
Pagi ini seperti janji Gio, dia pergi menemani Cellia pergi ke rumah lamanya. Arya dan Aulya juga turut pergi bersama Cellia. Sedangkan teman teman yang lainnya memilih di villa saja.
Sangking bersemangatnya, Cellia berlari meninggalkan Gio, Aulya, dan Arya yang tertinggal di belakang.
"Cel, jangan lari lari, ntar jatoh"
Bukan Cellia namanya kalok manut aja, malah makin pecicilan.
Brukk
Belum lima menit Arya selesai berbicara. Di depan sana Cellia terjatuh mencium tanah. Arya, Gio, dan Aulya berlari menghampiri Cellia.
"Kan bandel, baru aja di bilangin. Mangkanya jangan lari lari, di sini tu jalannya belum mulus amat. Jadi cewek itu jangan petakilan, yang anggun dikit napa" Arya dan Dita membantu Cellia duduk.
"Adoh sakit tau, nanti aja ngomelnya"
"Gi, urus ni bocah bandel. Gue mau jalan dulu"
Dengan rasa yang tidak berperikemanusiaan, Arya dengan santai meninggalkan Cellia yang sudah di anggap adik olehnya itu terjatuh.
Saat Aulya ingin membersihkan lukanya, Cellia menyuruh Aulya pergi menyusul Arya."udeh Ya, lo pergi aja ama si abang laknat itu. Sapa tau kan di beliin seblak, jangan lupa bungkusin gue"
Awalnya Aulya tak yakin meninggalkan sahabatnya itu, namun dengan sebuah kode dari Cellia, dia dapat mengartikan bahwa sahabatnya itu baik baik saja.
Dengan langkah cepat, Aulya pergi menyusul Arya yang sudah berada jauh di depan jalan sana.
Tuk
"Seblak aja yang dipikirin" Cellia mengelus keningnya yang di jitak Gio.
"Biarin, awas ntar lo minta seblak gue" ucap Cellia dengan menjulurkan lidah.
Cellia bangkit dari duduknya. Melihat Gio berjongkong di delannya, dengan cepat Cellia melompat ke punggung Gio.
Cellia melompat secara tiba tiba membuat Gio kehilangan keseimbangan, untung saja lengannya bertumpu pada tanah.
"Ngapain lo, anak monyet. Bikin kaget aja"
"Kan elu yang mau gendong gue"
"Siapa juga yang mau gendong lu, emaknya gorila. Tali sepatu gue lepas gue iket dulu, ntar kalok ke injekkan gue yang jatoh. Turun sekarang"
"Nggak bisa, gue udah pw. Udah lama juga kan lo nggak gendong gue. Terakhir pas gue nyungsep di selokan, waktu gue masih kelas 6 SD"
Dengan pasrah Gio berjalan membawa emak gorila di punggungnya. Dari balik pepohonan, seorang pria mengepalkan tangannya melihat Cellia yang berada di gendongan Gio.
******
Akhirnya Cellia dan Gio sampai di tempat tujuan mereka. Cellia mematung memandangi rumah sederhana yang di tutupi oleh rumput dan ilalang itu. Warna catnya pun sudah memudar.
__ADS_1
Rumah di mana si kecil Cellia dan Gio dulu tumbuh bersama. Mata Cellia melirik sebuah ayunan yang diikatkan di bawah pohon mangga besar. Dulu, diayunan itu lah Cellia menunggu Gio pulang sekolah. Usia Gio dan Cellia terpaut 3 tahun, saat itu Gio sudah bersekolah sedangkan Cellia belum.
Puk
Cellia menoleh kearah orang yang menepuk bahunya.
"Udah kan. Yok balik ke villa" ucap Gio.
"Ntar. Gue mau nostalgia dulu"
Cellia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tua itu. Topi hody yang di gunakan Cellia di tarik oleh Gio.
"Eh mak gorila, lo bilang tadi cuman mau liat doang" ucap Gio yang tidak melepaskan tangannya dari hody Cellia.
"Ya kan gue mau ngeliat isinya juga. Sapa tau ada anak gue nyasar ke situ." Cellia mencoba melepaskan cengkraman tangan Gio di hodynya.
"Jadi beneran lo emaknya gorila ?"
Cellia tidak menghiraukan ucapan Gio, setelah berhasil lolos Cellia berjalan masuk ke dalam rumah. Meninghalkan Gio yang masih mengomel di sana.
Saat pintu di buka, suara khas dari kayu yang bergesekan dengan lantai pun terdengan nyaring. Ruangan ini tak terlalu gelap karena cahaya yang masuk dari ventilasi.
Tangan Cellia meraih sebuah bingkai foto. Cellia membersihkan bingkai itu dari debu. Di dalamnya terdapat foto seorang gadis kecil dengan rambut pendek yang sedang merangkul anak laki laki, itu adalah fotonya dan Gio.
Brakkk
Cellia menoleh kearah lukisan yang jatuh itu. Tak ada angin, tiba tiba lukisan itu jatuh. Cellia berjalan menghampiri lukisan itu. Dengan perasaan was was, Cellia membalik lukisan itu.
Tiba tiba mata wanita itu bergerak, dia menatap Cellia dengan tajam. Seketika Cellia tersedot masuk kedalam lukisan itu, dan berakhir di sebuah kerajaan kuno.
Cellia merasa heran, sejak kapan hody dan celana levisnya berganti dengan kebaya dan jarik. Bahkan wajahnya sudah di rias bak pengantin jawa.
"Nimas, sudah saatnya" ucap seorang perempuan yang berdandan bak pagar ayu.
Perempuan itu menggandeng Cellia berjalan ke luar kamar. Ada apa ini, namun mulutnya terasa terkunci.
Cellia dituntun untuk menaiki sebuah andong yang sudah di hias sedemikian rupa. Kusir yang berada di depan melecuti si kuda, membuat kereta ini berjalan perlahan.
Ditengah perjalanan hendak melewati hutan, kereta yang ditumpangi Cellia dihadang oleh semumpulan orang berbadan kekar.
Para iring iringan prajurit segera mengeluarkan senjata dari sabuknya. Mereka berjaga mengelilingi kereta Cellia. Orang orang penghadang itu melemparkan sebuah serbuk yang seketika menjadi asap.
Dalam kabut itu, seseorang membawa Cellia tanpa sepengetahuan orang orang. Setelah beberapa saat, seorang dayang baru menyadari bahwa nona mereka hilang.
Bersamaan dengan kabut yang hilang, para pria berbadan kekar pun sudah tak tampak lagi.
"Tolong. Nimas hilang, tolong !"
Salah satu prajurit datang menghampiri kereta yang tadi di tumpangi Cellia.
__ADS_1
"Ada apa"
"Nimas tidak ada di dalam kereta, sepertinya dia dibawa oleh seseorang" jelas pelayan yang bersama Cellia tadi.
"Semuanya, cari Nimas sampai dapat. Kalau tidak, Baginda Raja akan murka"
Setelah menerima perintah, semua prajurit berpencar masuk kedalam hutan.
******
Ditempat lain, seorang pria berpakaian hitam berlari dengan cepat. Cellia yang berada di gendongannya, hanya bisa mematung.
Cellia berusaha mencerna kejadian, awalnya dia berada di kereta dan sebuah kabut membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Tiba tiba seseorang masuk kedalam dan menggendongnya, semua gerakan orang itu begitu cepat.
Tanpa Cellia sadari, orang itu sudah berhenti berlari.
"Jangan memandangiku" Ucapan pria itu membuat Cellia tersadar, dia segera mengalihkan pandangannya.
"Tempatmu bukan disini" sambungnya.
"Gue kagak tau ini dimana, kenapa lo nyulik gue" akhirnya Cellia bisa meneluarkan suara.
"Engkau adalah calon istriku. Tak mungkin aku membiarkanmu menikahi orang lain" balas pria itu dengan nada dingin.
"Haa..."
Belum sempat Cellia bertanya lebih lanjut, pria itu kembali membawanya berlari dan bersembunyi dengan cepat. Cellia yang berada di gendongannya pun terlonjak kaget.
Saat hendak protes, Cellia mendengar langkah kaki orang. Dari rerumputan ini Cellia melihat beberapa pria sedang mencari sesuatu.
"Aku benar benar mencium aroma itu, tidak mungkin salah. Baguslah, dia sendiri yang menyerahkan diri. Hahaha"
Suara tawa yang mengerikan itu membuat bulu kuduk Cellia meremang, dengan reflek Cellia mengeratkan pelukannya pada leher pria tadi dan menenggelamkan wajah ke dadanya.
Setelah sekelompok orang itu pergi, Cellia dan pria itu keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Apakah begitu nyaman di dadaku ini"
Ucapan pria itu membuat Cellia tersadar akan posisinya yang begitu intim. Dengan cepat Cellia melompat turun dari gendongan si pria aneh itu. Cellia berjalan meninggalkan pria itu.
"Mau kemana ?" teriak pria itu.
"Pulang"
"Emang tau jalan pulang ?"
Dengan merutuki kebodohannya, Cellia berbalik dan berjalan menghampiri pria tadi.
Baru dua langkah Cellia berjalan, sebuah anak panah melayang dengan cepat. Karena instingnya yang tajam, Cellia dapat menghindari panah yang sengaja di layangkan tepat di dada kirinya.
__ADS_1
Alhasil panah itu mengenai lengan Cellia. Darah mulai keluar dari lengan yang terluka itu. Anehnya, Darah itu tidak berbau amis, melainkan harum bagai bunga.