya memiliki berbagai kesibukan yang berbeda. Vie yang disuruh membantu di panti asuhan entah dengan alasan apa dan kawan-kawannya yang lain yang Vie sendiri tak tahu apa saja tugas yang mereka lakukan.


Sepertinya tugas ketiga kawannya cukup sulit, sesekali pesan berisi keluhan dari ketiganya muncul di obrolan grup mereka berempat.


Vie mengirimkan pesan balasan, lalu tersenyum tipis setelahnya. Gadis itu mengajak ketiga kawannya untuk bermain, di mana lagi kalau bukan di novelnya. Dan itu pun kalau mereka bisa ke sana lagi kali ini.


Tentunya ketiga kawannya menyambut dengan gembira ide Vie barusan, mereka tak punya waktu untuk berlibur, tapi kalau ke sana, satu hari saja sudah bisa menjadi sebulan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Mom, akhir pekan nanti Li sama yang lainnya bakalan pesta piyama di markas. Boleh, ya mom?" tanya Lili saat mereka sedang makan malam bersama.


"Cuma berempat, kan?" tanya sang ibu menatap curiga. Yah, siapa yang tahu anak gadisnya sedang masa puber dan menggunakan kawan-kawannya untuk bisa menginap di luar. Padahal sebenarnya hanya ingin bersenang-senang menikmati gemerlapnya dunia malam.


"Ya, iyalah mom," kata Lili cepat. "Memangnya mau sama siapa lagi?!" lanjut gadis itu cemberut.


Sang ibu mengangguk paham. "Boleh-boleh aja, tapi ingat jangan bergadang!" tukas wanita cantik itu mengingatkan sang anak. Tak ada baiknya bergadang, bahkan jika itu untuk menghabiskan waktu mengobrol dengan sahabatnya.


"Siap, mom," kata Lili disertai cengiran lebar. Gadis itu mengacungkan dua jempol, mengapresiasikan lewat tindakan bahwa ibunya adalah yang terbaik.


Seperti Lili, yang lainnya juga meminta izin pada ibu mereka masing-masing. Mereka bahkan mendapatkan pertanyaan yang sama, dan jawaban yang mereka berikan pun juga sama semua.


Hari yang ditunggu pun tiba, Lili yang paling bersemangat. Setelahnya Indi menyusul di nomor dua, gadis itu bahkan sudah membuat rencana apa saja yang akan mereka lakukan di sana.


"Ayo, kita harus cepat!" kata Lili tak sabar.


"Bentar, kita isi perut dulu baru bersiap berangkat," sela Vie menyiapkan berbagai makanan yang tadi dia beli saat di perjalanan.

__ADS_1


"Gak usah aja, ntar kita juga bisa makan sebanyak-banyaknya di sana," timpal Lili yang ingin cepat-cepat berpindah dimensi.


"Semoga kali ini semudah yang terakhir kali!" ucap Indi penuh harap.


"Amin, semoga kita bisa balik sesuai rencana!" tukas Miu.


"Saatnya makan," kata Vie dengan mata berbinar. Makanan adalah sumber tenaga dan sumber kebahagiaan bagi gadis itu. Jadi hanya dengan melihat dan mendapatkan sepotong roti atau cokelat saa, gadis itu sudah bisa tersenyum manis sepanjang hari.


Mau tak mau, Lili pun ikut makan bersama temannya. "Kalau udah di sana kalian pada mau ngapain?" tanya gadis itu sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Pesen banyak makanan penutup dan es krim, gue bakal borong semua sampai gue puas!" kata Miu dengan penuh semangat.


"Gue mau jalan-jalan di taman, menghirup udara segar dan menikmati indahnya taman yang penuh bunga," kata Indi dengan mata berbinar, dia sudah jatuh dan membayangkan apa yang baru saja dia katakan. "Kalau lu, Vie?" tanya gadis itu.


"Tidur," kata gadis itu santai.


"Heh, tidur aja pakai acara ngelewatin pertimbangan segala. Ya tinggal rebahan, tutup mata, beres dah?!" kini giliran Vie yang mendengus mendengar ucapan kawannya barusan.


"Ah, cari kegiatan lain yang beda, kek Vie," timpal Lili berharap hanya dirinya yang berpikir menghabiskan waktu dengan berbaring di atas kasur selama mungkin.


"Biar samaan juga ga ada larangan, Li," kata Vie, gadis itu memutar bola matanya malas. "Gue tidur di rumah gue dan lu tidur di rumah lu, gak bakalan ada gangguan, kan?" lanjut gadis itu.


"Gak asik lu, ah," keluh Lili membuang muka ke lain arah.


"Udah lagi, biarin aja!" kata Miu menengahi. "Dari pada si Vie yang seorang antagonis ke luar rumah trus buat masalah sama kita-kita? Gimana?" lanjut gadis itu melemparkan pertanyaan yang sudah bisa dipastikan apa jawaban yang mereka pilih.


"Gue lebih milih Vie tidur cantik ala princess aja deh, gak bangun juga gak apa-apa," timpal Indi cekikikan. "Yang lama, kalau perlu sekalian hibernasi tuh!" lanjut gadis itu bercanda.

__ADS_1


"Nah, sekarang kita dah kelar makan!" celetuk Lili penuh semangat. "Ayo lanjutkan liburan kita?!" kata gadis itu segera ingin bangkit dan berbalik menuju kamarnya.


"Eh, eh, eh, beresin dulu ini baru cus pergi!" kata Miu menarik kerah baju kawannya yang baru saja akan pergi.


"Yaelah, kalian aja kan bisa?!" dumel Lili, tapi tangannya tetap saja bergerak untuk membereskan meja dan piring.


"Kan kalau kerja sama-sama lebih cepet selesai, Markonah!" kata Indi setengah meledek.


"Iya, deh. Iya, Maemunah?!" tukas Lili membalas.


"Bisa gak bisa, ini bakalan tetap jadi liburan buat kita!" kata Vie, ketiga kawannya yang lain mengangguk bersamaan. Kalau memang tak bisa lagi ke sana, yah, mereka akan menganggap satu hari ini sebagai liburan yang cukup lah. Tapi kalau memang masih bisa, maka ini akan menjadi liburan yang sangat-sangat cukup panjang bagi mereka berempat.


"Waktunya berpesta," tukas Miu menggosok tangannya penuh semangat, berbagai deretan makanan manis sudah terbayang di kepala cantik gadis itu.


"Belanja, jalan-jalan, mata gue hanya untuk melihat hal-hal indah dan berkilau," ucap Indi sebelum memejamkan matanya.


"Kasur empuk, gue datang!!!" kata Lili yang memang berniat tidur selama yang dia bisa di sana.


"Kejahatan, sambutlah gue!" kekeh Vie membuat ketiga kawannya langsung menatap ke arahnya secara serempak. "Apa?" tanya Vie yang mendapat tatapan dengan tampang polos tanpa dosa.


"Udah berasa jadi antagonis lu, ya?" celetuk Miu sebelum kembali memejamkan matanya.


"Jangan jahatin gue, jangan jahatin gue!" kata Lili berulang seperti merapal mantra. "Atau bakalan ada peran di antara kita!" lanjut gadis itu. Vie menyeringai mendengarnya, dia merasa mendapatkan tantangan dari kawannya.


"Mari kita lihat apa yang akan terjadi ke depannya?!" kata Vie sebelum ikut memejamkan matanya.


Keempatnya memutuskan untuk tidur di satu ruangan yang sama, agar saat terbangun nanti, mereka langsung bisa melihat satu sama lainnya dan menceritakan apa yang mereka lakukan di sana. Tentu saja saat mereka menikmati waktu mereka sendiri-sendiri di sana.

__ADS_1


__ADS_2