
Pagi ini Agil, Arya, Gio, Fery, Andre, dan Reno kembali pergi ke lokasi mereka menemukan Intan. Sedangkan Riki memilih menemani Intan di tenda.
Saat hendak memulai perjalanan ponsel Gio berbunyi, ia sedikit menjauh dari semua orang untuk mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, cah lanang. Gimana kabarmu di sana ?" tanya orang di seberang sana.
"Wa'alaikum salam, uti. Alhamdulillah baik" jawab Gio.
"Cucuku samamu bukan, nang. Soal'e dari tadi di telpon orak di angkat angkat"
Karena tak tau harus menjawab apa, Gio hanya diam tidak membalas perkataan dari uti Cellia tersebut.
"Halo, nang"
Sadar telah terdiam cukup lama, Gio akhirnya memutuskan untuk memberitahu yang sebenarnya terjadi. Dari pada uti tau dari orang lain, lebih baik memberitaunya sendiri.
"I..iya uti. Anu... Cellia hilang" ucap Gio tergagap.
"Astagfirullah, kok bisa nang"
"Cellia hanyut di sungai, tapi uti tenang aja, Gio sama yang lainnya akan berusaha menemukan Cellia"
__ADS_1
"Iyo nang, tolong temuin Cellia" ucap uti mulai terisak.
"Insyaallah uti. Uti berdoa saja agar Cellia cepat kami temuin, maafin Gio udah lalai ngejaga Cellia" ucap Gio dengan nada bersalah.
"Iyo, iyo nang. Jangan lupa kabarin uti, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah menutup telpon, Gio mendekati ke tempat Agil dan yang lainnya. Mereka lalu melanjutkan perjalanan.
"Sepertinya kita harus berpencar. Arya dan Andre ke arah lorong sebelah kanan, Fery dan Reno lorong kiri, Saya dan Agil akan memeriksa lorong yang paling depan. Utamakan keselamatan kalian" jelas Agil saat sampai di depan pintu kayu itu. Mereka segera masuk dan berpencar sesuai arahan dari Agil tadi.
Gio menempelkan telinganya ke setiap pintu sebelum membukanya. Ruangan ruangan itu kosong dan sangat banyak.
Langkah kaki seseorang mengarah ke tempat Agil dan Gio berada, mereka segera masuk ke salah satu ruangan untuk bersembunyi. Agil mengintip dari celah handel pintu. Seorang pria berpakaian serba hitam tepat berdiri di depan ruangan yang ini.
Pria itu membuka satu persatu pintu dan mengecek ke dalamnya. Saat hendak membuka pintu tempat persembunyian Agil dan Gio, datang seorang pria lagi yang berpakaian hitam.
"Sudah waktunya" ucap pria yang baru tiba itu. Mereka berdua berlalu meninggalkan lorong itu.
Agil kembali mengintip ke adaan diluar. Dia memberi isyarat kepada Gio bahwa kondisi diluar aman. Mereka keluar dari ruangan itu dengan mengendap endap mengikuti ke dua orang berpakaian hitam Tersebut.
__ADS_1
Kedua orang yang mereka ikuti itu berjalan menuruni sebuah anak tangga yang sepertinya terhubung dengan ruangan bawah tanah. Dinding dinding di ruangan itu terdapat obor yang menerangi ruangan.
Pria berpakaian hitam itu masuk kedalam sebuah pintu besar berwarna keemasan. Agil dan Gio mendekati pintu itu, mereka menempelkan telinga ke sisi pintu itu. Sayup sayup terdengar suara seorang gadis berteriak.
Terlalu fokus menguping, Gio dan Agil tak sempat melarikan diri saat pintu besar itu terbuka.
"Hahaha, lihat kita kedatangan tamu. Apakah kalian ingin menyaksikan pertunjukkan ini, hahahaha" ucap seorang pria berjubah hitam yang duduk di kursi bak singgahsana itu menggelegar di ruangan.
"Untuk apa kau menyimpan gadis gadis ini ?" tanya Agil dengan suara setenang mungkin.
"Oh, aku tau. Kau menjadikan gadis gadis ini sebagai gundikmu ?" sambung Agil.
"Tutup mulutmu, aku setia pada istriku" balas pria itu berang.
"Benarkah ki Dorso, ku dengar istrimu itu sudah lama mati"
Ya, pria berjubah hitam itu adalah ki Dorso. Dukun tersakti di desa ini, dan dia memiliki banyak murid.
"Cukup omong kosongmu, kurung mereka berdua. Kalian sudah berani membawa kabur salah satu tumbalku" ucap Ki Dorso memerintahkan anak buahnya untuk membawa Agil dan Gio.
Agil dan Gio mencoba untuk berontak, namun tubuh pria pria itu jauh lebih besar dari mereka. Mereka di kurung di sebuah ruangan yang berada paling ujung.
__ADS_1