
kini Gibran,Dewa dan Sinta bersiap untuk menuju rumah sakit bersama beberapa anggota,jam sudah menunjukkan pukul 12.34 tengah hari.
"kita gantian jenguk Anya sama Andi,hari ini sisanya kalian semua bertugas."Fahmi.
setelah selesai mengatakan hal itu,Gibran,Dewa,Sinta,Fahmi,Rian,Alaska dan Dean berangkat bersama ke rumah sakit.tapi sesampainya di dekat pagar pembatas hutan Alaska melihat seseorang yg ingin memanjat pagar,orang-orang itu mencoba untuk masuk ke dalam hutan melalui pagar.
"Stop,Ada orang mau menerobos masuk."ucap Alaska memberhentikan mobilnya.
"mana?."Tanya Fahmi.
"pojok Pagar,Ayo turun dan beritahu anggota untuk segera datang."Pinta Rian.
Mereka bergegas turun dari mobil untuk menegur orang-orang tersebut,Gibran yg berada di belakangnya heran kenapa Alaska berhenti.
"Ada apa?."Tanya Dewa membuka kaca mobil.
"ada orang menerobos masuk "Jawab Dean.
Dewa,Gibran dan Alaska juga segera turun dan dengan cepat mereka semua menuju orang-Orang itu,Alaska berteriak untuk menegurnya.
"woy,Berhenti di situ."Teriak Alaska sembari menunjuk.
"gawat kita ketahuan,gimana ini?."panik salah satu dari orang itu.
"sedang apa kalian?."Tanya Fahmi.
"kami cuma menengok saja,pak."Saut mereka gugup.
"apa yg kalian tengok di hutan itu? Kalian mau mati di hutan ini karena penasaran?."marah Rian menatap tajam mereka bertiga.
"kalian semua dari mana?."Tanya Dewa.
"kami dari Desa Anjani,pak."sahutnya sambil menunduk.
Anggota yg bertugas hari datang menghampiri mereka,Tanpa basa basi Toni membawa mereka bertiga ke pos penjagaan.
"Ayo,ikut kami ke pos penjagaan."Ajak Toni dengan wajah serius.
Tapi ketiga anak itu tdk beranjak dari tempatnya berdiri,mereka takut dengan banyaknya polisi yg berada di hadapannya sekarang.
"Kenapa masih diam,ikuti polisi itu."tegur Dean.
"Kami takut."lirik salah satu dari mereka.
"kalian ini sama polisi takut,tapi sama hal yg berbahaya dan memasuki hutan ini malah berani."tegas Alaska kesal.
"kalian pergi saja ke rumah sakit,biar ini kami yg mengurusnya."ucap Rudi.
Rian dan Alaska mengangguk kemudian berjalan menuju mobilnya untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit,Sedangkan ketiga Anak yg ingin masuk ke dalam hutan itu di urus oleh polisi yg bertugas siang ini.
"apa tujuan kalian nekat ingin masuk ke hutan ini?."Tanya fiki.
"hanya penasaran saja."jawabnya dengan santai.
"hanya itu?."tanya fiki lagi.
__ADS_1
"uji nyali."jawab salah satu dari mereka.
"kalian tau berita yg sudah menyebar dan Viral tentang hutan ini,tapi kenapa kalian masih keras kepala untuk memasuki hutan berbahaya ini,jangan pikirkan rasa penasaran kalian tapi pikirkan resiko besarnya."nasehat Tion.
"bukannya siang hari tidak apa-apa memasuki hutan ini?."Tanya mereka yg masih kekeh.
"apa jika terjadi sesuatu dengan kalian bertiga semua rasa penasaran kalian hilang? apa kalian punya nyawa cadangan jika hal buruk menimpah kalian? Bagaimana jika hal buruk menimpah kalian bertiga dan bagaimana juga dengan orang-orang yg menyayangi kalia? Orang tua misalnya."ujar Rudi.
Di Rumah sakit Anya menukar perban luka yg ada di lehernya,Syam dan Fiki hanya menatap ngeri saat dokter mengusapkan obat pada luka Anya.
"Lo berdua kenapa?."Tanya Anya melihat Syam dan Riki.
"ngeri liat jahitannya."jawab Syam.
"kapan luka itu ada? Bukannya semalam kamu menghadapi sosok itu bukan preman."Tanya Andi penasaran.
"Ini bukan karena benda tajam."Jawab Anya.
Suster yg mendengar jawaban Anya menghentikan tangannya yg membalut perban,Anya sadar dengan tatap dari suster itu.
"ada apa,sus?."Tanya Anya menatap Suster.
"apa maksudnya bukan karena benda tajam?."Ucap Suster tersebut.
"Saya di tugaskan di desa kenongo,luka ini karena ulah penunggu hutan itu."jelas Anya.
"hutan Larangan."tebak Suster.
"Iya,Sus."Jawab Anya.
"Kalian kesini?."Tanya Syam kepada Rian.
"iya,karena gue bawah hadiah buat Anya."Jawab Rian berjalan mendekat.
"hadiah apa?."Tanya Anya penasaran.
"dih! Kepo lu."sarkas Rangga.
Dari luar muncul tiga teman Anya secara bersamaan,mereka bertiga segera berlari memeluk Anya.begitu juga dengan Anya yg melepas rindu kepada Gibran,Dewa dan Sinta,Anya menangis saat melihat kedatangan mereka.
"Lo baik-baik aja?."Tanya Sinta.
"gue gk apa-apa,udah jangan Nangis."ucap Anya menenangkan Sinta.
'kok bisa kayak gini? gimana ceritanya?."Tanya Dewa.
"ceritanya panjang."jawab Anya.
"pendekkan."saut Rangga tiba-tiba.
"gk gitu juga."Sarkas Andi.
"katanya panjang,ya sudah gue bilang pendekkan.salahnya di mana?."Tanya Rangga.
"otak Lo yg salah."Sinis Anya.
__ADS_1
Andi dan yg lainnya tertawa melihat pertengkaran kecil Anya dan Rangga,pasalnya jika mereka berdua bertemu ada saja yg di ributkan.
"Lo sampai gk berbentuk kayak gini,Anya."ucap Gibran.
"Lo pikir gue buntelan adonan."Jawab Anya.
"bukan buntelan adonan,udah kyk boneka Annabel."Saut Rangga.
"serah Lo dah."Sinis Anya.
"udah ih! Berantem terus deh."tegur Andi.
"dia duluan."protes Anya.
Saat menjawab perkataan Andi mata Anya melihat sesuatu yg hitam yg melintas di depan pintu kamar,Anya menatapnya dari tempatnya untuk memastikan.
"Gue gk salah Lihat kan?."gumam Anya pelan.
"Ada apa?.""Tanya Riki.
"gue liat bayangan hitam di luar kamar,jalannya cepat banget."Jawab Anya sambil menatap pintu.
"mungkin Lo salah liat."ucap Rangga.
"mata gue belum rusak,gak mungkin salah liat."Saut Anya.
"biar gue Liat."ucap Dean berjalan membuka pintu.
Dean melihat keluar kamar untuk memastikan apakah ada orang,Tapi Dean tdk melihat seseorang berbaju hitam yg berlalu lalang di lorong Rumah sakit.
"gk ada orang pakai baju hitam."ucap Dean mendekat ke arah Anya.
"beneran?."Tanya Anya.
"iya,ada sih orang tapi gk ada yg pakai baju hitam."jelas Dean.
"udah dulu deh,kamu sama Andi harus cepat pulih."ujar Sinta.
"Bosen di sini,gue bisa pulang gk sih.",Pinta Anya.
'boleh setelah sembuh "Saut Andi.
"sekarang gk boleh,tolong dong tanyain ke dokternya."pinta Anya sambil merengek.
"sudah Lo harus banyak istirahat,Kalau mau pulang tunggu sembuh dulu ."ujar Syam.
"gue sudah sembuh."Sini Anya kesal.
"sembuh apanya? Lihat tuh udah gak ada bentukannya."celetuk Rangga.
"Diam deh,gue gk nanya sama Lo."sarkas Anya
"Lo juga diam,masih sakit banyak tingkah."celetuk Rangga.
Anya hanya berdengus kesal dan berpaling dengan perkataan Rangga.
__ADS_1