
Keempat dara manis ini meminta izin dari orang tuanya masing-masing untuk menginap di markas mereka. Para orang tua menatap keempatnya dengan tatapan curiga,mengira kalau anak gadis mereka yang sedang puber-pebernya ini hanya beralasan mengunakan nama teman mereka. Setelah mengatakan kalau hanya akan ada mereka berempat tanpa yang lainnya, para orang tua pun mengizinkan. Mereka bahkan menyetok makanan untuk anak-anak mereka.
Sebelum pergi ke sana, mereka berempat mengisi perut terlebih dahulu. Walau ada seseorang yang dengan tak sabar berharap bisa lebih cepat untuk segera tertidur, tapi dia kalah suara. Jadilah dirinya harus mengikuti suara mayoritas, yaitu makan dulu sebelum pergi. Setelah makan, mereka membereskan semua agar tak meninggalkan piring kotor dan sampah bekas makanan mereka.
Setelah bergumam masing-masing, akhirnya tibalah bagi mereka untuk menyeberang kembali ke dunia novel yang ditulis oleh Vie. Bisa tak bisa, tak akan ada penyesalan. Mereka akan tetap menganggap ini liburan yang berharga meski rencana mereka gagal.
Keempatnya segera jatuh tertidur, mereka berbaring di satu ruangan yang sama. Entah berhasil atau tidak, hanya mereka berempat yang tahu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keempat gadis jelita itu pun membuka mata mereka, menoleh ke kiri dan kanan, tak ada siapa pun di sisi mereka. Senyum merekah, mereka berhasil menyebrangi dan menembus dimensi lain hanya dengan tertidur saja.
Seperti ucapan mereka sebelumnya, Vie dan Lili lanjut memejamkan mata. Mereka memilih untuk tidur lebih lama, tak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Di sisi lain, Indi segera bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas menikmati waktu dengan minum teh di taman. Sungguh indah dan menenangkan, mana bisa dia sesantai ini di dunia aslinya.
Lain halnya dengan Miu, gadis itu membuka jendela balkonnya lebar. Merentangkan tangan dan menghirup udara dengan rakus. Memanggil seorang pelayan dan meminta dibawakan berbagai makanan manis ke kamarnya. Dia ingin menikmati hari pertamanya di sini dengan memakan makanan manis yang sangat dia hindari di dunianya sana. Tak peduli dengan apa yang dikatakan pelayan pribadinya tentang bagaimana seharusnya seorang nona menghindari makanan manis, gadis itu tetap memakan semuanya dengan lahap. Senyum selalu terkembang di wajah cantik gadis itu, karena dia merasa sangat senang bisa bebas memakan makanan yang dia sukai.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, mereka menjalani hari baru. Keseharian yang mereka jalani tak jauh dari kata menghabiskan uang seperti berbelanja, mengadakan pesta, memborong makanan yang terlihat enak, dan mengikuti acara-acara sosialita. Oh, tentu saja, untuk yang terakhir Vie tak diikut sertakan. Vie itu ibarat bom berjalan, pembuat masalah, dan lain sebagainya. Jadi mereka takut kalau Vie hadir, gadis itu malah mengacaukan segalanya. Yah, meski ada beberapa kejadian Vie yang tak diundang tiba-tiba datang dan membuat suasana canggung.
__ADS_1
"Apa kabar ratu bencana akhir-akhir ini?" kata salah seorang yang menghadiri pesta kebun yang dibuat oleh Indi.
"Fu-fu-fu, bukankah terlalu sepi?" kata yang lain menyahut.
"Apa sang ratu sedang mempersiapkan rencana besar?" tebak salah seorang sok tahu.
Indi memutar bola matanya malas, dia sangat tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Siapa lagi kalau bukan temannya yang berperan sebagai penjahat besar di novel ini. Dia tahu kalau kawannya itu penjahat, tapi kanapa harus dijadikan bahan gosip seperti ini. "Apa pesta yang saya buat tak menyenangkan?" tanya gadis itu yang tak tahan dengan semua omongan yang baru saja didengarnya.
"Bagaimana itu mungkin, nona?" sanggah salah satu di antara mereka sembari tersenyum. "Ini pesta kebun yang sangat luar biasa menurut saya," lanjutnya memberi pujian pada Indi.
"Benarkah?" tanya gadis itu seraya menutupi senyumnya dengan kipas di tangannya.
"Tapi mengapa saya mendengar dengungan lebah yang menyakitkan telinga sejak tadi?" timpal Indi sembari tersenyum tak tulus. "Saya kan jadi salah sangka mengira kalian semua bosan dan mulai bergosip tentang hal yang tak penting," lanjut gadis itu masih mempertahankan senyum formalnya.
"Kami minta maaf, nona," kata salah satu di antara mereka mewakili untuk meminta maaf. Wajahnya terlihat sedikit menyesal, tapi entah karena apa. Gadis itu juga terlihat sedikit canggung karena harus meminta maaf agar mereka tak menyinggung seseorang seperti Nona Diaz.
"Ho-ho-ho, tak perlu sampai meminta maaf," kata Indi dengan santai. "Mari nikmati pestanya," lanjut gadis itu mengangkat gelasnya.
Miu yang ikut hadir mengangguk memberi isyarat agar mereka bicara berdua saja, Indi menangkap isyarat tersebut dan segera pamit dari pesta yang dia buat untuk sementara. Tinggallah Lili yang menjadi pendengar, mencari tahu apa yang ada di pikiran para nona bangsawan ini tentang apa yang baru saja dilakukan oleh kawannya barusan.
__ADS_1
"Ya, kenapa Nona Diaz bisa sampai menegur kita seperti itu?" bisik salah satu di antara mereka sambil melirik kiri dan kanan, takut kalau nona yang dia bicarakan tiba-tiba kembali tanpa dia sadari.
"Itu juga membuatku heran?" kata yang lain menimpali.
"Apa mereka berteman?" sahut salah satunya menuai tatapan secara spontan.
"Eyy, bukankah itu tak mungkin?" tanggap salah satu di antara mereka setelah diam cukup lama.
"Benar, itu tak mungkin!" sahut yang lain. "Kecuali matahari terbit dari barat?!" lanjutnya menggambarkan kalau kejadian itu benar-benar mustahil terjadi.
"Mungkin saja Nona Diaz tak ingin mendengar apa pun tentang Nona Embross di pesta yang dia buat kali ini?" kata salah satu gadis menyimpulkan kalau Indi kesal terus mendengar nama Vie disebut-sebut di pesta yang dia buat.
"Itu masuk akal!" kata yang lain mulai percaya kalau memang itulah alasan yang tetap Indi menegur mereka.
Lili tertawa mendengar itu semua, tak ada satu pun tebakan mereka yang benar. Ah, sebenarnya hampir ada yang benar meski hanya setengahnya. Tadi ada yang mengatakan kalau mereka berteman baru-baru ini, tapi sayangnya yang sebenarnya terjadi, mereka telah berteman sejak lama, bahkan sebelum mereka dilahirkan mereka sudah saling kenal karena para ibu mereka berteman. Untung saja mereka semua dilahirkan sebagai perempuan, kalau saja ada di antara mereka yang laki-laki, Lili yakin kalau mereka akan dijodoh-jodohkan seperti di sinetron-sinetron yang sering muncul di layar kaca. Apa itu hal yang patut disyukuri, sepertinya iya kalau menurut Lili.
Di sisi lain, Indi dan Miu yang berada di sebuah ruangan saling menatap tanpa bicara. "Apa itu tadi?" tanya Miu setelah cukup lama diam.
"Apa?" tanggap Indi sok tak paham. Gadis itu menatap ke lain arah, tak ingin menatap kawannya yang menatap lurus penuh intimidasi ke arahnya. Miu pun hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakukan Indi yang seperti ini.
__ADS_1